KPA Pontianak Catat 85 Orang Terpapar HIV/Aids Sepanjang 2021

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA Pontianak), Lusi Nuryanti menuturkan, dari temuan kasus tersebut ada dua penyebab penyebaran HIV AIDS

Penulis: Muhammad Luthfi | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Kalimantan Barat, gelar diskusi bersama Warga Perduli Aids (WPA) Kota Pontianak, di Cafe Daily Mixjon, Jl. KH Wahid Hasyim Kota Pontianak, Rabu, 31 Agustus 2021. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Pontianak, jumlah kasus baru HIV dan AIDS yang ditemukan fasyankes di Kota Pontianak tahun 2021 sebanyak 213 orang, dari 22.523 orang yang dites HIV. Dengan rincian, Kota Pontianak 85 orang, luar Kota Pontianak 128 orang, ARV 65 orang, dan meninggal dunia 4 orang.

Untuk di Kota Pontianak, 85 orang dengan HIV AIDS (Odha) berdasarkan profesi tercatat Swasta 47, Ibu Rumah Tangga 13, ASN 3, Mahasiswa/i 5, Pensiunan 1, Satpam 1, Honorer 1, Sopir 1, Tidak Bekerja 12, dan Bank 1. Dari temuan 85 kasus di tahun 2021 tersebut HIV 55 dan AIDS 30. 

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA Pontianak), Lusi Nuryanti menuturkan, dari temuan kasus tersebut ada dua penyebab penyebaran HIV AIDS di Kota Pontianak. 

Minimalisir Stigma Diskriminasi ODHA, WPA Pontianak Perkuat Kapasitas Warga Perduli AIDS

Pertama hubungan seksual dan yang kedua dikarenakan jarum suntik. 

“Hubungan seksual itu dibagi lagi, yang tertinggi pertama itu hubungan hetero (Hubungan laki-laki perempuan). Sehingga kasus HIV kebanyakan sekarang Ibu Rumah Tangga,” jelas Lusi.

Lanjut dia, untuk profesi IRT juga masih menjadi pertanyaan pihaknya. Apakah Ibu tersebut memang berprofesi sebagai IRT, atau memiliki profesi lainnya. 

Oleh karenanya KPA mengimbau kepada instansi yang melakukan pemeriksaan, untuk mengali lebih dalam tentang status dari pasien tersebut.

“Ini juga kita sampaikan ke puskesmas bahwa saat mengali pekerjaan klien begitu bilang Ibu Rumah Tangga jangan langsung percaya,” ungkapnya.

“Tanya lagi, berhubungan seks lebih dari satu orang tidak ? kalau kata dia iya, dia positif buka cabang lebih dari satu,” sambungnya.

Lusi menambahkan, penyebab penularan HIV kedua tertinggi di Kota Pontianak, yaitu homoseks.

Ia juga memberkan temuan baru saat pandemi Covid-19, terhadi penurunan jumlah Pekerja Seks Komersial (PSK) di Kota Pontianak, dari yang sebelumnya 600-an turun menjadi 300-an.

Sedangkan untuk homoseksual, dari yang 200-an naik menjadi 300-an. Hal tersebut yang menyebabkan kasus homoseksual menjadi salah satu penyebab tertinggi, penyebaran HIV di Kota Pontianak

“Jadi angka penularan HIV tertinggi di Kota Pontianak di gay. Karena kalau pemetaan kita itu, kurang lebih 300-an orang gay di Kota Pontianak,” bebernya.

“Jadi selama covid, pekerja seks itu turun dari 600-an jadi 300-an. Gay dari 200-an naik ke 300-an,” tambahnya.

Sementara di Kota Pontianak sendiri penyebaran melalui jarum suntik mengalami jumlah penurunan yang pesat.

Menurut Lusi, penurunan tersebut dikarenakan gencarnya pihak kepolisian dalam melakukan razia penjaringan narkoba.

“Jarum suntik alhamdulillah turun banget, karena kepolisian mungkin razia gencar ya. Sehingga putau kosong, trend penggunaan putau itu kosong,” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved