Hadang Penyebaran Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5, Mitigasi Covid-19 di Kalbar Harus Ditingkatkan
"Dengan munculnya subvarian baru ini, dapat dijelaskan bahwa turunan varian Omicron BA.4 dan BA.5 ini harus lebih diwaspadai sebab memiliki mutasi yan
Penulis: Muhammad Rokib | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Ahli Epidemiologi sekaligus ketua tim kajian ilmiah Covid-19 Poltekkes Kemenkes Pontianak dan Ketua Muhmamadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) Kalimantan Barat, Dr. Malik Saepudin SKM,M.Kes menyampaikan, bahwa per 11 Juni 2022 kasus Covid-19 harian Indonesia masih mengalami peningkatan yakni 547 kasus dengan 374 orang sembuh, 197 kasus aktif, dan 3 orang meninggal.
Kata dia, ada delapan kasus yang dilaporkan akibat terinfeksi subvarian Omicron BA.4 dan BA.5. Dan telah terjadi penularan kasus Lokal di DKI jakarta dan Bali. Sebagaimana dilaporkan oleh menteri kesehatan RI pada hari Senin,m 13 Juni 2022.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran di tengah pelonggaran masker di Indonesia termasuk provinsi Kalbar.
"Dengan munculnya subvarian baru ini, dapat dijelaskan bahwa turunan varian Omicron BA.4 dan BA.5 ini harus lebih diwaspadai sebab memiliki mutasi yang sama dengan varian Delta," ungkapnya.
Ia menjelaskan, bahwa BA.4 BA.5 adalah subvarian Omicron yang memiliki mutasi yang dimiliki oleh variant of concern Delta seperti L4.52. Nah, L452 ini sebagaimana Delta itu membuat mutasi BA.4 BA5, terutama BA.5, mudah sekali menginfeksi orang. Bukan hanya yang belum divaksinasi, tapi juga yang sudah divaksinasi.
Selain itu, subvarian BA.4 dan BA.5 juga mampu melakukan reinfeksi yang artinya dapat menginfeksi orang yang sudah divaksin atau terkena COVID-19 sebelumnya. Bahkan yang sudah terinfeksi oleh BA.1, BA.2, atau BA.3 itu bisa terinfeksi lagi oleh BA.4 BA.5. Itu kemampuan dari BA.4 BA.5.
• Waspada Kasus Covid-19 di Indonesia Melonjak Naik, Varian Omicron BA.4 dan BA.5 Jadi Biang Kerok
"Hal ini diperparah jika PPKM-nya dicabut, vaksinasinya turun, perilaku masyarakat memakai masker juga buruk. Itu dalam dua minggu bisa dominan dan bisa menyebabkan peningkatan jumlah kasus terinfeksi," ungkapnya.
Oleh karenanya, ia menyarankan agar Pemerintah Provinsi Kalbar harus bersiap siaga menghadapi becana akibat covid-19. Hal ini didasari pada pertimbangan wilayah ekologis dan Kalbar adalah terdekat dengan sumber penularan yaitu provinsi DKI Jakarta yang ditandai dengan prekwensi penerbangan yang tinggi.
Berdasarkan pada pengalaman Provinsi kalbar dalam menghadapi pademi gelombang 1 dan 2 dengan baik. Maka kemungkinan terjadinya gelombang 3 pandemi subvarian omicron BA.4 BA.5 dapat segera diatasi dan tidak sampai menimbulkan dampak kesehatan, sosal dan ekonomi.
"Untuk itu, lentingnya Mitigasi yang dilakukan oleh otoritas wilayah provinsi sampai wilayah yang terndah di tingkat RT/RW," tuturnya.
Malik Saepudin mengatakan, bahwa hal tersebut bisa menjadi strategi Pemerintah provinsi Kalbar dalam menghadang penyebaran subvarian omicron BA.4 BA.5, serta Penanganan bencana di saat Pandemi Covid-19 yang lebih baik yaitu bagaimana Pemprov Kalbar dan masyarakat dalam berkontribusi, kolaborasi dan koordinasi dalam penaggulangan bencana serta melakukan upaya pengurangan resiko penyebaran Covid-19.
"Melakukan simulasi yang diadakan disemua tingkatan mulai Provinsi juga tingkat Kelurahan, Kecamatan sampai dengan RT/RW terkait dengan bagaimana manajemen penanggulangan bencana pada masa Pandemi Covid-19 karena keberhasilan Provinsi Kalbar dalam penanggulangan bencana yaitu dengan meminimalisir korban jiwa, ketepatan target penanggulangan bencana, serta memaksimalkan alat dan juga memaksimalkan sumberdaya manusia yang ada," jelasnya.
Untuk itu, dalam pengamatan ahli epidemiologi, juga diperlukan rekontruksi program penanganan Covid-19 selama pandemi pada Tahun 2021 yang berhasil menekan laju peningkatan kasus dengan baik sesuai dengan kearifan lokal.
Strategi atau kegiatan tersebut perlu ditulis kembali untuk dijadikan sebuah pedoman standar (SOP) dalam penangan Covid-19 di Kalbar.
"Semoga dengan adanya mitigasi yang memadahai dan dilakukan maksimal, maka potensi subvarian BA.4 dan BA.5 ini tidak akan menciptakan gelombang baru dalam beberapa minggu atau bulan ke depan," tukasnya. (*)
Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News