Beda Endemi dan Epidemi pada Covid-19 yang Menjadi Pandemi Pengertiannya? Pakar: Sulit Capai Endemi

Menurut Dicky mengatakan situasi epidemi akan naik turun, bakal ada gelombang kasus dan penurunan kasus.

Penulis: Madrosid | Editor: Madrosid
Frank Hoermann / SVEN SIMON / SVEN SIMON / dpa Gambar-Aliansi via AFP
Staf medis mengenakan pakaian pelindung dan pelindung wajah, memegang tempat berisi tabung yang digunakan untuk mengetes pasien virus corona varian omicron di Munich, Jerman. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Kasus lonjakan varian baru covid-19 terus terjadi.

Penyebarannya kian mengkhawatirkan sehingga sejumlah kebijakan dari pemerintah daerah mulai diberlakukan.

Seperti pelaksanaan kembali sistem belajar jarak jauh atau daring.

Diprediksi covid-19 di Indonesia akan sulit mencapai sebagai penyakit endemi.

Sebaliknya masih menjadi apedemi dengan kasus serentak dan akan terjadi naik turun.

Pakar Epidemiologi Griffith University, Dicky Budiman Indonesia memprediksi jika setelah Omicron, endemi covid-19 belum akan terjadi.

"Perlu diketahui semakin ke sini, kami para epidemiologi di pusat riset dunia semakin mendekati pada prediksi bahwa penyakit ini bukan menjadi endemi. Karakternya cukup kuat. Penyakit Covid-19 ini akan menjadi epidemi," ungkap Dicky pada Tribunnews, Jumat 21 Januari 2022 dikutip dari Tribunnews.com

Apakah Omicron Pertanda Covid akan Berakhir ? Mantan Menkes Siti Fadilah Setuju Teori Bill Gates

Menurut Dicky mengatakan situasi epidemi akan naik turun, bakal ada gelombang kasus dan penurunan kasus.

Semua itu dipengaruhi dengan intervensi dari pemerintah lewat kebijakan yang dikeluarkan dan ditetapkan.

Dimulai dari aspek testing, treacing dan treatment (3T), protokol kesehatan dan vaksin Covid-19.

Melihat situasi saat ini, untuk mencapai endemi bisa dikatakan cukup sulit.

Hal ini dikarenakan ada beberapa faktor. Satu di antaranya adalah dalam populasi selalu ada yang tidak divaksin.

Selain itu untuk mencapai endemi angka reproduksi dijaga dan terjadi satu atau kurang.

"Tapi sulit, karena adanya masyarakat rawan, karena lahir, anak belum divaksinasi, kemudian ada fakta bahwa kekebalan yang timbul dari Covid-19 tidak lama," kata Dicky.

Hingga saat ini, pandemi COVID-19 masih menerjang Indonesia. Kasus pertama kali COVID-19 terjadi di Wuhan, China pada 2019.

Lalu, kenapa COVID-19 dikatakan pandemi ?

Pada penyebaran suatu penyakit, ada beberapa tingkatan yang terjadi.

Penyakit endemi berkembang menjadi epidemi.

Jika penyebarannya meluas hingga seluruh dunia, maka itu disebut pandemi.

World Health Organization (WHO) memutuskan COVID-19 sebagai pandemi global pada 11 Maret 2020.

Namun, berjalan satu tahun, penyebaran COVID-19 masih belum berhenti.

Pernyataan terbaru dari WHO bahwa COVID-19 sebagai penyakit endemik.

Oleh karena itu, penyakit ini akan terus ada dan tidak sepenuhnya hilang.

Berikut pengertian dari tiga tingkatan penyebaran penyakit dikutip dari web Universital Airlanggan Fakultas Perawatan

Pengertian Endemi

Endemi adalah penyakit yang muncul dan menjadi karakteristik di wilayah tertentu, misalnya penyakit malaria di Papua.

Contoh penyakit lainnya di Indonesia yaitu Demam Berdarah Dengue (DBD).

Penyakit ini akan selalu ada di daerah tersebut, namun dengan frekuensi atau jumlah kasus yang rendah.

Pengertian Epidemi

Epidemi terjadi ketika suatu penyakit telah menyebar dengan cepat ke wilayah atau negara tertentu dan mulai memengaruhi populasi penduduk di wilayah atau negara tersebut.

Contoh penyakitnya ada Virus Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) pada 2019, flu burung (H5N1) di Indonesia pada 2012, SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) pada tahun 2003, penyakit Ebola di Negara Afrika.

Pengertian Pandemi

Pandemi adalah wabah penyakit yang terjadi serempak dimana-mana, meliputi daerah geografis yang luas (seluruh Negara/benua).

Dengan kata lain, penyakit ini sudah menjadi masalah bersama bagi seluruh warga dunia.

Contoh penyakit pandemi: HIV/AIDS dan COVID-19. Influenza juga dahulu pernah menjadi penyakit kategori pandemi dan menyebar seluruh dunia.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved