Perkenalkan Kuliner Indonesia, BRI Bawa Ikan Asap Iwaku ke Festival Pasar Tong-Tong di Belanda
Perkenalkan inovasi UMKM hingga ke luar negeri, BRI bawa ikan asap Iwaku untuk mengikuti pameran di Pasar Tong-Tong di Belanda.
Penulis: Fransisca Andeska Gladiaventa | Editor: Mikhael Gewati
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Usaha kuliner tradisional ikan asap asal Demak, Jawa Tengah (Jateng) dengan sentuhan inovasi pengalengan makanan ternyata mampu meraih sukses di pasar internasional.
Usaha kuliner dengan brand "Iwaku" itu dikembangan oleh Tejo Purwoto dan tampil di Festival Tong-Tong di Belanda. "Iwaku" merupakan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) binaan dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI).
Tejo Purwoto yang merupakan warga Desa Wono Sari, Kecamatan Bonang, Demak ini sebelumnya tak menyangka bisa ikut meramaikan festival budaya di Negeri Kincir Angin tersebut.
Hal itu berawal dari keikutsertaannya dalam sebuah pameran UMKM di Demak. Saat itu, ia bertemu dengan staf khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arya Mahendra Sinulingga.
“Kami ikut pameran UMKM di Demak dan bertemu dengan Pak Arya Sinulingga yang menyebut bahwa ternyata makanan tradisional bisa diproses dengan pengalengan tanpa pengawet dan siap saji. Dengan sistem ini, kami bisa ikut Festival Tong-Tong,” jelas Tejo dalam keterangan persnya, Senin (5/9/2022).

Sebagai informasi, sekitar 11 tahun lalu Tejo Purwoto bersama pelaku bisnis yang sama di desanya mulai menjalankan kelompok usaha. Langkah ini diiiringi dengan penguatan usaha melalui pembentukan Koperasi Serba Usaha (KSU) Asap Indah yang diketuai langsung oleh Tejo.
Kini, KSU Asap Indah memiliki anggota 76 pelaku UMKM dan mempekerjakan sekitar 350 tenaga kerja yang merupakan masyarakat di sekitar Desa Wono Sari. Imbasnya, KSU Asap Indah berhasil memutar roda ekonomi dengan perolehan omset sekitar Rp 750 juta per hari dengan bahan baku sebanyak 25 ton ikan.
Tejo bercerita, ide pengalengan ikan asap muncul pada 2021. Tujuannya agar makanan ini tak hanya bisa tahan dua hingga tiga hari. Ternyata, dengan proses pengalengan, ikan asap buatan KSU Asap Indah bisa bertahan lebih dari enam bulan tanpa perubahan rasa.
Dari situ, Tejo bersama dengan kelompok usahanya mulai memberanikan diri untuk melabeli produknya dengan brand Iwaku.
Ikan asap kalengan Iwaku diproduksi mencapai 2.500 kemasan untuk kebutuhan pasokan selama satu bulan. Dengan proses pengalengan seperti sarden, Tejo menyebutkan, permintaan dari pasar luar negeri mulai banyak berdatangan, seperti Amerika Serikat (AS), Jepang, dan Belanda.
Adapun seluruh proses produksi dilakukan secara mandiri dan tak lepas dari akses permodalan BRI. Tejo mengatakan, semua anggota koperasinya secara perorangan mendapatkan suntikan modal dari bank yang dikenal fokus dalam pemberdayaan UMKM tersebut.
“Untuk akses permodalan kami masih sendiri-sendiri. Secara perorangan 100 persen anggota koperasi kami nasabah BRI,” ujar Tejo.
Dalam acara pameran Pasar Tong-Tong, Iwaku telah memperbanyak varian ikan asap yang dikemas dengan pengalengan.
Hal itu bisa terjadi kerena Iwaku terus berinovasi melalui berbagai rasa, jenis bahan baku ikan yang lain, dan memperbanyak variasi produk sehingga punya daya tarik lebih besar.
Peran Rumah BUMN BRI Demak
Upaya Tejo untuk memperluas pasar pun tak lepas dari peran Ruman BUMN BRI Demak. Direktur Bisnis Kecil dan Menengah BRI Amam Sukriyanto mengatakan, BRI senantiasa melakukan pendampingan kepada UMKM untuk meningkatkan transaksi penjualan.