Pola Hidup Sehat
Indonesia Peringkat Ketiga Penyakit TBC, Kesadaran Masyarakat Jadi Kunci Bebas TBC
Penyakit ini tidak boleh dianggap remeh. Pasalnya, Indonesia menempati peringkat ketiga dengan kasus TBC terbanyak di dunia, setelah India dan China.
TRIBUNPONTIANK.CO.ID- Bahaya penyakit TBC atau tuberkulosis di Indonesia sangat meningkat.
Penyakit ini tidak boleh dianggap remeh. Pasalnya, Indonesia menempati peringkat ketiga dengan kasus TBC terbanyak di dunia, setelah India dan China.
Dilansir dari laman TB Indonesia, hingga Oktober 2021, terdapat 824.000 kasus TBC di Indonesia dengan 13.110 kasus kematian. Hal ini menjadi permasalahan serius. Terlebih, TBC dapat menular dengan mudah melalui droplet yang terbawa udara.
Merespons situasi tersebut, pemerintah lewat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pun melakukan berbagai upaya untuk menekan angka penularan TBC.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kemenkes Didik Budijanto meminta masyarakat melakukan pengobatan secara tuntas. Selain itu, Didik juga mengupayakan penemuan kasus TBC sedini mungkin.
“Kami merencanakan skrining besar-besaran yang transformasional dengan memanfaatkan peralatan x-ray artificial intelligence untuk memberikan hasil diagnosis TBC yang lebih cepat dan efisien,” ujar Didik seperti dikutip dari sehatnegeriku.kemkes.go.id, Selasa 22 Maret 2022.
Meski demikian, berbagai upaya yang dilakukan pemerintah harus didukung dengan kesadaran masyarakat. Pasalnya, sarana untuk pengobatan yang disiapkan pemerintah akan sia-sia jika masyarakat masih menyepelekan TBC.
• Sejumlah Organisasi Deklarasikan Gerakan Masyarakat Peduli TBC Kota Pontianak
Seperti diketahui, tingkat kesadaran masyarakat terhadap gejala TBC masih rendah. Masih banyak pula masyarakat yang belum memahami gejala umum TBC, yakni batuk terus-menerus sampai 14 hari atau lebih.
Hal tersebut terlihat dari hasil survei online dan offline yang dilakukan oleh Stop TB Partnership Indonesia (STPI) yang bekerja sama dengan StratX pada 2022.
Berdasarkan survei online terhadap 500 responden berusia 18-39 tahun di DKI Jakarta dan Jawa Barat, hanya 10,1 persen responden yang menganggap batuk lebih dari dua minggu merupakan gejala TBC. Sementara, pada survei offline terhadap 100 orang, diketahui bahwa hanya 4 persen responden yang menganggap batuk lebih dari 2 minggu adalah gejala TBC.
Karena kurang pengetahuan terkait gejala TBC, banyak masyarakat menganggap batuk yang dideritanya merupakan batuk biasa dan bisa disembuhkan dengan obat batuk yang dibeli di warung atau toko obat.
Sekalipun batuk yang diderita urung sembuh setelah 14 hari, masyarakat juga tidak segera ke dokter karena takut dan malu didiagnosis menderita TBC. Apalagi, TBC masih distigma negatif oleh masyarakat dan biasanya dukungan keluarga kepada penyintas TBC juga minim.
Alhasil, mereka pun memilih untuk tidak mengetahui penyakitnya dan menganggap sepele gejala batuk yang diderita.
Kesadaran masyarakat yang rendah terhadap gejala TBC juga diperparah dengan kondisi pandemi Covid-19. Koordinator Substansi Tuberkulosis Kemenkes dr Tiffany Tiara Pakasi mengatakan, sejak pandemi, banyak masyarakat tidak bisa membedakan gejala batuk dan demam pada TBC dan Covid-19.
• PERHATIKAN, 10 Penyakit Ini Bisa Dilihat dari Mata, Bagaimana Caranya?
Kebanyakan masyarakat menganggap bahwa gejala batuk lebih dari 14 hari mengarah ke infeksi Covid-19. Padahal, batuk lebih dari 14 hari tidak selalu menjadi tanda bahwa seseorang terinfeksi virus corona. Bisa saja, hal ini disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis yang merupakan penyebab TBC.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/ciri-orang-yang-menderita-penyakit-tbc-bagaimana-cara-penularan-tbc-ini-obat-paru-paru-tbc.jpg)