2 Sosok Presiden yang Terlupakan, Catatan Sejarah HUT ke-77 RI
Dalam HUT RI ke-77 ini, kebanyakan orang hanya mengetahui bahwa Indonesia pernah dipimpin tujuh orang presiden.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Bangsa Indonesia akan merayakan HUT RI ke-77, Pada tanggal 17 Agustus 2022.
Namun, dalam rangka HUT ke-77 RI ini rupanya masih banyak yang belum mengetahui bahwa Indonesia memiliki dua presiden yang sering luput dari sejarah.
Dalam HUT ke-77 RI ini, kebanyakan orang hanya mengetahui bahwa Indonesia pernah dipimpin tujuh orang presiden.
Mereka adalah Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Joko Widodo.
Namun, dilansir dari Kompas.com, seorang pria bernama Syafruddin Prawiranegara pernah menjabat sebagai Presiden atau Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) saat pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda.
• Alasan Presiden Jokowi Mengenakan Pakaian Adat Dolomani dari Buton, Sulawesi Tenggara
Ya, saat Belanda melakukan Agresi Militer II pada Desember 1948, Soekarno-Hatta menguasakan Syafruddin Prawiranegara yang saat itu duduk sebagai Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatera.
Soekarno memberikan kuasa melalui telegram.
Sayangnya, karena jaringan komunikasi yang buruk telegram tersebut tidak sampai kepada yang bersangkutan.
Hanya saja, Syafruddin pun cepat tanggap dalam membaca situasi.
Syafruddin yang mendengar Belanda kembali menduduki Ibukota Yogyakarta, langsung mengambil inisiatif senada.
Saat itu Belanda juga telah menangkap sebagian besar pimpinan Pemerintahan Republik Indonesia pada 19 Desember 1948 sore.
• Lirik Lagu Rumah Dinyanyikan Dere, Duh Mana yang Lebih Panjang
Syafruddin segera menggelar rapat di sebuah rumah di dekat Ngarai Sianok, Bukittinggi dan mengusulkan pembentukan suatu pemerintah darurat.
Gubernur Sumatera Mr. TM Hasan langsung menyetujui usulan tersebut demi menyelamatkan Negara Republik Indonesia yang berada dalam bahaya.
Sebab kekosongan kepala pemerintahan bisa menjadi syarat internasional untuk tidak diakui sebagai negara.
Dengan dibentuknya PDRI di Sumatera Barat, pemerintahan Republik Indonesia masih tetap ada, meski Soekarno-Hatta ditangkap oleh Belanda di Yogyakarta.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Doa-malam-tirakatan-17-Agustus-2022.jpg)