Sinto Tekankan Pentingnya Pengetahuan Masyarakat untuk Turunkan Stunting di Sintang
“Masyarakat bisa saja sudah memiliki WC, dan air bersih. Tetapi potensi untuk ditemukan stunting tetap ada," ujar Sinto.
Penulis: Agus Pujianto | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, Harysinto Linoh menekankan pentingnya pengetahuan masyarakat untuk menurunkan angka stunting.
Sinto menilai, wawasan dan pengetahuan masyarakat akan stunting dan gizi sangat menentukan dalam upaya menurunkan stunting di Kabupaten Sintang.
“Masyarakat bisa saja sudah memiliki WC, dan air bersih. Tetapi potensi untuk ditemukan stunting tetap ada," ujar Sinto.
Maka, kata Sinto yang sangat penting adalah memberikan pemahaman, wawasan dan kesadaran kepada masyarakat cara mengasuh anak, cara mengatasi stunting dan memberikan gizi yang cukup saat hamil dan kepada balita.
• Warga Kampong Seberang Sintang Tuntut Pemerintah Perbaiki Jalan dan Jembatan di Lima Kelurahan
“Kalau pengetahuan sudah baik, maka perbuatan mereka akan sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki. Kalau masyarakat sudah mengerti pentingnya punya air bersih dan adanya WC, pemerintah tidak perlu lagi melakukan intervensi, mereka akan membuat sendiri WC di rumah mereka dan membuat sumur,” beber Sinto.
Sinto menganalogikan seperti halnya pentingnya pulsa atau paket data. Apabila hal itu tidak diisi maka handphone tidak bisa digunakan.
"Masyarakat tahu bahwa kalau handphone tidak diisikan pulsa atau kuota, maka tidak akan ada gunanya. Maka mereka akan berusaha untuk mengisi pulsa dan kuotanya. Maka ketika mereka paham akan gizi, paham akan stunting, maka mereka akan dengan sendirinya berusaha akan memenuhi kebutuhan anak-anak mereka akan gizi,” ujar Sinto.
Tim Pakar Audit Stunting Kabupaten Sintang Adi Sulistiyanto menjelaskan bahwa menikah diusia remaja sangat erat kaitannya dengan pola asuh dan pemenuhan akan gizi anak karena ibunya belum memahami pola asuh yang baik sehingga anak tidak diberikan gizi yang cukup.
“Sehingga akan melahirkan anak-anak yang kurang gizi. Kami di Pusat Penatalaksana Gizi Buruk Kabupaten siap membantu melakukan intervensi terhadap kasus di Bancoh dan Kemantan,” ujar Adi Sulistiyanto.
Noverita Siboro seorang Psikolog anggota Tim Pakar yang lainya menyoroti hasil verifikasi yang menunjukan adanya pernikahan di usia remaja dan pendidikan orangtua. Menurutnya, menikah diusia muda dan hanya tamat SD dan SMP.
"Hal ini pasti akan mempengaruhi cara mereka menjaga kandungan dan mengasuh anak-anak mereka. Wawasan mereka masih minim, mereka kan masih remaja dan punya anak, emosi juga akan mempengaruhi,” beber Noverita Siboro. (*)
Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News