Lokal Populer
Banyak Masyarakat Kalbar yang Belum Mengetahui Penyakit Thalasemia
berikan informasi dan edukasi terkait penyakit thalasemia. Sebab diakuinya saat ini masih banyak orangtua yang belum mengetahui penyakit thalasemia
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Kalimantan Barat menjadi Provinsi pertama di Indonesia yang telah mengukuhkan Duta Thalasemia pada periode 2022-20225.
Lismaryani Sutarmidji terpilih menjadi Duta Thalasemia Provinsi Kalimantan Barat Periode 2022-2025 dan dikukuhkan langsung oleh Ketua Thalasemia Pusat sekaligus Presiden Asean Thalassemia Federation (ATF), Ruswandi yang berlangsung di Pendopo Gubernur, Kamis 11 Agustus 2022.
Usai dilantik menjadi Duta Thalasemia, Lismaryani menyampaikan bahwa di Kalbar tentu sangat membutuhkan orang-orang, yang dapat membantu menyebarluaskan, mensosialisasikan apa itu penyakit Thalasemia.
Tak dipungkiri bahwa sejauh ini masih banyak masyarakat Kalbar yang tidak tahu mengenai apa itu penyakit Thalasemia.
“Kita memerlukan seseorang yang bisa menyebarluaskan, mensosialisasikan apa itu Thalasemia. Masih banyak masyarakat yang tidak tau Thalasemia itu apa,” ujarnya usai mengukuhkan Lismaryani Sutarmidji sebagai Duta Thalasemia Kalbar periode 2022-2025.
Lismaryani Sutarmidji mengatakan kedepan Kader-kader PKK Provinsi Kalbar akan turun ke 14 Kabupaten kota di Kalbar untuk ikut membantu mensosialisasi pencegahan dan tata laksana penanganan thalassemia.
“Alhamdulillah saya ucapkan terimakasih kepada POPTI Pusat yang telah mengukuhkan saya menjadi Duta Thalasemia Provinsi Kalbar. Kami siap menggencarkan sosialisasi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap thalasemia,” ungkapnya.
Ucapan terima kasih juga dihaturkan kepada Gubernur Kalbar atas amanah yang diberikan kepadanya sebagai Duta Thalasemia Provinsi Kalbar.
“Ini merupakan amanah besar yang harus saya jalani dan sebagai Ketua Tim PKK Provinsi Kalbar, hal ini juga merupakan tugas kami untuk turut mensejahterakan masyarakat Kalbar khususnya bidang kesehatan,” terangnya.
Dikatakannya upaya lain yang dapat dilakukan yakni dengan memberikan informasi dan edukasi terkait penyakit thalasemia. Sebab diakuinya saat ini masih banyak orangtua yang belum mengetahui tentang apa itu penyakit thalasemia.
“Kita akan turun dan ikut mensosialisasikan terkait apa itu thalasemia dan seperti apa gejalanya, pencegahannya dan lainnya. Lalu kalau ada keluarga yang menjadi penyandang thalasemia harus segera discreening. Karena thalasemia bukan penyakit menular akan tetapi keturunan,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa thalasemia merupakan kelainan darah yang ditandai dengan kondisi sel darah merah yang mudah rusak, bukan penyakit menular melainkan penyakit yang diturunkan.
Salah satu upaya untuk memutus mata rantai penderita thalasemia dengan melakukan edukasi dini, screening pada anak usia 15 tahun dan pranikah untuk mencegah kelahiran thalasemia minor.
Hal ini tidak lepas dari dukungan semua pihak ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian dan pengetahuan masyarakat tentang penyandang thalasemia.
Ia berharap masyarakat bersedia menjadi #Sahabat Thalasemia dengan menjadi pendonor darah tetap bagi penyandang thalasemia di Kalbar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Lismaryani-Sutarmidji-dikukuhkan-sebagai-Duta-Thalasemia.jpg)