Reformasi Pendidikan, Adrianus Setujui Tes Skolastik Jadi Pembelajaran di Sekolah

Dan menurutnya jikalau disimak dari paparan mendikbud pada Kamis 8 September 2022 di Senayan terkait hal ini. memang semuanya bagus, Perubahan-perubah

TRIBUNPONTIANAK/HADI SUDIRMANSYAH
Anggota Komisi X DPR RI, Adrianus Asia Sidot. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Anggota Komisi X DPR RI menyarankan penerapan tes potensi skolastik perlu diikuti di sistem pembelajaran di Sekolah-sekolah.

Hal ini disampaikan Anggota Komisi X DPR RI DR Adrianus Asia Sidot yang menilai bahwa penerapan tes skolastik sebagai syarat masuk perguruan tinggi perlu diikuti dengan reformasi sistem pembelajaran di sekolah-sekolah.

Akan tetapi, DR Adrianus ini juga mengatakan metode ini harus di berlakukan secara perlahan dan diawali sosialisasi sebagai perkenalan.

"Jika hal ini berlakukan secara tiba tiba tanpa diiringi reformasi berpotensi tidak efektif kehadirannya. Bahkan berpotensi menimbulkan kekagetan di para siswa."ungkap Mantan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Landak pada Senin 19 September 2022 pada Tribun Pontianak

Dan menurutnya jikalau disimak dari paparan mendikbud pada Kamis 8 September 2022 di Senayan terkait hal ini. memang semuanya bagus, Perubahan-perubahan yang akan dilakukan itu bagus menurut dirinya Tapi itu tadi pengalaman-pengalaman di lapangan, kenyataan-kenyataan di lapangan, ini yang memang banyak hal yang harus diperbaiki dulu, baru memberlakukan model ini untuk masuk perguruan tinggi.

Inovasi dan Kreativitas Serta Keterlibatan Masyarakat Mampu Sukseskan Program Kota Tanpa Kumuh

Namun Legislator Partai Golkar Kalbar ini mengusulkan, kalau memang mau diberlakukan model tes skolastik, dapat diselenggarakan tahun depan atau dua tahun lagi. Adapun persiapannya dapat dilakukan mulai dari sekarang dan perlu ada konsistensi, baik dalam sistem pembelajarannya maupun sistem asesmen di sekolah tersebut. Sehingga, output yang dihasilkan pun benar benar hasil yang mengandalkan kemampuan siswa tersebut.

“Dengan tes potensi skolastik, sangat sangat setuju. Tetapi, tentu konsistensi ini yang perlu sistem asesmen di sekolah juga harus betul-betul di bangun sejak dini gitu loh. Sehingga mahasiswa begitu dia masuk mereka bukan lagi mengandalkan keberuntungan,” ujar Mantan Bupati Landak 2 periode ini

Adrianus pun menilai, reformasi sistem pembelajaran ini dapat mengasah kemampuan siswa itu dalam mengasosiasikan 1 pengetahuan dengan pengetahuan lain, yang kemudian membentuk kompetensinya. Sehingga hal ini menjadi hal yang diperlukan.

“Bukan hanya Transfer for Out of Knowledge saja, dari guru ke siswa, siswa disuruh menghafal, kalau dia bener 100, kalau salah ya nol, begitu. Sistem penilaian sekarang ini. Ya, itu menurut saya tidak akan berarti apa-apa,” terangnya.

Ia pun mewanti wanti agar Kemendikbud Ristek betul betul mengawasi pelaksanaan sistem yang baru tersebut. sebab pengawasan yang kurang pada perguruan tinggi yang kini berdiri secara otonom akan membuka peluang terjadinya korupsi pada penerimaan mahasiswa baru.

“Korupsi sekarang ini sangat dimungkinkan, terlebih di jalur mandiri. jalur mandiri ini ada nggak ukuran standar biaya yang harus dikeluarkan oleh orang tua oleh calon mahasiswa supaya bisa masuk,” jelasnya

Seperti di ketahui Tes Potensi Skolastik (TPS) adalah tes yang mengukur kemampuan kognitif yang mencakup penalaran umum, pemahaman bacaan dan tulisan, pengetahuan dan pemahaman umum, serta pengetahuan kuantitatif. Tes ini dilakukan dengan tujuan untuk mengukur kemampuan kognitif yang diperlukan bagi calon mahasiswa yang diprediksi mampu menyelesaikan studi di perguruan tinggi. (*)

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved