Menhub Minta Pemda Subsisi Harga Tiket Pesawat, Sutarmidji: Pemda Tak Mampu Subsidi Tiket
“Kalau beras alhamdulillah sudah beberapa bulan tidak menyumbang inflasi. Artinya beras kita stabil karena kita sudah bisa swasembada.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi meminta Pemda ikut saweran subsidi harga tiket. Namun sepertinya hal itu tak akan dilakukan di Kalbar. Gubernur Sutarmidji mengatakan Kalbar tak mampu jika harus ikut mensubsidi harga tiket pesawat.
“Kenaikan harga tiket pesawat yang tengah disoroti belakangan ini, itu menjadi ketentuan yang diatur oleh Kementrian. Terkait pemberian subsidi atau insentif untuk tiket pesawat, Pemerintah Daerah di Kalbar tidak akan mampu melakukannya,” kata Sutarmidji, Jumat 19 Agustus 2022.
Ia menambahkan, “Kalau tiket pesawat itu menjadi ketentuan Kementrian, kita tidak bisa memaksa. Tapi kalau disuruh memberikan subsidi kita juga tidak mampu. Misalnya mensubsidi tiket pesawat kan tidak mungkin, pasti akan ada yang protes nantinya.”
Ditemui seusai berolahraga di kawasan Gelora Khatulistiwa, Jumat (19/8), Sutarmidji mengatakan, “Masak yang disubsidi orang naik pesawat, walaupun itu bisa memacu untuk perekonomian. Nah itu kan kata kita, tapi bagaimana dengan masyarakat?”
Sebelumnya Presiden Jokowi mengkhawatirkan tingginya harga tiket pesawat berkontribusi pada inflasi. Sutarmidji mengatakan untuk arahan Presiden masalah inflasi ini ada yang menjadi kewajiban internal dan eksternal.
“Alhamdulillah inflasi kita masih di bawah nasional yakni di bawah 5 persen artinya, hanya pada April 2022 agak tinggi karena sektor energi seperti gas, BNM naik. Itu penyebabnya,” tegas Sutarmidji.
• Subsidi Tiket Pesawat, Gubernur Sutarmidji Tegaskan Daerah Tidak Akan Mampu
Jika daerah disuruh subsidi tiket pesawat, Sutarmidji pertanyakan apakah daerah seperti di Kabupaten Kapuas Hulu dan Sintang apakah mereka mampu untuk subsidi tiket pesawat.
“Masalahnya APBD mereka kecil, contohnya jangan jauh-jauh Kalbar itu lebih luas dari Kaltim. Tapi Kaltim APDB hampir Rp 13 triliun, Kalbar bahkan separuhnya tak sampai. Gimana mau subaidi ini itu,” tegas Sutarmidji.
Ia mengatakan, seharusnya bisa dilakukan dari sisi cost-cost untuk lending, take off, parkir pesawat dan sebagainya yang menjadi kewenangan dari Kementrian. Mengapa bukan itu saja yang dihapus, itu disubsidi. Kan Kementerian banyak duit, jangan suruh daerah. Itukan urusan pusat. Kalau suruh daerah mensubsidi pertama prosedurnya rawan masalah hukum,” kata Sutarmidji .
Namun Sutarmidji menambahkan terkait inflasi untuk di daerah yang diukur inflasinya di Pontianak, Singkawang, Sintang. Maka daerah ini harus dijaga.
“Kalau beras alhamdulillah sudah beberapa bulan tidak menyumbang inflasi. Artinya beras kita stabil karena kita sudah bisa swasembada. Kalau sudah 90 persen terpenuhi berarti sudah swasembada, yang impor itu beras kualitas premium seperti dari Jepang yang harganya mencapai Rp 40 ribu per kg termasuk untuk terapi diabetes,” jelasnya.
Namun ia menegaskan secara umum ekonomi Kalbar masih bagus, serta pertumbuhan ekonomi Kalbar bagus tidak minus.
“Alhamulillah angka kemiskinan kita juga turun sisa 6,73 persen, dan ini turun terus. Mudah-mudahan bisa turun terus. Kalau mau melihat itu dari Gini Rasio ketimpangan nasional yang berada di angka 0,8 persen, kita hanya 0,13 itu yang penting. Sehingga dari pada subsidi tiket pesawat bagus bazar pasar murah di daerah,” pungkasnya.
Sebelumnya dalam keterangan tertulis Menhub RI Budi Karya Sumadi berencana menurunkan harga tiket pesawat dengan melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah (pemda).
Budi Karya, menyampaikan pihaknya telah berkirim surat kepada pemda untuk turut mendukung konektivitas dengan membantu memastikan tingkat keterisian penumpang, baik dengan pemberian subsidi atau insentif, serta membantu pemasaran.
Budi Karya mengungkapkan pemerintah sedang mencari keseimbangan harga tiket pesawat agar tidak terlalu tinggi sehingga menyumbang inflasi. "Kita memang menjaga keseimbangan antara kemampuan daripada sektor transportasi dengan tidak menaikkan tiket," kata Budi Karya dikutip dari Antara, Kamis 18 Agustus 2022.
"Saya sudah sampaikan ke Pak Dirjen kita harus bicara detail, bagaimana kita mengatur harga dalam konteks yang detail sehingga inflasi di sektor itu juga tidak terlalu tinggi," kata dia lagi.
Wings Sesuaikan Kenaikan
Tingginya harga tiket pesawat masih menjadi perbincangan hangat. Beberapa waktu lalu penerbangan rute Pontianak-Putussibau dan Pontianak-Ketapang sempat dihentikan lantaran Wing Air dilaporkan menjual harga tiket di atas batas atas.
Pasca dilakukan pertemuan, Lion Air Group kembali menerbangi rute yang sempat dihentikan. Distrik Manager Lion Air Group Pontianak, Bire, mengatakan pasca kembali beroperasi pihaknya menerapkan harga sesuai dengan biaya operasional atau kenaikan bahan bakar.
"Kami kembali menerbangi rute Pontianak-Putussibau-Pontianak per 1 Agustus 2022. Penyelesaian (kemarin) Kementerian Perhubungan akan menyesuaikan tarif yang ada saat ini dengan kenaikan fuel," ujar Bire, Jumat 19 Agustus 2022.
Pemerintah sebelumnya sudah menerapkan biaya tambahan atau fuel surcharge untuk tiket pesawat sejak terjadi kenaikan harga avtur di dunia belakangan ini. Harga avtur sejak 2022 sudah beberapa kali mengalami kenaikan, pantauan Tribun, setelah terjadi kenaikan pada Mei, kenaikan kembali terjadi pada Juni dan kembali dilakukan penyesuaian harga pada Juli 2022.
Namun harga penyesuaian yang ditetapkan pemerintah tidak menutupi operasional Wing Air. Untuk pengoperasian Pesawat Udara ATR 72 sebagai propeler (baling-baling) yang melayani penerbangan Ketapang, Sintang, dan Putussibau pihaknya harus menyesuaikan harga sehingga perusahaan tidak merugi.
Pantauan Tribun, salah satu web yang menjual harga tiket pesawat domestik dan luar negeri harga tiket tujuan Jakarta untuk 24 Agustus rute Jakarta-Pontianak mulai dari Rp 673. Sementara Pontianak-Jakarta mulai dari Rp 704 ribu.
Untuk rute Pontianak-Putussibau atau Putussibau-Pontianak harga tiket relatif tinggi dengan kisaran diatas Rp 1,5 juta. Per tanggal 20 Agustus hingga 30 Agustus harga tiket pesawat bertengger di angka Rp 1.619.000.
Sedangkan untuk Pontianak-Ketapang, harga bertengger diangka Rp 1.113.400. Harga tersebut sama untuk dua pekan ke depannya. Sementara untuk rute Ketapang-Pontianak harga berkisar di angka Rp 1.048.400.
Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro, mengatakan untuk mendukung operasional dan layanan penerbangan di Indonesia hingga saat ini, Lion Group tidak hanya melayani rute-rute besar dengan pesawat jet yang menguntungkan tetapi juga melayani rute-rute di daerah perintis menggunakan pesawat propeller atau baling-baling yang merugikan.
Layanan penerbangan terutama Wings Air yang seluruh armada dioperasikan tipe ATR 72-500 dan ATR 72-600 untuk menjangkau kota tujuan setingkat kecamatan dan kabupaten pada rute antarpulau hingga pulau terluar mencatatkan rata-rata 200 frekuensi terbang setiap hari.
Operasional tersebut masih mengalami kerugian dikarenakan tingkat pemanfaatan yang tidak optimal disebabkan melayani daerah-daerah kota tujuan atau perintis. Selain itu, harga bahan bakar pesawat yaitu avtur lebih mahal dibandingkan harga avtur di bandar udara besar.
Penerbangan Menggeliat
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalbar jumlah penumpang angkutan udara dalam negeri yang datang pada Juni 2022 sebanyak 111.800 orang, mengalami penurunan sebesar 12,44 persen dibanding Mei 2022.
Jumlah penumpang angkutan udara dalam negeri yang datang pada Juni 2022 terbesar melalui Bandara Supadio (Kubu Raya), sebanyak 103.605 orang atau mencakup 92,67 persen dan menurun 12,80 persen dibanding bulan Mei 2022.
Sementara itu jumlah penumpang angkutan udara dalam negeri yang datang pada JanuariJuni 2022 sebesar 595.681 orang atau naik 129,60 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2021 yang tercatat sebanyak 259.446 orang.
Hal ini menunjukkan bahwa arus lalu lintas angkutan udara terus menggeliat kembali dengan aturan dan kebijakan dalam penerbangan pada masa pandemi Covid-19 yang masih belum mereda.
Sementara jumlah penumpang angkutan udara dalam negeri yang berangkat pada Juni 2022 sebanyak 113.347 orang, mengalami penurunan sebesar 10,13 persen dibanding Mei 2022.
Keberangkatan penumpang terbesar melalui Bandara Supadio (Kubu Raya), sebanyak 104.602 orang atau mencakup 92,28 persen dan menurun sebesar 11,20 persen dibanding bulan Mei 2022.
Sementara itu, jumlah penumpang angkutan udara dalam negeri yang berangkat pada JanuariJuni 2022 sebanyak 477.739 orang meningkat sebesar 57,81 persen dibanding periode yang sama tahun 2021 yang tercatat sebanyak 302.729 orang.
DPRD Tak Setuju
Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Ketapang, Achmad Sholeh ST MSos mengaku tidak setuju bila anggaran pemerintah daerah khususnya Kabupaten Ketapang untuk mensubsidi harga tiket pesawat yang saat ini mengalami kenaikan.
"Sehubungan dengan pernyataan dari Menhub permasalahan harga tiket pesawat khususnya di Kabupaten Ketapang, saya selaku Ketua Komisi IV tidak setuju apabila dampak kenaikan harga tiket pesawat ini akan dibebankan oleh pemerintah melalui subsidi dari pemerintah," tegas Sholeh.
Sholeh menilai, saat ini masih banyak persoalan termasuk pembangunan maupun sosial yang masih kurang dalam penganggarannya.
"Walaupun keuangan daerah cukup untuk mensubsidi biaya tiket, saya selaku anggota DPRD tidak akan menyetujui anggaran tersebut apalagi keuangan daerah kita tidak cukup untuk menganggarkan subsidi," jelasnya.
Pertimbangannya, kata Sholeh, yang hingga kini masih menggunakan transportasi udara ataupun pesawat di Kabupaten Ketapang, masih tergolong orang mampu. "Masa pemerintah mau membantu pada orang yang mampu, sedangkan masih banyak masyarakat Kabupaten Ketapang yang harus kita bantu," ujarnya.
Menurut Sholeh, persoalan tingginya harga tiket pesawat ini, sebetulnya menjadi fokus maskapai itu sendiri dalam mencari solusi dalam mengatur harga jual tiket pesawat.
"Sebenarnya pihak maskapai lah yang harus berpikir bagaimana menjual tiket. Jangan semaunya sendiri, mentang-mentang sekarang hanya maskapai Wings Air saja yang beroperasi di Bandara Rahadi Oesman. Sewaktu dulu ada beberapa maskapai lebih dari satu, buktinya harga tiket tidak semahal sekarang," akunya.
Untuk itu, Sholeh melanjutkan, daripada mensubsidi harga tiket pesawat, saat ini lebih baik pemerintah daerah Kabupaten Ketapang mencari jalan keluar seperti mendatangkan maskapai lain agar bisa terbang di Bandara Rahadi Oesman. Sehingga harga tiket tidak dimonopoli oleh satu maskapai.
"Kalau kita tidak mempunyai wewenang dalam pengaturan harga tiket, akan tetapi pihak maskapai lah yang harus lebih tahu diri. Jangan se-enaknya menetapkan harga tiket pesawat," pungkasnya.
Sementara itu meskipun harga tiket pesawat mahal, sejumlah penumpang mengaku terpaksa harus membeli, karena adanya beragam kepentingan. "Harga tiket pesawat mahal sekarang, apalagi kita tujuannya ke Sorong harus transit dulu ke Makassar, jadi harga tiketnya makin mahal," kata Venta, seorang penumpang.
Keberangkatannya ke Sorong dikarenakan harus mengurus beberapa berkas untuk persiapan nikah. "Kebetulan calon saya, ditugaskan ke Sorong jadi harus ikut ke sana mempersiapkan beberapa berkas persiapan untuk nikah dinas," katanya.
Senada dengan itu Lavita juga mengaku harga tiket pesawat sekarang mahal. "Sekarang tiket pesawat memang mahal banget, dulu kalau mau pergi gak semahal ini," kata Lavita.