Resmikan Gedung Universitas Widya Dharma Pontianak, Uskup Agustinus Ingatkan Nilai Kemanusiaan
Uskup Agustinus berharap dan mendoakan agar Universitas Widya Dharma semakin diberkati dan semakin maju
Penulis: Stefanus Akim | Editor: Stefanus Akim
CITIZEN REPORTER
Oleh: Samuel | Staf Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak (Komsos KAP)
PONTIANAK - Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus dan Gubernur Kalbar Sutarmidji meresmikan Universitas Widya Dharma Sabtu, 26 Februari 2022.
Dalam sambutannya Mgr Agustinus Agus menegaskan pentingnya peranan pendidikan. Mgr Agustinus menekankan pendidikan hendaknya tidak dilihat untuk satu kalangan saja tetapi untuk berbagai kalangan. Untuk itu, Uskup Agustinus mendoakan agar Universitas Widya Dharma Pontianak yang merupakan milik Ordo Kapusin yang sudah melaksankan misi kemanusiaan ini tetap terus mengedepankan nilai kemanusiaan dalam pendidikan.
"Orang tidak cukup bagus dalam hal akademik saja, tetapi ilmu pengetahuan harusnya berperan nyata di tengah tantangan zaman," kata Uskup Agustinus.
Uskup Agustinus juga menggarisbawahi, untuk lulusan dari universitas jangan hanya berharap untuk menunggu PNS saja, tetapi haruslah menggunakan ilmu untuk menciptakan lapangan pekerjaan.
Apalagi bagi lulusan Universitas Widya Dharma Pontianak yang sudah memiliki jurusan Manajemen Bisnis dan Teknologi Informasi yang memang saat ini dan ke depan terus dibutuhkan oleh masyarakat.
Menutup sambutannya, Uskup Agustinus berharap dan mendoakan agar Universitas Widya Dharma semakin diberkati dan semakin maju dalam usaha untuk meraih visi dan misi yang telah digagas oleh Yayasan Widya Dharma.
Sementara itu Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji, dalam sambutannya mengatakan masyarakat tidak bisa mengabaikan pendidikan. “Pendidikan adalah tonggak utama dalam pembangunan sumber daya masyarakat. Apalagi Provinsi Kalimantan Barat sebenarnya memiliki potensi yang besar terlebih jika dikaitkan dengan isu pemindahan Ibu Kota Indonesia di Kalimantan,” kata Sutarmidji dalam sambutannya.
Gubernur Sutarmidji mengapresiasi upaya serta peranan UWDP yang selama ini sudah berkontribusi untuk memajukan pendidikan di provinsi Kalimantan Barat. Poin dalam apresiasi itu yakni dalam hal pengembangan sumber daya manusia.
Bagi Sutarmidji tidak ada cara lain untuk memajukan pembangunan Kalimantan Barat selain jalan pendidikan. Sutarmidji berharap gedung baru dapat lebih banyak mencetak generasi-generasi yang lebih baik dan mampu bersaing.
"Sebenarnya kita ini mampu bersaing dengan orang, semakin banyak universitas di Kalimantan Barat semakin baik. Apalagi Bapak Uskup Agustinus punya visi yang sama pula dalam hal pendidikan," kata Gubernur Sutarmidji.
Universitas Widya Dharma Pontianak atau UWDP saat ini resmi memiliki gedung baru dan telah diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji dengan nama Gedung Fransiskus Asisi. Gedung tersebut memiliki 10 lantai yang menelan biaya kuranglebih sebesar Rp 40 miliar belum termasuk isi sarananya.
Sejarah Singkat
Ketua Yayasan Widya Dharma, Policarpus Widjaja Tandra, menjelaskan secuplik sejarah terbentuknya Universitas Widya Dharma Pontianak yang kini sudah berusia 39 tahun yang telah berjuang dan kini sudah menjadi universitas ditambah dengan gedung baru yang telah diresmikan.
Awalnya Universitas Widya Dharma Pontianak memiliki nama Perguruan Tinggi Widya Dharma. Cikal bakal pendirian perguruan tinggi tersebut bermula dari pertemuan Pekan Pastoral II Keuskupan Agung Pontianak. Uskup Agung Keuskupan Agung Pontianak kala itu, Mgr Hieronymus Bumbun OFMCap yang mengimbau agar Gereja Katolik berpartisipasi dalam pembangunan daerah Kalimantan Barat.
Imbauan tersebut bukan tanpa dasar, karena adanya Konsili Vatikan II yang menyerukan agar Gereja menjawab tantangan zaman dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Karena itu Kalimantan Barat sangat membutuhkan kader-kader Katolik dalam dunia pendidikan yang relatif ketinggalan di kala itu.
Semua orang dari berbagai suku, kondisi ekonomi, dan latar belakang apa pun, berdasarkan martabatnya selaku pribadi, harus mendapat hak yang sama dan tidak dapat diganggu gugat dalam mendapatkan pendidikan.
Seusai Pekan Pastoral II tersebut Mgr Hieronymus Bumbun melalui Vikjen Pastor Petrus Rostandy OFMCap (almarhum) bersama sejumlah tokoh umat yang berkecimpung dalam politik, pemerintahan, dan pendidikan mengadakan pertemuan untuk menjajaki kemungkinan mendirikan perguruan tinggi Katolik di Pontianak.
“Karena para peserta pertemuan menyadari bahwa kehadiran sebuah perguruan tinggi Katolik dapat membantu pemerintah dalam mengatasi ledakan lulusan SMA yang akan melanjutkan pendidikan dan kelak menjadi kader pembangunan dalam masyarakat,” kata Policarpus Widjaja Tandra.
Kemudian sebagai realisasi dari pemikiran tersebut maka pada 12 November 1983, Fasifikus Petrus Djuman kemudian Polycarpus Widjaja Tandra (sekarang ketua Yayasan UWDP) dan Piet Andjioe Nyangun, mewakili para peserta pertemuan menghadap Notaris Tommy Tjoa Kheng Liet SH untuk mendirikan yayasan yang diberi nama Yayasan Widya Dharma dengan Akte Pendirian bernomor 111 tertanggal 12 November 1983.
Setelah mendapatkan Izin Operasional dari Kopertis Wilayah II di Palembang dan melakukan persiapan semestinya, perkuliahan pertama dimulai pada 1 September 1986.
Mengingat Yayasan Widya Dharma belum memiliki gedung sendiri, maka untuk menyelenggarakan perkuliahan, Yayasan Widya Dharma meminjam dan menyewa ruangan SMA Soegijopranoto dan SMP Susteran SFIC untuk melansungkan kuliah mahasiswa kala itu.
Tonggak Penting
Sejalan dengan perjalanan waktu kala itu kemudian berdirilah dua akademi pertama adalah Akademi Sekretaris dan Manajemen kemudian jurusan Akademi Ilmu Administrasi. Inilah tonggak pertama sejarah Perguruan Tinggi Widya Dharma.
Tonggak penting kedua dapat dikaitkan dengan momentum penyerahan Yayasan Widya Dharma kepada Ordo Kapusin Regio Kalimantan Barat.
Pada tahun 1987, setelah melewati Rapat Pleno Dewan Pengurus, atas nama Yayasan Widya Dharma Petrus Djuman selaku Ketua dan Polycarpus Widjaja Tandra yang kala itu selaku Sekretaris melalui surat resmi Dewan Pengurus Yayasan Widya Dharma Pontianak tertanggal 07 Desember 1987, menyampaikan pernyataan bahwa berdasarkan mandat rapat yayasan telah diputuskan untuk menyerahkan hak pengelolaan dan pemilikan semua aset Yayasan Widya Dharma kepada Ordo Kapusin Regio Kalimantan Barat.
Dengan penyerahan itu maka segala hak, kekayaan, dan utang piutang (aktiva dan pasiva) Yayasan Widya Dharma Pontianak terhitung tanggal 27 Desember 1987 beralih dari pengurus lama kepada Ordo Kapusin Regio Kalimantan Barat.
Perkembangan Pesat
Ordo Kapusin Regio Kalimantan Barat pada 02 Februari 1986 melakukan perombakan susunan pengurus dengan Pastor Secundus van Donzel OFMCap sebagai Ketua, kemudian Polycarpus Widjaja Tandra sebagai Wakil Ketua, ditambah dengan anggota lainnya seperti Sr Jean Marie SFIC sebagai Sekretaris dan Pastor Petrus Rostandy OFMCap sebagai Bendahara.
Berhubung Pastor Secundus dimutasikan menjadi pembina di Seminari Tinggi di Sumatera Utara pada akhir 1988, maka Polycarpus Widjaja Tandra dipilih menjadi Ketua Yayasan yang adalah seorang awam dan salah satu pendiri yayasan yang masih dipertahankan oleh Dewan Pembina untuk menjadi Ketua Yayasan hingga sekarang.
Sejalan dengan perkembangan pendidikan untuk tahap ini dapat dikatakan bahwa tonggak ketiga adalah perkembangan pesat yang ditunjukkan dengan pembangunan gedung-gedung milik yayasan dan pendirian Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE), Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (STIK) dan Akademi Bahasa Asing (ABA).
Tahap itu terjadi sekitar tahun 2000 dan beberapa tahun berikutnya. Untuk itu setelah kurang lebih 15 tahun berdiri, Perguruan Tinggi Widya Dharma telah melebarkan sayapnya, fasilitas modern pembelajaran telah tersedia, berbagai prodi baru pun didirikan.
Selain pembangunan gedung-gedung kampus, yayasan juga tidak lupa membangun sumberdaya manusianya. Kualitas dan kompetensi dosen terus ditingkatkan melalui pemberian beasiswa untuk studi lanjut ke jenjang S2 dan S3.
Miliki 15.300 Lulusan
Saat ini Yayasan Widya Dharma Pontianak telah memiliki seorang dosen berjabatan fungsional profesor dan tujuh dosen bergelar doktor. Di akhir tahun 2020 akan tambah lima dosen bergelar doktor.
Tahun depan akan lulus lima dosen lagi yang bergelar doktor. Sementara dosen bergelar S2 dari berbagai ilmu berjumlah 107 dosen. Jumlah wisudawan sejak 1990 hingga sekarang berjumlah 15.300 lulusan.
Dalam perkembangan waktu dengan perjuangan dan keringat tahap selanjutnya yang menambah nilai dari UWDP saat ini yakni pada poin tonggak keempat.
Tonggak keempat ini adalah tentang pendirian Universitas Widya Dharma Pontianak. Wacana menyatukan STIE, STMIK, ABA, dan ASM Widya Dharma menjadi Universitas Widya Dharma Pontianak bermula dari paparan kebijakan dari Dirjen Kelembagaan dan Kerjasama Kemenristekdikti, Patdono Suwignjo untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas pengelolaan pendidikan tinggi pada Maret 2017 dalam Forum Rapat Anggota APTIK di Unika Atma Jaya Makassar.
Dalam merespons hal itu Yayasan Widya Dharma Pontianak kemudian membentuk panitia untuk mengkaji kemungkinan penyatuan keempat institusi perguruan tinggi Widya Dharma.
Setelah melewati berbagai proses akhirnya SK pendirian Universitas Widya Dharma Pontianak terbit pada akhir tahun 2019. Dengan status baru itu perguruan tinggi Widya Dharma Pontianak akan memasuki tahap baru yang lebih menantang.
Cita-cita dan Tanggungjawab
Menutup sambutannya Polycarpus Widjaja Tandra menyampaikan bahwa penyelenggaraan perguruan tinggi yang baik merupakan cita-cita dan tanggung jawab bersama masyarakat.
Untuk itu baginya dibutuhkan perpaduan dan kerjasama antara penyelenggara pendidikan dan orang tua mahasiswa dalam mewujudkan perguruan tinggi yang bermutu.
Sebagai pengelola Yayasan Widya Dharma Pontianak, mereka (Yayasan Widya Dharma Pontianak) menetapkan langkah-langkah strategis untuk terus membenahi diri, beradaptasi dengan perubahan, kemajuan, dan tuntutan zaman dalam proses penyelenggaraan pendidikan.
Peresmian gedung ini mengambil nama dari Santo Fransiskus Asisi yang merupakan Bapa pendiri ordo Kapusin yang dikenal dengan saudara dina alias mendikan. Sesuai dengan Spritualitas Santo Fransiskus Assisi yang memperhatikan orang kecil dan orang yang terbelakang maka UWDP berharap dapat mengemban semangat yang sama dalam bidang pendidikan. *
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/univ-wd.jpg)