Trend Teknologi Mengubah Perbankan Dimasa Depan

Produk dan layanan digital perbankan yang dulunya dianggap inovatif dan canggih, kini menjadi hal yang umum digunakan oleh nasabah.

Tayang:
Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Istimewa/Dok. File Pribadi Anto Dilana
Mahasiswa S2 FEB Universitas Tanjungpura, Anto Dilana. (Dok. File Pribadi Anto Dilana) 

Penulis : Anto Dilana

Mahasiswa S2 FEB Universitas Tanjungpura

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, MEMPAWAH - Mahasiswa S2 FEB Universitas Tanjungpura, Anto Dilana, menuangkan pemikirannya mengenai "Trend Teknologi Mengubah Perbankan Dimasa Depan, Senin 5 Desember 2022. Berikut pemikiran Anto Dilana.

Teknologi terus berubah, dan bagi bank khususnya hal ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari adaptasi bisnis yang semakin kompleks untuk terus diabsorbsi keberadaannya.

Produk dan layanan digital perbankan yang dulunya dianggap inovatif dan canggih, kini menjadi hal yang umum digunakan oleh nasabah.

Banyak istilah-istilah yang lebih dikenal dengan jargon “beli sekarang, bayar nanti” tiba-tiba menjadi hal yang lumrah terjadi.

KONI Mempawah Sampaikan Terimakasih Atas Bonus yang Diberikan Pemkab Kepada Atlet Berprestasi

Berprestasi di Ajang Porprov dan Diganjar Bonus, Berikut Perolehan Medali Kontingen Mempawah

Artificial Intelligence yang canggih dan prediktif, penggunaan mesin layanan dibank-bank, dan pengamankan barang digital di metaverse adalah beberapa trend teknologi bank terkini yang wajib dipertimbangkan oleh lembaga keuangan dalam rangka menetapkan prioritas bisnis untuk tahun 2023.

Jika kita melihat pada satu dekade ke belakang, teknologi tidak pernah lebih penting bagi lembaga keuangan khususnya perbankan itu sendiri, dan itu berlaku untuk bank-bank yang memiliki basis nasabah yang besar.

Pola persaingan yang semakin ketat dari perusahaan keuangan dan non-keuangan, serta ekspektasi konsumen yang terus meningkat, strategi-strategi baru berdasarkan prinsip-prinsip keuangan secara tidak langsung membentuk bagaimana layanan keuangan itu diberikan.

Tidak bisa dipungkiri lagi Teknologi yang menjadi acuan beberapa tahun yang lalu, seperti APIs dan cloud computing, menjadi hal yang biasa. Lain halnya denga Artificial Intelligence, terus menjadi trend teknologi teratas karena potensinya sejauh ini belum dimanfaatkan secara luas.

Dengan demikian, ada beberapa teknologi terpenting yang harus menjadi fokus bank dan segmen usaha didalamnya berdasarkan kajian dari analis teknologi keuangan terkemuka, diantaranya:

1. Menggunakan ArtificiaI.

Intelligence dan Analisis untuk memberikan Private Services
Layanan private adalah jurus pamungkas bagi seorang marketing untuk mengakuisisi dan menjaga agar nasabah tetap loyal.

Namun sebagian besar masih merasa tidak percaya diri dengan kemampuan mereka untuk memberikan pengalaman yang benar-benar personal.

Untuk mengatasi masalah ini, lembaga keuangan perlu lebih banyak menggunakan Artificial Intelligence, penguasaan teknologi, dan analisis prediktif untuk memberikan penawaran yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan, (Capgemini dalam Technovision 2022).

Ketersediaan data berdasarkan waktu (misalnya, riwayat pencarian) yang terkait dengan setiap pelanggan membantu membangun profil pelanggan secara utuh, memastikan profiling pelanggan diperoleh dari setiap interaksi, sehingga membuka peluang baru bagi Lembaga Keuangan untuk memaksimalkan produk yang ditawarkan.

Capgemini menambahkan bahwa perusahaan keuangan harus mengintegrasikan kemampuan pengambilan dan analisis real time dengan pengalaman yang dialami pelanggan.

Sebagai contoh, perusahaan memberikan penawaran kredit yang dikhususkan untuk nasabah tertentu dapat diintegrasikan dengan perusahaan e-commerce dengan mempertimbangkan penilaian risiko kredit dan perilaku pelanggan.

Untuk mencapai hal ini, Capgemini menyarankan agar aplikasi canggih diperlukan dengan catatan tidak statis tetapi terus menerus update.

Banyak aplikasi yang pernah ada bermetamorfosis menjadi jaringan layanan mikro yang terintegrasi dengan perubahan permintaan dan kebutuhan dari pelanggan.

Untuk merespon permintaan yang berubah dengan cepat, mempersonalisasi pengalaman, pengambilan keputusan secara real-time, dan memungkinkan inovasi seputar layanan transaksi, dibutuhkan aplikasi ini berbasis cloud untuk menjembatani usaha inti dan layanan mikro.

2. Sistem Perbankan Otonom Self Service.

Lembaga keuangan akan menggunakan program self learning computer untuk melayani situasi yang dihadapi pelanggan (Gartner trend teknologi perbankan 2022).

Gartner menyebut program ini "sistem otonom" dan menggambarkannya sebagai sistem fisik atau perangkat lunak yang dikelola sendiri yang sistem pembelajarannya diambil dari lingkungan mereka dan secara dinamis memodifikasi algoritme mereka sendiri secara real-time untuk mengoptimalkan perilaku mereka dalam ekosistem yang kompleks.

Saat ini, sistem otonom sebagian besar berbasis perangkat lunak dalam konteks perbankan. Namun, robot humanoid muncul di Kantor Layanan Perbankan yang merupakan contoh sistem otonom berbasis perangkat keras yang melayani klien dan pelanggan.

Hal ini dapat diterapkan dalam manajemen utang otonom, asisten keuangan pribadi, dan pinjaman otomatis dan menggambarkan sistem otonom sebagai solusi jangka panjang yang memberikan opsi baru untuk transformasi bisnis dalam layanan keuangan.

3. Memanfaatkan Kekuatan. Ekosistem Perbankan

Munculnya konsep open banking dan embedded finance telah membawa gagasan bank sebagai fasilitator ekosistem ke depan.

Semua topik terkait ini adalah trend bisnis merupakan manifestasi dari trend teknologi, tetapi seperti banyak perkembangan perbankan, perubahan teknologi adalah katalisnya.

Bank akan memainkan peran yang lebih besar dalam ekosistem di tahun-tahun mendatang, baik dengan menawarkan pelanggan mereka sendiri akses ke produk dan layanan pihak ketiga, serta memfasilitasi keuangan didalamnya.

Contohnya membantu produsen mobil untuk menawarkan layanan berlangganan dan memungkinkan pelanggan perusahaan telekomunikasi untuk membebankan biaya sewa film dan konten lainnya ke tagihan telepon mereka, berdasarkan analisis dari Ernst and Young (EY) Responden layanan keuangan yang disurvei oleh EY mengungkapkan bahwa peningkatan efisiensi dan pengurangan biaya, memperluas ke area bisnis baru dan menciptakan produk baru bersama dengan perusahaan lain.

Jelas ini bisa menjadi kesempatan yang signifikan bagi lembaga keuangan yang mampu merangkul dan mendukung layanan aplikasi tersebut.

Untuk memulai lingkungan ekosistem, hendaknya bank memikirkan apa yang diinginkan pelanggan dari mereka dan mitra apa yang dapat membantu mereka memenuhi kebutuhan itu.

Bank kemudian perlu mendefinisikan peran mereka dalam ekosistem tersebut, dan memastikan bahwa baik infrastruktur teknologi maupun visi perusahaan bisa saling support satu sama lain.

Dengan mengidentifikasi di mana dan bagaimana sebuah ekosistem dapat menambah nilai, definisikan peran Anda, dan bertransformasilah untuk mewujudkannya.

Perusahaan jasa keuangan memiliki roadmap yang akan memungkinkan mereka mempermudah keuangan bagi mitra ekosistem dan pelanggan akhir mereka dan Itu akan semakin membuat penyedia jasa keuangan menjadi kunci untuk memberikan nilai bagi ekosistem.

4. Dampak Metaverse pada Aset. Digital, Tempat Kerja, dan CX

Ada begitu banyak hype tentang metaverse sehingga mudah untuk memasukkannya sebagai "worry about later". Namun, banyak pengamat percaya bahwa langkah itu akan menjadi kesalahan bagi lembaga keuangan. Salah satu alasannya adalah bahwa "metaverse" mencakup lebih dari sekadar konsep populer tentang headset dan game virtual.

Meskipun tidak ada definisi yang jelas dan sederhana untuk "metaverse", istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan iterasi internet di masa depan, terdiri dari ruang virtual 3D yang persisten, dibagikan dan terhubung ke alam virtual yang dirasakan.

Terlepas dari penekanan pada masa depan, metaverse sudah ada dalam berbagai cara, beberapa di antaranya relevan dengan lembaga keuangan.

Munculnya blockchain, aset digital non-tradisional, dan produk virtual di metaverse akan mengarah pada proliferasi mesin digital yang perlu disimpan dengan aman oleh pihak yang membutuhkan. Bank dapat memainkan peran kunci dalam memfasilitasi transaksi di ranah digital dan membantu konsumen menyimpan aset digital, di mana non-fungible tokens (NFT) merupakan bagian yang berkembang.

Dengan blockchain yang memungkinkan monetisasi metaverse, perusahaan berkreasi untuk memfasilitasi dan berkreasi perihal aset digital untuk persediaan.

Beberapa perusahaan teknologi terbesar memperluas platform online mereka di mana orang dapat bekerja, bermain game, dan bersosialisasi, sementara perusahaan konsumen terkenal membuat NFT untuk dijual.

Di platform yang menjual ranah digital, mereka juga membuat versi online dari produk mereka.

Transaksi berbasis Blockchain di metaverse menimbulkan kemungkinan yang menarik untuk perbankan dan menjadikan trusted custodian aset digital adalah kemungkinan utamanya.
Di luar aset digital, metaverse akan mempengaruhi bank dan segmentasi didalammnya di dua bidang utama, antara lain:

1. Metaverse akan mengubah masa depan dunia kerja, dengan bentuk kolaborasi virtual yang jauh lebih imersif serta pembelajaran dan pengembangan yang lebih interaktif. Hal ini memungkinkan munculnya "kembar digital" berkemampuan Artificial Intelligence dengan rekan kerja virtual yang dapat menangani pekerjaan berulang.

2. Metaverse memiliki potensi besar untuk membawa keterlibatan pelanggan ke tingkat yang baru tidak hanya dipersonalisasi tetapi dengan kemampuan yang lebih besar untuk melibatkan konsumen secara emosional.

Contoh sederhana termasuk memungkinkan pelanggan untuk menjelajahi rumah impian mereka secara virtual, dalam 3D, atau duduk di kursi pengemudi versi virtual dari mobil yang ingin mereka beli, melebihi apa yang mungkin dilakukan saat ini. (*)

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved