Sempat Merosot Akibat Pandemi, Penjulan Sourvenir Khas Dayak Mulai Bergeliat di Kabupaten Sintang

Penjualan pernak pernik, kerajinan tangan khas dayak, kain tenun, batik, tas manik-manik dan anyaman berangsur pulih setelah dihantam pandemi covid-19

Penulis: Agus Pujianto | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK/Agus Pujianto
Darius mengenakan kopiah motif manik-manik. Sempat merosot hingga 40 persen akibat Pandemi Covid-19, penjualan souvenir kerajinan tangan di Sintang, Kalbar, mulai bergeliat. Penjualan pernak pernik, kerajinan tangan khas dayak, kain tenun, batik, tas manik-manik dan anyaman berangsur pulih setelah dihantam pandemi covid-19 sejak tahun 2020. Kini, penjualan merangkak naik menyentuh angka 70 persen. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,SINTANG - Sempat merosot hingga 40 persen akibat Pandemi Covid-19, penjualan souvenir kerajinan tangan di Sintang, Kalbar, mulai bergeliat.

Penjualan pernak pernik, kerajinan tangan khas dayak, kain tenun, batik, tas manik-manik dan anyaman berangsur pulih setelah dihantam pandemi covid-19 sejak tahun 2020. Kini, penjualan merangkak naik menyentuh angka 70 persen.

"Selama pandemi terus terang hampir 40 persen penurunanya. Sekarang sudah mulai bangkit lagi, mungkin kondisi sudah mulai stabil, setiap hari selalu ada, meskipun tidak banyak. Hampir 70 persen kenaikan, setiap hari ada. Intinya kondisi sudah mulai stabil," kata Darius pemilik toko Sourvenir Dara Kumang di Jalan PKP Mujahidin, Senin 14 Maret 2022.

Jarot Winarno Tebar Ribuan Bibit Ikan di Kolam Petani Binaan Kontak Tani Nelayan Andalan Sintang

Darius sudah 9 tahun berjualan sourvenir di jalan PKP Mujahidin, komplek galeri dan pasar seni. Pasang surut penjualan kerajinan tangan sudah dia rasakan. Meski dihantam pandemi yang menyebabkan pendapatan merosot hingga 40 persen, Darius masih tetap bertahan..

"Sourvenir bukan barang kebutuhan pokok, jadi gak setiap hari orang tu perlu ke kita. Ibaratkan yang kita jual cinderamata, orang tertentu yang datang ke sini untuk beli oleh-oleh segala macam, walaupun sedikit tapi selalu ada," ujar Darius.

Pelaku UKM seperti Darius, dapat bertahan jika ada kunjungan wisatawan apabila ada event yang digelar pemerintah. Masalahnya, event pemerintah banyak ditiadakan selama pandemi.

"Sekarang penjualan kita tidak bisa prediksi perhari, paling ya, misalkan dalam sehari ada orang belanja datang, kadang cuma melihat ndak belanja," ujarnya.

"Kita ndak bisa pukul rata, sehari berapa, seminggu berapa. Sekarang ada peningkatan sudah lumayan, ya mungkin tergantung kondisi, barang ini kalau instansi banyak kegiatan kadang event mereka banyak bawa barang, mereka kan wajib juga bantu kita untuk dijual. Sudah mulai stabil dan kita bertahan, buktinya sampai sekarang kita masih bisa buka tiap hari, intinya ada juga orang datang," beber Darius.

Tenun ikat sintang yang paling banyak dibeli oleh pembeli. Selain tenun, Darius juga menjual kerajinan tangan lainnya, selain dari Sintang, ada juga dari kalteng.

"Dari dulu jual kerajinan tangan seperti anyaman, tenun, syal dan lainnya. Yang paling banyak tenun. Kalau UKM apapun yang bernilai etnik kita jual. Kalau jual tenun dan ayaman, kita dapat makan drimana, otomatis apapun yang berhubungan dengan nilai etnik kita siapkan, ada manik-manik, baju kaos. Pangsa pasar agak lumayan untuk sintang," ujarnya. (*)

[Update Informasi Seputar Kabupaten Sintang]

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved