Berikut Langkah Diskes Kabupaten Sanggau untuk Menekan Angka Kematian Ibu dan Anak

Ia mengatakan bahwa pelayanan kesehatan ibu dan anak sangat penting dan perlu mendapatkan perhatian, sesuai dengan beberapa fakta yang terjadi di lapa

Penulis: Hendri Chornelius | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK/Hendri Chornelius
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau, Najori. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU - Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau, Najori menyampaikan bahwa kasus kematian ibu dan anak di Sanggau, pada Januari hingga Desember 2021 di Kabupaten Sanggau mencapai 16 orang atau 219/100.000 Kelahiran Hidup (KH).

Sementara target penurunan angka kematian ibu tahun 2021 adalah 217/100.000 Kelahiran Hidup. 

Sedangkan jumlah kelahiran hidup tahun 2021 ada 7.299 orang, meningkat dari Jumlah angka kematian ibu di tahun 2020 yang mencapai 11 orang atau 136/100.000 KH dari target nasional 230/100.000 KH. Sedangkan pada angka kematian bayi tahun 2021 tercatat sebanyak 43 orang atau 5,89/1000 KH atau dengan jumlah kelahiran hidup 7.299 orang dari target nasional adalah 19,5/1000 KH.

Tenaga Honorer Bakal Dihapus Tahun 2023, Ini Harapan Ketua Fraksi PKB DPRD Sanggau

"Angka kematian bayi di Kabupaten Sanggau menurun dari tahun 2020 yaitu sebanyak 57 orang atau 7,06/1000 KH kalau dibandingkan dengan target nasional, masih dibawah nasional yaitu target 20,6/1000 KH,"katanya, Rabu 8 Juni 2022.

Ia mengatakan bahwa pelayanan kesehatan ibu dan anak sangat penting dan perlu mendapatkan perhatian, sesuai dengan beberapa fakta yang terjadi di lapangan. 

"Tidak bisa suatu kebijakan diimplementasikan jika tidak menjawab permasalahan dan kebutuhan yang ada di masyarakat,"tambahnya.

Najori mengatakan masih ditemukannya angka kematian ibu dan bayi menjadi konsen pihaknya untuk diselesaikan. Penyebabnya itu masih tingginya faktor perdarahan pada saat melahirkan.

"Kemudian faktor anemia ibu hamil, masih adanya ibu hamil yang ditolong oleh dukun beranak, faktor terlambatnya pertolongan kelahiran dengan jarak dari Fasyankes jauh atau infrastruktur yang masih rusak. Kemudian kesiapan keluarga untuk kelahiran tidak direncanakan dengan baik," ujarnya

"Masih tingginya kematian di Rumah Sakit, karena datang ke Fasyankes dasar sudah mengalami kegawatan, masih adanya Ibu hamil yang takut melakukan pemeriksaan kehamilan yaitu Covid-19. Nah, ini beberapa faktor penyebab kematian ibu dan bayi yang masih kita temukan,"tuturnya.

Najori mengatakan, untuk menekan angka kematian ibu dan bayi, pihaknya berupaya mendorong pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir sesuai prinsip pencegahan Covid-19

Kemudian pemanfaatan telemedicine untuk pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA), penyelenggaraan posyandu didaerah resiko tinggi dengan tetap sesuai kaidah yang telah ditetapkan dan hanya diperuntukan untuk pelayanan imunisasi balita dengan masalah gizi. 

"Kami juga melakukan pemantauan pada ibu hamil, pemberian zat penambah darah bagi remaja putri dan ibu hamil, mengaktifkan lagi kelas Ibu hamil," ujarnya.

Selain itu lanjutnya, meminta ibu hamil rajin melakukan atau memeriksakan kehamilan setiap bulannya di Fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes) terdekat.

"Kemudian, menghindari pertolongan oleh dukun beranak, dan perlu adanya inovasi yang berupaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi,"pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved