Studi Banding Restorasi Gambut Berbasis Masyarakat dan Pengembangan Lahan Gambut di Kubu Raya

Wiyono berharap melalui studi banding ini bisa semakin banyak wilayah yang cinta penghijauan dan pengelolaan lahan gambut tanpa membakar lahan.

Penulis: Muhammad Rokib | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Istimewa
Studi Banding Restorasi Gambut Berbasis Masyarakat di Desa Limbung Kubu Raya Kalbar, pada Sabtu 3 Desember 2022. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBURAYA - Tim Tropenbos Indonesia melakukan Studi Banding Restorasi Gambut Berbasis Masyarakat dan pengembangan lahan gambut di Desa Limbung, Sungai Raya, Kubu Raya, Kalbar, pada Sabtu 3 Desember 2022.

Studi banding tersebut dilaksanakan dalam rangka untuk menambah wawasan dan pengetahuan, serta meningkatkan pemahaman tentang pengelolaan lahan gambut yang baik dan berkelanjutan.

Untuk itu, Tropenbos Indonesia memfasilitasi masyarakat dan beberapa pemangku kepentingan lainnya untuk melakukan studi banding ke Desa Limbung Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya dan Desa Sungai Jawi, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Studi banding tersebut dilaksanakan pada 3-4 Desember 2022 yang berlangsung selama satu hari penuh di desa Limbung dan dilanjutkan satu hari berikutnya di Desa Sungai Jawi.

Kejurnas Tanjungpura Kubu Raya Shooting Championship Digelar, Diikuti 506 Atlet dari 15 Provinsi

Pekerja di Pontianak dan Kubu Raya Harap Penyesuaian UMK Sepadan dengan Kebutuhan Masyarakat

Melalui kegiatan ini, para pemangku kepentingan di Lanskap Pawan-Pesaguan -- yang merupakan lanskap kerja Tropenbos Indonesia di Ketapang, Kalimantan Barat -- memperoleh kesempatan untuk mempelajari banyak hal di Desa Limbung yang didatangi sebagai inspirasi dan pembanding dalam menerapkan pengetahuan tentang teknik restorasi dan pengembangan ekonomi di lahan gambut sekembali ke desa masing-masing.

Mereka yang ikut serta dalam studi banding ini adalah perwakilan petani dan pemerintah desa dari 4 desa, yaitu Desa Sungai Pelang, Sungai Besar, Sungai Bakau, dan Pematang Gadung; anggota Formad Lingkar, Sekretariat Bersama PSDA, BRGM, dan sejumlah instansi pemerintah di Kabupaten Ketapang.

Dalam studi banding ini, peserta melihat secara langsung tata kelola lahan dan pemilihan jenis tanaman untuk restorasi gambut dan pengembangan usaha oleh masyarakat untuk meningkatkan perekonomian, yang berasal dari produk hasil hutan bukan kayu.

Pada kesempatan yang sama, peserta juga memperoleh kesempatan untuk berdiskusi dengan masyarakat dan menggali informasi seputar kegiatan restorasi yang dilakukan, teknik pembasahan dan penanaman, serta pembangunan sekat kanal dan upaya menghadapi tantangan yang ada dalam proses restorasi yang dillakukan serta dukungan pemerintah desa melalui Peraturan Desa (Perdes).

Studi Banding tersebut digelar juga sebagai bentuk menghadapi, semakin maraknya praktik-praktik pemanfaatan kawasan gambut yang merusak ekosistem seperti penambangan ilegal, penebangan kayu tanpa izin, perambahan untuk lahan pertanian, maupun pertanian monokultur dan kepentingan ekonomi lainnya, menyebabkan makin besarnya kerusakan lahan gambut yang terjadi.

Semakin seringnya banjir di musim hujan dan kekeringan berkepanjangan yang menimbulkan kebakaran di musim kemarau hanyalah sebagian dari tanda-tanda kerusakan ekosistem gambut yang terjadi.

Ini semestinya bisa menjadi peringatan akan pentingnya penerapan tata kelola lahan gambut berkelanjutan. Langkah-langkah antisipasi juga diperlukan untuk mencegah memburuknya kerusakan yang terjadi, serta langkah-langkah pemulihan yang tentunya memerlukan partisipasi dan keterlibatan berbagai pihak, khususnya masyarakat local dan aparat setempat.

Di Lanskap Pawan Pesaguan Tropenbos Indonesia juga telah memperkenalkan teknik pencegahan kebakaran hutan dan lahan, pembentukan forum para pemangku kepentingan untuk melakukan kolaborasi dan koordinasi dalam pencegahan kebakaran dan pembentukan patroli pantau gambut, peningkatan kapasitas masyarakat dalam penerapan praktik pertanian yang baik dan berkelanjutan, termasuk pembukaan dan pembersihan lahan tanpa bakar, tata kelola gambut dengan mempertahankan kebasahan gambut melalui pembangunan sekat kanal, dan restorasi lahan gambut yang terdegradasi dengan pemilihan tanaman-tanaman lokal.

Tropenbos Indonesia melaksanakan kegiatan studi banding ini di bawah payung program Working Landscape (WL) yang melaksanakan beragam kegiatan sebagai inisiatif untuk menahan laju perubahan iklim melalui praktik pengelolaan lahan yang produktif dan adaptif dengan senantiasa mengedepankan prinsip-prinsip tata kelola lahan berkelanjutan, termasuk di lahan gambut. Dengan demikian, upaya meningkatkan produktivitas lahan dan upaya pengembangan perekonomian masyarakat tetap dapat berjalan selaras dengan upaya pelestarian lingkungan dan bersifat ramah iklim.

Kepala Desa Limbung, Wiyono berharap melalui studi banding ini bisa semakin banyak wilayah yang cinta penghijauan dan pengelolaan lahan gambut tanpa membakar lahan.

Saat ini, Desa Limbung merupakan salah satu Desa percontohan Badan Restorasi Gambut (BRG) di Kalbar.

"Kita harapkan semakin banyak desa yang peduli tentang lingkungan hijau, lingkungan yang indah, bebas tanpa asap, karena memang semakin banyak yang hijau, maka Bumi Kalimantan semakin indah. Yang sering saya sampaikan adalah membangun beradaban jauh lebih mulia daripada membangun kekayaan," ungkapnya.

Menurut Wiyono, di Desa Limbung sudah ada Perdes yang mengatur tentang pengelolaan lahan gambut termasuk larangan membakar hutan dan lahan sebagai bentuk tindaklanjut dari pemerintah Kabupaten dan Pusat. (*)

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved