Lokal Populer

Problematika HIV AIDS di Kota Singkawang dan Kabupaten Sanggau

Populasi resiko tinggi lanjutnya, adalah pasangan orang dengan hiv, laki-laki suka laki-laki, waria, pelanggan psk, wanita penjaja sex dan pria penjaj

Dok. Tribun Pontianak
Ilustrasi HIV AIDS - Banyak penderita HIV/AIDS mengalami depresi akibat dikucilkan dan tidak mendapat dukungan dari keluarga maupun orang terdekatnya 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau Sarimin Sitepu menyampaikan bahwa hingga Oktober 2022, sebanyak 62 kasus positif HIV AIDS di Kabupaten Sanggau.

Dari kesemuanya itu, 14 diantaranya AIDS dan 4 orang meninggal dunia.

"Didominasi oleh usia 24-49 tahun. Ada juga bayi yang positif yaitu 2 kasus. Kalau berdasarkan pekerjaan, didominasi oleh populasi risiko tinggi," katanya, Rabu 30 November 2022.

Populasi resiko tinggi lanjutnya, adalah pasangan orang dengan hiv, laki-laki suka laki-laki, waria, pelanggan psk, wanita penjaja sex dan pria penjaja sex.

Seusai Viral Akhirnya Jembatan Gantung Permanen di Desa Sebadak Sintang Selesai Dibangun

Sementara terkait data kasus 5 tahun terakhir yaitu tahun 2017 sebanyak 32 kasus, tahun 2018 sebanyak 28 kasus, tahun 2019 sebanyak 58 kasus, tahun 2020 sebanyak 62 kasus, tahun 2021 sebanyak 48 kasus dan 2022 sebanyak 62 kasus (Sampai Oktober 2022).

Kemudian, total kumulatif 5 tahun terakhir adalah 228 kasus, laki-laki sebanyak 145 kasus dan perempuan sebanyak 83 kasus.
"Dari semuanya itu, pasangan orang dengan HIV-AIDS (ODHA) 93 kasus, pelanggan penjaja sex sebanyak 68 kasus dan lain-lain sebanyak 67 kasus,"jelasnya.

Oleh karenanya, kedepan pihaknya pun menyiapkan langkah-langkah untuk mencegah terjadi kasus HIV yang baru.

"Langkah-langkah yang dilakukan Dinkes untuk mewujudkan bebas HIV ditahun 2030 adalah melaksanakan deteksi dini secara masif kepada kelompok beresiko, sehingga lebih cepat ditemukan dan diobati untuk mencegah kasus baru,"tuturnya.

Selain itu, membentuk tim perawatan dan pengobatan di Puskesmas untuk memudahkan pasien untuk mendapatkan obat, sosialisasi pencegahan, penularan dan pengobatan HIV pada setiap kesempatan oleh petugas di Puskesmas dan menghilangkan stigma negatif di masyarakat.

"Kita juga imbau kepada masyarakat agar setia pada pasangan dan memakai kondom untuk melakukan sex beresiko," pungkasnya.

Klasemen Akhir Piala Dunia 2022 Grup D Usai Prancis Tumbang, Australia Jadi Wakil Asia Lolos

Ingin Akhiri Hidup

Penderita penyakit HIV/AIDS membutuhkan dukungan penuh dari keluarga dan orang terdekat.

Hal itu diungkap oleh Konselor HIV/AIDS Klinik Mawar RSUD Abdul Aziz Singkawang, Neny Yusmaniarni.

Menurut Neny, banyak penderita HIV/AIDS mengalami depresi akibat dikucilkan dan tidak mendapat dukungan dari keluarga maupun orang terdekatnya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved