PTM Terbatas Dimulai, Siswa di Sekadau Akui Senang Belajar Offline
Sementara bagi guru yang bertugas di wilayah pedalaman harus berjuang untuk dapat menjangkau para muridnya dari pintu ke pintu.
Penulis: Marpina Sindika Wulandari | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SEKADAU - Sejak awal tahun 2020, pembelajaran tatap muka mulai dialihkan secara bertahap menjadi pembelajaran secara daring/online.
Akibat adanya pandemi Covid-19, berbagai keluhan pun disampaikan oleh orang tua siswa maupun para siswa.
Di sisi sebaliknya, para guru harus berjibaku dengan tantangan baru, dimana para guru dituntut untuk mampu memberikan pelajaran dengan berbagai metode baru.
Sementara bagi guru yang bertugas di wilayah pedalaman harus berjuang untuk dapat menjangkau para muridnya dari pintu ke pintu.
• Disdik Sekadau Mulai PTM di Seluruh Sekolah Tingkat PAUD, SD dan SMP
Sekarang, memasuki tahun ajaran 2022, pemerintah memulai kembali pembelajaran tatap muka (PTM) di berbagai tingkatan sekolah.
Mulai dari Ting PAUD, SD, SMP dan SMA/SMK, begitupula yang terjadi di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.
Hampir semua sekolah sudah melaksanakan PTM terbatas sejak awal Januari 2022 dengan pengawasan langsung dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sekadau.
Hal itupun disambut gembira oleh para siswa, satu diantaranya Gevan (14) seorang pelajar di salah satu SMP di Kabupaten Sekadau. Ia mengaku senang, dapat kembali belajar di sekolah.
"Senang sekolah lagi, ketemu kawan-kawan. Tapi sekarang tidak semua kawan sekelas masuk sama-sama. Kami giliran kelas," ungkapnya.
Meski jumlah siswa dalam satu kelas dibatasi, para siswa itu tetao bersemangat untuk mengikuti pelajaran. Bahkan menurut salah satu siswa SMA, Nani (17) pembelajaran secara terbatas itu dapat lebih mudah dipahami.
"Di kelas tidak terlalu ramai, jadi bisa lebih fokus. Dibagi juga kan jam pelajarannya, ada yang pagi, siang. Enak sih," ujarnya.
Untuk pelajaran, menurutnya lebih mudah dipahami karena dalam sekali pertemuan hanya membahas satu hingga dua materi. Sehingga tidak memberatkan pelajar.
Kondisi tersebut pun diterima oleh orang tua siswa, dimana menurut Emilia (47) jam masuk sekolah yang bergiliran pagi dan siang juga menguntungkan orang tua.
Jika masuk pagi maka siswa akan cepat pulang dan dapat membantu orang tua di rumah, begitupula sebaliknya.
Untuk jumlah siswa di dalam kelas yang terbatas, Emilia pun bersyukur karena meskipun sudah tatap muka tetapi protokol kesehatan tetap diterapkan oleh pihak sekolah.
Meski begitu Ia berharap kedepan proses belajar mengajar dapat berjalan dengan normal seperti sediakala.
"Keadaan begini kita masih sama-sama rawan, tapi anak harus sekolah. Semoga secepatnya bisa kembali normal lah, mau online terus orang tua juga tidak mampu beli kuota mahal," pungkasnya. (*)
(Simak berita terbaru dari Sekadau)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/wulan-011022-ptms.jpg)