Sekretaris KPA Pontianak Ungkap 2 Faktor Utama Peningkatan Kasus HIV/AIDS

Menurutnya, penularan kasus HIV/AIDS melalui transmisi seksual menempati peringkat pertama faktor resiko tertinggi, baik laki-laki dengan perempuan ma

Penulis: Muhammad Rokib | Editor: Faiz Iqbal Maulid
Istimewa
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Pontianak membeberkan dua faktor utama peningkatan kasus HIV/AID. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Pontianak, Lusi Nuryanti menyampaikan, bahwa prostitusi online hetero dan homoseks berpengaruh terhadap peningkatan kasus HIV/AIDS.

Menurutnya, penularan kasus HIV/AIDS melalui transmisi seksual menempati peringkat pertama faktor resiko tertinggi, baik laki-laki dengan perempuan maupun laki-laki seks dengan laki-laki perempuan. Sedangkan seks perempuan kasusnya sangat kecil dan jarang ditemui

"Saat ini teman-teman petugas menjangkau dilapangan selain bergerak ke hotspot, tetapi juga melakukan virtual outreach," ujarnya, Rabu 30 November 2022.

Bahkan dalam melakukan skrining, pihaknya juga menggunakan pula tes HIV melalui mukosa dan melalui mulut sehingga target yang akan di tes bisa lebih privasi tanpa diambil melalui darahnya.

"Namun jika reaktif, maka wajib konfirmasi tes lagi ke layanan statis di Puskesmas atau Rumah Sakit. Akan tetapi keakuratan alat ini 99 persen," jelasnya.

Transmisi Seksual Menjadi Faktor Tertinggi Penularan HIV/AIDS

Problematika HIV AIDS di Kota Singkawang dan Kabupaten Sanggau

Skrining itupun dilakukan secara rutin ke lapangan. Sehingga target yang ditentukan diharapkan bisa tercapai.

"Tantangan kita untuk menuju 3 zero 2030 adalah di pencegahan melalui transmisi seksual. Saat ini kami gencar agar odha minum ARV, karena obat ini juga dapat menekan jumlah virus agar sehat odhanya dan tidak menularkan ke orang lain," jelasnya.

Ia menyampaikan, dari data Dinas Kesehatan update terkahir terdapat 55 kasus pada tahun 2022 ini. Angka ini menurun dibandingkan dengan jumlah pada tahun 2021 yang berkisar di angka 81 orang.

Hasil dari screnning yang dilakukan, 55 orang ini terbagi dari pekerjaan, swasta sebanyak 41 kasus, ibu rumah tangga 2 kasus, mahasiswa 5 orang. Selebihnya umum.

ODHA butuh dukungan penuh

Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) membutuhkan dukungan penuh dari keluarga dan orang terdekat.

Demikian diungkapkan, Ns. Neny Yusmaniarni yang merupakan Konselor HIV/AIDS Klinik Mawar RSUD Abdul Aziz Singkawang.

Menurut penuturan Neny, banyak penderita HIV/AIDS mengalami depresi, akibat dikucilkan dan tidak mendapat dukungan dari keluarga maupun orang terdekatnya.

Tidak jarang, mereka yang mengalami depresi nekat ingin mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri akibat dari dampak psikologi tersebut.

"Banyak yang datang ke saya, kemudian curhat ingin bunuh diri," kata Neny Yusmaniarni kepada wartawan, Rabu 30 November 2022.

Cek berita dan artikel mudah diakses di Google News

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved