Pola Hidup Sehat

Apakah GERD Berbahaya? Apa yang Perlu Diwaspadai dari Penyakit Ini

jika Gerd tidak diobati secara tepat dapat menyebabkan kekambuhan dan komplikasi lainnya yang menurunkan kualitas hidup pasien.

ALICE S. / BSIP / BSIP VIA AFP
komplikasi peradangan tersebut dapat mengakibatkan munculnya luka hingga jaringan parut di kerongkongan, sehingga penderita menjadi sulit menelan. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Penyakit GERD memang tidak bisa membahayakan secara langsung.

Gastro Esophageal Reflux Disease (Gerd) adalah satu penyakit pada saluran cerna yang memiliki gejala khusus seperti sensasi terbakar atau panas di dada ( heartburn ) serta mulut terasa pahit.

Penyebab GERD sendiri yaitu refluks atau naiknya isi maupun asam lambung ke kerongkongan.

Kendati Gerd tidak mengancam jiwa secara langsung, penyakit ini bisa mengakibatkan beberapa komplikasi seperti peradangan pada saluran kerongkongan atau esofagus, bahkan meningkatkan risiko kanker esofagus.

Selain itu, jika GERD tidak diobati secara tepat dapat menyebabkan kekambuhan dan komplikasi lainnya yang menurunkan kualitas hidup pasien.

Mengapa Asam Lambung Berbeda dengan GERD?

"Apabila (Gerd) terjadi terus menerus, diabaikan, dan tidak diobati dengan benar dapat menyebabkan iritasi dan peradangan pada dinding dalam kerongkongan," ujar Dokter Spesialis Gastroenterologi FKUI-RSCM, Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, dalam diskusi virtualnya.

"Lama-kelaman (Gerd yang tidak diobati) akan menyebabkan luka kronis, penyempitan pada kerongkongan bawah, sampai terjadi kanker esofagus,” lanjutnya.

Prof Ari menambahkan, bahwa komplikasi peradangan tersebut dapat mengakibatkan munculnya luka hingga jaringan parut di kerongkongan, sehingga penderita menjadi sulit menelan.

Kondisi itu juga juga memicu beberapa permasalahan kesehatan seperti esofagitis, striktur esofagus, dan barretts’s esophagus. Ketiganya merupakan penyakit yang berisiko menyebabkan kanker esofagus.

"Gerd dapat menyebabkan kematian apabila sudah terjadi perubahan struktur esophagus dan bertransformasi menjadi kanker esofagus,” imbuhnya.

Faktor risiko Gerd yang memperbesar peluang seseorang menderita penyakit ini menurut Ari, di antaranya:

  • Obesitas
  • Kebiasaan merokok
  • Sering mengonsumsi makanan berlemak
  • Sering mengonsumsi minuman berkafein seperti kopi, dan minuman beralkohol
  • Gaya hidup tidak sehat seperti jarang bergerak maupun beraktivitas fisik
  • Mengonsumsi obat tertentu, misalnya aspirin
    Stres

Menurut Ari, pengobatan inti dari penyakit GERD ialah mencegah terjadinya kekambuhan pada pasien. Artinya, pasien perlu mendapatkan informasi untuk memahami faktor risiko serta pemicu Gerd.

Penjelasan Perut Bunyi Apakah Gerd ? Cek dari Penyebabnya Lapar atau Karena Makanan

Pada umumnya, penderita Gerd akan disarankan oleh dokter yang menangani untuk mengubah gaya hidup yang tidak sehat guna mencegah kambuhnya gejala Gerd.

Beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orang dengan Gerd untuk mencegah kekambuhan, kata Prof Ari meliputi:

  • Menurunkan berat badan
  • Berhenti merokok
  • Tidak langsung berbaring setelah makan
  • Makan dengan perlahan dan tidak terburu-buru
  • Tidak menggunakan pakaian yang terlalu ketat pada area pinggang
  • Diet rendah lemak
  • Menghindari makan yang mengandung cokelat, keju, lemak, dan tinggi garam
  • Menghindari terlalu sering mengonsumsi kopi dan minuman beralkohol
  • Pada kesempatan tersebut, Ari juga menyampaikan Gerd bisa disembuhkan dengan catatan bahwa pasien konsisten menjalani gaya hidup sehat, menghindari faktor risiko maupun pencetus terjadinya kekambuhan Gerd.

Arti Gerd Dalam Medis dan Seberapa Bahaya Dibandingkan dengan Penyakit Maag

Kapan Gerd harus diwaspadai?

Di sisi lain, Ari mengatakan bahwa terdapat kondisi Gerd yang patut diwaspadai dan harus segera mendapatkan pemeriksaan endoskopi guna memastikan kondisi kerongkongan maupun lambung.

Adapun beberapa kondisi dari penyakit Gerd yang harus diwaspadai antara lain:

  • Menderita Gerd di atas usia 40 tahun
  • Berat badan turun drastis
  • Wajah pucat tanpa sebab
  • Muntah darah
  • Tinja berwarna hitam
  • Tidak mampu menelan
  • Terasa sakit saat menelan
  • Memiliki riwayat keluarga dengan kanker esofagus atau kanker lambung

"Endoskopi saluran cerna untuk mendeteksi adanya perlukaan pada dinding dalam esofagus bagian bawah, adanya penyempitan, lesi pra-kanker atau kanker, dan adanya hiatal hernia. Pemeriksaan lanjutan berupa pemeriksaan pH metri impedans dan manometri, atau pemeriksaan radiologi sesuai indikasi," jelas Ari. (*)

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved