2023 , Krisis Ekonomi Diperkirakan Hantam Amerika Serikat ! Pasar Saham dan Crypto Berjatuhan
Investor telah membuang saham pada tahun 2022 sebagai respons atas keputusan Federal Reserve atau The Fed yang telah memulai apa yang mungkin menjadi
TRIBUNPONTIANAK - Ekonomi Amerika Serikat diperkirakan akan dihantam badai krisis ekonomi pada 2023 tahun depan.
Jika prediksi itu terjadi, dampak resesi global bukan tak mungkin ikut menyertai.
Situasi yang juga akan berdampak pada perekonomian Indonesia .
Kekhawatiran terkait krisis ekonomi yang bisa menghantam Amerika Serikat atau AS itu tentunya bukan tanpa alasan.
• Ekonomi Dunia di Ambang Resesi ! Krisis Intai Inggris , Amerika Serikat Diremukkan Inflasi Parah
Dirangkum dari laman Kontan.co.id Jumat 17 Juni 2022 , saat ini pasar bursa Saham Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan jatuh lebih dalam.
Kondisi itu diperkirakan akan menyeret Amerika Serikat memasuki masa resesi parah dan krisis ekonomi di 2023 nanti.
Hal itu dikatakan veteran hedge-fund Leon Cooperman yang telah memperkirakan ekonomi AS akan jatuh ke dalam resesi pada 2023.
Leon Cooperman mengatakan bahwa dia pikir indeks S&P 500 akan mengalami penurunan total 40 persen karena resesi memukul keuntungan perusahaan.
Dia mengatakan ekuitas tidak mungkin kembali ke pasar banteng dalam waktu dekat.
Investor telah membuang saham pada tahun 2022 sebagai respons atas keputusan Federal Reserve atau The Fed yang telah memulai apa yang mungkin menjadi salah satu siklus kenaikan suku bunga tercepat dalam sejarahnya dalam upaya menjinakkan inflasi yang merajalela.
S&P 500, indeks saham acuan AS, telah turun 21 persen tahun ini pada penutupan Senin.
Itu diambil dari puncak hanya di bawah 4.800 pada awal Januari menjadi 3.761 pada penutupan permainan Senin.
Leon Cooperman mengatakan bahwa dia pikir S&P 500 akan turun 40 persen dari total puncak Januari.
Dia mengatakan kemungkinan akan turun ke 3.000 sebelum mulai pulih 20 persen di bawah level penutupan Senin.
Investor memperkirakan AS akan jatuh ke dalam resesi tahun depan, baik sebagai akibat dari melonjaknya harga minyak atau karena kenaikan suku bunga The Fed.