Turki Keukeuh Tolak Finlandia dan Swedia Gabung NATO ! Recep Tayyip Erdogan Beberkan Alasannya

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pun saat ini seolah memiliki kekuatan untuk menentukan masa depan aliansi NATO.

Editor: Ishak
Adem ALTAN / AFP
Presiden Turki , Recep Tayyip Erdogan berpidato dalam sebuah agenda internasional beberap waktu lalu. Turki bersuara lantang menolak Finlandia dan Swedia gabung NATO. Selengkapnya di artikel ini Selasa 24 Mei 2022 / ILUSTRASI. 

TRIUBUNPONTIANAK.CO.ID - Turki adalah satu di antara negara anggota Aliansi Pertahanan Atlantik Utara atau NATO yang bersuara keras terhadap rencana Finlandia bergabung NATO .

Ternyata, ada alasan kuat yang diungkapkan Turki terkait keputusan tersebut.

Dirangkum dari laman Kontan.co.id Selasa 23 Mei 2022, Ketika Finlandia dan Swedia mengumumkan minat mereka untuk bergabung dengan NATO, kedua negara Nordik ini diharapkan akan segera diterima sebagai anggota aliansi pertahanan.

Tetapi bergabung dengan NATO membutuhkan persetujuan konsensus dari semua anggota yang ada.

Perang Rusia Vs Ukraina Segera Berakhir ? Italia Tawarkan Proposal Perdamaian

Turki, yang jadi salah satu anggota kelompok yang paling penting secara strategis dan kuat secara militer, tidak senang atas bergabungnya kedua negara itu.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pun saat ini seolah memiliki kekuatan untuk menentukan masa depan aliansi NATO.

Perang Rusia vs Ukraina Terkini | Rusia Dituduh Praktekkan Serangan Brutal Bumi Hangus di Donbass

Dilansir CNBC, Recep Tayyip Erdogan telah memblokir upaya awal NATO untuk mempercepat aplikasi Finlandia dan Swedia, dengan mengatakan keanggotaan mereka akan menjadikan aliansi itu "tempat di mana perwakilan organisasi teroris terkonsentrasi."

Pada 2022, NATO telah diperluas untuk mengizinkan tiga negara bekas Soviet dan semua negara bekas Pakta Warsawa.

Hal itu telah membuat mengirim diplomat Barat bekerja agar Turki berpihak, karena Ankara menyajikan daftar keluhan kepada duta besar NATO tentang masalahnya dengan negara-negara Nordik.

Khususnya Swedia. Lalu, apa keluhan Turki terhadap Swedia dan Finlandia?

Ketika Recep Tayyip Erdogan berbicara tentang "teroris" dalam konteks ini, yang dia maksud adalah Partai Pekerja Kurdi atau PKK, sebuah gerakan separatis Marxis Kurdi yang telah memerangi pasukan Turki terus-menerus sejak tahun 1980-an.

Volodymyr Zelensky Ungkap Kemungkinan Damai Perang Ukraina , Hanya Mau Bicara dengan Vladimir Putin

Ini beroperasi sebagian besar di Turki tenggara dan sebagian Irak utara.

PKK diklasifikasikan sebagai organisasi teroris oleh Turki, serta AS, Kanada, Australia, dan Uni Eropa.

Faktanya, Swedia adalah salah satu negara pertama yang menetapkan kelompok itu sebagai organisasi teroris pada tahun 1984.

Namun, Turki mengeklaim bahwa Swedia telah mendukung anggota PKK dan memberikan perlindungan bagi mereka.

Swedia menyangkal hal ini, dengan mengatakan bahwa mereka mendukung orang Kurdi lainnya yang tidak tergabung dalam PKK, tetapi rinciannya lebih rumit.

Sejak 1984, antara 30.000 dan 40.000 orang diperkirakan tewas dalam pertempuran antara PKK dan pemerintah Turki, menurut Crisis Group.

PKK telah melakukan sejumlah serangan di Turki.

Untuk Finlandia, penentangan Turki tampaknya lebih karena asosiasi.

Negara ini memiliki populasi Kurdi yang jauh lebih kecil daripada Swedia, tetapi kebijakan luar negerinya cenderung serupa.

Invasi Rusia ke Urkaina Masuki Bulan ke 4 ! Cek Update Terkini

Finlandia juga telah melarang PKK sebagai organisasi teroris, tetapi bergabung dengan Swedia dan negara-negara Uni

Eropa lainnya dalam menghentikan penjualan senjata ke Turki pada 2019 atas tindakan militer Ankara terhadap kelompok-kelompok Kurdi di Suriah.

Recep Tayyip Erdogan pun menuntut Swedia mengekstradisi daftar orang yang dituduh Turki melakukan terorisme.

Dia juga ingin Swedia dan Finlandia secara terbuka mengingkari PKK dan afiliasinya, dan mencabut larangan senjata mereka di Turki.

Pertama Sejak Invasi Rusia ke Ukraina ! Jenderal Top Amerika dan Petinggi Militer Rusia Berbincang !

Bagi Hakki Akil, mantan duta besar Turki, perspektif negaranya "sangat sederhana."

“Jika Finlandia dan Swedia ingin bergabung dengan aliansi keamanan, mereka harus menyerahkan dukungan mereka kepada organisasi teror dan tidak memberikan perlindungan kepada mereka,"

"Di sisi lain, mereka juga harus menerima permintaan Turki untuk mengekstradisi 30 teroris," ujarnya. (*)

Materi di artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Alasan Mengapa Turki Tak Setuju Swedia dan Finlandia Gabung NATO"

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved