Khazanah Islam
Arti dan Penjelasan Israf, Sifat Tercela yang Harus Dihindari Hartawan
Secara istilah melampaui batas (berlebihan) dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang dilakukan seseorang di luar kewajaran atau kepatutan.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Sesuatu hal yang berlebihan sangat dilarang dalam Islam.
Apalagi jika menggunakan harta untuk berfoya-foya hal tersebut dikenal dengan istilah Israf
Berlebih-lebihanan, dalam Bahasa Arab disebut dengan kata Asrafa – Yusrifu – Israafan berarti bersuka ria sampai melewati batas.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, melampaui batas (berlebihan) diartikan melakukan tindakan di luar wewenang yang telah ditentukan berdasarkan aturan (nilai) tertentu yang berlaku.
Secara istilah melampaui batas (berlebihan) dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang dilakukan seseorang di luar kewajaran atau kepatutan.
• Arti, Tanda, dan Bahaya Tamak dalam Kehidupan Bermasyarakat
Israf juga dapat berarti menggunakan harta untuk sesuatu yang benar namun melebihi batas yang dibenarkan, misalnya makan atau minum secara berlebihan.
Sikap dan perilaku berlebihan merupakan salah satu penyakit ruhani yang sangat merugikan diri manusia itu sendiri.
Alquran maupun hadiś di atas menjelaskan secara tegas larangan makan dan minum, berpakaian dan bersedekah secara berlebihan.
Sesuatu yang dilarang oleh Allah dan Rasul, di dalamnya pasti ada madharatnya bagi manusia.
Oleh karena itu Islam menganjurkan hidup sederhana dan tidak berlebih-lebihan.
Contoh Perilaku Israf
a. Israf dalam makan dan minum, misalnya mengkonsumsi makanan melebihi nutrisi yang dibutuhkan tubuh.
Termasuk dalam kategori ini adalah bermewah-mewahan dalam makan dan minum.
b. Israf dalam berpakaian, misalnya memakai pakaian dengan mode pakaian yang justru tidak sesuai dengan syari’at, misalnya terlalu panjang atau terlalu kecil.
c. Israf dalam penggunaan air, misalnya mencuci pakaian dengan menggunakan air yang berlebihan atau membiarkan kran air terbuka sehingga air terbuang percuma.
d. Israf dalam penggunaan listrik, misalnya tidak mematikan lampu setelah selesai dipakai, tidak mematikan kipas angin setelah tidak dipakai, dsb.
e. Israf dalam penggunaan alat komunikasi, misalnya mengobrol dengan ponsel berlama-lama, main game online dan sejenisnya sehingga melupakan waktu istirahat, waktu belajar dan waktu ibadah.
f. Israf dalam ibadah, misalnya melaksanakan salat lail semalam suntuk sehingga ketiduran dan tidak melaksanakan salat subuh.
g. Berlebih-lebihan dalam segala perbuatan mubah sehingga mengalahkan yang sunnah dan yang wajib.
Perilaku israf merupakan salah satu perwujudan dari sikap ingkar terhadap nikmat Allah. Betapa tidak, Allah memberikan rezeki yang berupa harta, usia, kesempatan, dll.
Agar dipergunakan sesuai dengan manfaatnya dan dalam takaran yang wajar, tidak boleh berlebih-lebihan. Apabila melampaui manfaatnya dan takaran yang wajar, maka akan memunculkan ketidakseimbangan pada individu yang bersangkutan maupun lingkungan.
Misalnya orang yang diberi kecukupan rezeki.
Maka rezeki yang dimilikinya tersebut harus digunakan sesuai dengan kebutuhan yang ada, bukan didasarkan kepada faktor kesenangan sehingga memicu perbuatan berlebih-lebihan.
Yang paling mudah memahami permasalahan ini adalah dengan mencontohkan bagaimana seharusnya mengkonsumsi makanan.
Kebutuhan asupan gizi dan nutrisi dalam tubuh manusia itu sudah ada takarannya.
Apabila asupan gizi dan nutrisi tersebut sudah terpenuhi sesuai dengan takarannya maka sebenarnya sudah cukup.
Jika manusia mengkonsumsi makanan yang melebihi kebutuhan gizi dan nutrisi tubuhnya maka akan mengakibatkan munculnya berbagai penyakit.
• Arti, Tanda, dan Bahaya Tamak dalam Kehidupan Bermasyarakat
Perilaku israf juga dapat memunculkan kecemburuan sosial yang dapat memicu kerawanan sosial.
Sebagaimana diketahui bahwa di tengah-tengah kehidupan masyarakat, ada yang miskin, ada yang kaya, dsb.
Apabila di lingkungan tersebut, ada prilaku dari si kaya yang berlebih-lebihan, maka akan membuat sakit hati bagi si miskin.
Dari situ akan muncul sikap cemburu sosial.
Kecemburuan sosial ini, apabila tidak segera diatasi maka akan memunculkan kerawanan sosial yang berupa disintegrasi sosial yang ditandai dengan renggangnya hubungan antar anggota masyarakat.
Kerenggangan hubungan sosial ini dapat memicu terjadinya konflik. Untuk itu hidup sederhana dan peduli terhadap lingkungan sangatlah penting.
Dalam kasus yang lain, Isrāf dapat menimbulkan perilaku rakus.
Dari perilaku rakus ini akan memicu perilaku buruk lainnya, yaitu menghalalkan segala cara untuk memenuhi kerakusannya itu.
Perilaku menghalalkan segala cara ini akan menimbulkan permasalahan sosial yaitu hilangnya kepedulian sosial.
Orang akan acuh-tak acuh atau tidak mempedulikan terhadap keadaan lingkungan sosial di mana dia hidup.
Apabila harta yang dimilikinya habis, maka orang yang terbiasa berlebihlebihan akan melakukan apapun, tidak mempedulikan norma-norma sosial, hukum, dan agama, yang terpenting adalah mendapatkan harta untuk memenuhi kesenangannya. (*)
Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News
Disclaimer : Isi redaksi dan pembahasan materi diatas dilansir dari buku siswa Madrasah Aliyah (MA/SMA) Terbitan Kementerian Agama tahun 2020.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Israf-juga-dapat-berarti-menggunakan-harta-untuk-sesuatu-dsfdsf-sd.jpg)