Doa Katolik
Orang Kudus Katolik 23 Maret Santa Rafqa
Santa Rafqa adalah seorang biarawati, seorang pertapa dan seorang mistikus dari Gereja Katolik Maronit di Libanon yang di kanonisasi oleh Paus Yohanes
Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano | Editor: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Dan suatu pada suatu malam ia bermimpi bertemu dengan St.Antonius Agung bersama dengan St.Georgius dan St.Simon pertapa.
St.Simon yang berbicara memintanya untuk bergabung dengan para pertapa Maronite yang dikenal dengan sebutan Baladiya/Baladite (Sekarang biara ini lebih dikenal dengan sebutan : Lebanese Maronite Order ).
Kesokan harinya, dengan hati yang lapang suster Anissa masuk biara Baladite di Pertapaan St. Simon al-Qarn di Aito dan mengambil nama biara : Rafqa, sesuai dengan nama ibunya, orang pertama yang memperkenalkan Kristus dan menanamkan rasa cinta kepada Allah dalam dirinya, dan mengingatkan kita kepada Ribka atau Rebecca dari Perjanjian Lama (nama Rafqa adalah ejaan Arab untuk nama Ribka).
Suster Rafqa lalu tinggal dibiara ini sampai akhir hayatnya.
Menderita Bersama Yesus
Salah satu hal yang paling menonjol dalam kehidupan rohani Rafqa adalah kerelaannya untuk menderita bersama Yesus.
Kesadaran ini muncul setelah ia melihat penderitaan para saudari sebiaranya yang sedang sakit, penderitaan masyarakat di Deir al Kamar dan kemudian dengan penyakitnya sendiri.
Melalui semua penderitaan ini Rafqa semakin mencintai Salib dan ingin memanggulnya bersama sang Penebus.
Kerinduan ini membawa Rafqa untuk meminta penderitaan dari Tuhan, ia rindu untuk membawa tanda-tanda kesengsaraan Kristus dalam dirinya.
Karena kerinduan ini akhirnya pada minggu pertama bulan Oktober 1885, Rafqa berdoa secara khusus meminta agar Yesus memberinya penyakit dan penderitaan sehingga ia dapat menemani Yesus menanggung penderitaan dan sengsara-Nya.
Doa Rafqa ini dijawab dengan cepat dan segera oleh Tuhan, tak lama setelahnya Rafqa mendapatkan rasa sakit yang luar biasa pada matanya, kedua matanya membengkak dan tampak seperti terbakar.
Para rekan susternya berusaha mengobati penyakit ini dengan mengirimkan Rafqa ke sejumlah dokter, namun upaya ini tampak sia-sia.
Setelah pengobatan ke dokter-dokter lokal tidak membuahkan hasil. Suatu ketika seorang imam meminta agar Rafqa dibawa kepada seorang dokter Amerika yang sedang berada di Libanon, dokter Amerika ini kemudian mengoperasi Rafqa.
Operasi ini berakhir dengan kegagalan dan Rafqa kehilangan mata kanannya, sehingga para suster terpaksa membawa Rafqa ke dokter lain lagi untuk menghentikan pendarahan yang masih berlangsung akibat operasi.
Dua tahun setelah operasi Rafqa mata kirinya juga menjadi buta, dan Rafqa mengalami kebutaan total.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/orang-kudus-katolik-20-maret-santa-rafqa.jpg)