Ahli Epidemiologi Berikan Tips Sikap Terbaik dan Antisipasitif Terjadinya Pandemi Hepatitis Akut
Berikut adalah penuturan lengkapnya. Dari ratusan anak yang menderita hepatitis akut berkisar di bawah usia 10 tahun. Usia yang terbilang sangat belia
Penulis: Faisal Ilham Muzaqi | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Sebagai upaya penanganan hepatitis, Pemerintah Indonesia sebenarnya telah mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 35 Tahun 2015 tentang Penanggulangan Hepatitis Virus. Dijelaskan bahwa ada tujuh langkah penanggulangan hepatitis, yaitu promosi kesehatan, perlindungan khusus, imunisasi, surveilans hepatitis virus, pengendalian faktor risiko, deteksi dan temuan kasus, serta perawatan pasien.
Ahli Epidemiologi Poltekkes Kemenkes Pontianak dan Ketua Muhmamadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) Kalimantan Barat, Dr. Malik Saepudin SKM,M.Kes menyampaikan, dari tujuh langkah penanggulangan hepatitis, poin pengendalian faktor risiko menjadi kunci utama penanganan secara preventif. Pasal 10 menyebutkan ada lima cara pengendalian, dua di antaranya sangat tergantung dari kesadaran orangtua dan anggota keluarga yang tinggal bersama.
Hepatitis akut yang menyerang anak-anak tentu merupakan kejadian yang perlu diwaspadai sebab terjadi dengan cepat dan tiba-tiba. Karena itu, melihat faktor risiko dari infeksi virus penyebab hepatitis secara umum, peran sentral orangtua sangatlah penting untuk melindungi anak-anak.
Berikut adalah penuturan lengkapnya. Dari ratusan anak yang menderita hepatitis akut berkisar di bawah usia 10 tahun. Usia yang terbilang sangat belia sehingga salah satu pihak yang memegang peranan penting adalah orangtua, khususnya untuk menentukan apa yang tepat untuk dikonsumsi anak serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar anak.
Faktor risiko infeksi virus penyebab hepatitis sangatlah beragam, mulai dari kebersihan makanan dan minuman hingga transfusi darah. Kemampuan anak untuk menjamin kualitas kebersihan tentu jauh lebih rendah dari orangtua, termasuk keterbatasan fisik anak-anak untuk melakukan kegiatan tertentu.
• Epidemiolog Ingatkan Pemerintah untuk Antisipasi Penularan COVID-19 Saat Libur Akhir Tahun
Tahapan perkembangan anak menurut usia, khususnya usia anak, sangat bergantung pada orangtua dan orang dewasa lain yang hidup bersama anak. Penting memastikan setiap keluarga di seluruh wilayah kalbar dan Indonesia pada umumnya memiliki standar hidup bersih dan sehat yang merata agar anak lebih aman dan terhindar dari infeksi virus hepatitis.
Apabila dilihat dari lima jenis virus hepatitis yang telah teridentifikasi sebelumnya, maka sikap terbaik adalah harus berhati-hati dan memahami cara penularan, setidaknya ada tujuh cara penularan virus.
Cara pertama adalah infeksi melalui mulut karena makanan, minuman, dan benda yang telah terkontaminasi.
Kedua, sanitasi rumah buruk dan kotor.
Ketiga, kebersihan individu sangat rendah.
Berikutnya, infeksi dapat terjadi saat proses transfusi darah, kemudian dilanjutkan dengan penggunaan jarum suntik bergantian. Tak hanya itu, penularan virus hepatitis juga terjadi melalui transplantasi organ tubuh. Terakhir, infeksi saat berhubungan seksual.
Tujuh cara penularan virus hepatitis memberikan gambaran jelas terkait obyek utama yang menjadi media perpindahan virus, yaitu cairan tubuh manusia. Jaminan pola hidup bersih dan sehat juga tidak bisa ditawar jika ingin menekan risiko infeksi.
Dua poin menekan risiko infeksi yang dimaksud adalah peningkatan perilaku hidup sehat serta peningkatan kualitas lingkungan. Setiap individu yang memiliki anak penting untuk mencuci tangan berkala, termasuk mengajari anak rajin cuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas.
Orangtua perlu memastikan kebersihan air minum atau hanya meminum air bersih yang matang. Selanjutnya, memakan makanan yang bersih dan dimasak matang sempurna. Kotoran anak dan popok sekali pakai harus dibuang sesuai tempatnya. Terakhir, menggunakan alat makan terpisah antara anak dan orang dewasa.
Upaya penangananan Pemprov Kalbar dalam skala nasional, Kementerian Kesehatan telah mengimbau seluruh perangkat pelayanan kesehatan masyarakat level provinsi termasuk provinsi Kalbar hingga kota/kabupaten untuk melakukan pemantauan intensif. Sasaran utama deteksi kasus dugaan hepatitis akut adalah anak berusia kurang dari 16 tahun.
Melihat dua kondisi pasien yang dijadikan rujukan kasus dugaan hepatitis akut di Jakarta, hingga saat ini tidak ditemukan virus tipe A, B, C, D, dan E serta AST atau ALT lebih dari 500 IU/L. Kadar AST dan ALT menunjukkan konsentrasi enzim pengubah protein oleh sel-sel hati dan metabolisme asam amino.
Belajar pengalaman penangan Pandemi Covid-19, diharapkan Pemprov Kalbar berasma Pemerintah Pusat dapat menyiapkan beberapa rencana penanganan wabah penyakit hepatitis, termasuk melakukan sosialisasi terhadap orangtua tentang langkah-langkah menekan faktor risiko infeksi.
Kesiapan layanan kesehatan publik juga perlu terus dikuatkan di tengah ketidakpastian kondisi krisis kesehatan saat ini. Selain itu deteksi dini penting dialakukan utk menekan penularan yg cepat, mengingat hepatitis akut ini sangat berpotensi menjadi pandemi di tahun 2022 ini. Jangn terlambat mengantisipasi, perlu segera disiapkan sarana pemeriksaan adenovirus pada Laboratorium kesehatan Kalbar dan RSUD Sudarso sebagai pusat rujukan pengobatan di Kalbar.
Kemudian juga diperlukan kesiagaan tenaga kesehatan dan berbagai terapi dasar, termasuk penyuluhan kesehatan pada masyarakat luas. Perlu langkah-langkah pencegahan yang nyata, karena virus ini diduga menular melalui saluran napas dan saluran cerna.
Untuk menjaga saluran napas bisa dilakukan seperti protokol kesehatan pencegahan Covid-19, yakni dengan mencuci tangan dengan sabun, memakai masker, dan menjaga jarak. Untuk menjaga saluran cerna, bisa mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan minum, memastikan makan dan minuman matang, serta tidak menggunakan alat makan bersama, serta jangan kontak dengan orang yang sakit.
Orang tua diimbau agar mewaspadai gejala awal tersebut sebelum mengarah ke hepatitis. bila sudah parah maka anak akan memerlukan transplantasi hati.
Diharapkan upaya pencegahan yang tepat oleh pemerintah Pusat dan khususnya Pemprov Kalbar dan jajarannya akan dapat terbebas dari penularan dan penyebaran Hepatititis akut ini. (*)
(Simak berita terbaru dari Pontianak)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/malik-saepudin-tim-covid-19.jpg)