Khawatir Virus PMK, Peternak Pilih Tak Datangkan Sapi dari Luar Kota Sintang
Dalam waktu dekat, pedagang dan peternak akan dikumpulkan untuk membahas persoalan virus yang mulai merebak di Kalimantan Barat.
Penulis: Agus Pujianto | Editor: Try Juliansyah
Ciri dan Pencegahan
Penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak terus meluas. Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalbar mengonfirmasi ada 14 hewan ternak di Kalbar positif PMK dan 193 suspect.
Meski kasusnya belum ditemukan di Kabupaten Sintang, Dinas Pertanian dan Perkebunan mulai melakukan penelusuran ke sejumlah peternak dan pedagang sebagai langkah pencegahan.
Viktor Fernandes, Dokter Hewan pada Bidang Peternakan di Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sintang, mengatakan hewan ternak yang terserang PMK memiliki gejala umum seperti demam, lesu, kemudian disertai gejala khas lepuh di sekitar mulut, rongga dan moncongnya disertai daerah kaki, telapak, tumit hingga sendi.
“Selain itu kadang muncul buih atau busa. Kalau ada ciri-ciri seperti itu segera lapor. Kami mohon bantuan pada masyarakat supaya kita bisa tangani bersama, kita lokalisir dan tidak menyebar luas,” kata Viktor belum lama ini.
Penyakit PMK rentan menulari hewan ternak, seperti Sapi, Domba, Kambing, Kerbau, dan Babi. Penularan virus ini dapat melalui kontak langsung seperti melalui droplet, leleran cairan hidung, dan serpihan kulit pada hewan yang terinfeksi virus. Sementara itu penularan secara tidak langsung terjadi pada vektor hidup, yaitu manusia dan hewan lainnya.
“Bahkan kami sebagai tenaga teknis peternakan saja bisa membawa (virus). Misalnya kami berkunjung ke satu lokasi yang ada yang sudah terjangkit dan kami tidak melakukan proteksi diri, dan kami pergi ke peternakan lain, itu sudah bawa virus. Makanya kita saling jaga, seperti kejadian ASF mengapa cepat menyebar karena ya virus menempel di manusia bawa virus,” beber Viktor.
Viktor menyarankan sebaiknya untuk sementara peternak atau pedagang di Sintang, tidak mendatangkan hewan ternak dari luar sebagai langkah pencegahan.
“Untuk imbauan pada masyarakat kita cegah masuknya jenis hewan tersebut ke kabupaten sintang. Jadi kita harus saling waspada saling jaga, agar hewan dari luar sementara ini kita cegah masuk ke sintang. Karena kalau sudah kena satu saja di sintang, penyebaran ke kecamatan lain akan sangat mudah,” jelasnya.
Menurut Viktor, biosekuriti menjadi kunci utama dalam pencegahan dan pengendalian dari kemungkinan penularan penyakit.
Bioskuriti merupakan serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mencegah penyakit masuk ke dalam peternakan ataupun menyebar keluar peternakan. Bisa dibilang, ini merupakan garis pertahanan pertama terhadap penyakit yang dapat menyerang ternak.
“Jaga kebersihan kandang kita, salah satunya melalui desinfektan, mirip dengan corona pencegahannya. Dia bisa mati virusnya dari desinfektan. Kalau ada gejala yang mengarah ke PMK segera lapor, karena kami perlu bantuan dari masyarakat untuk segera kami telurusi, misalnya di satu daerah ada kejadian, kan kita bisa segera lokalisasi. Sehingga penyebabran tidak meluas,” harap Viktor. (*)
(Simak berita terbaru dari Sintang)