Pesan Jangan Eksploitasi Alam Semaunya, Uskup Sintang : Aturan yang Ada Ditegakkan

Menurut Uskup, Tuhan memberikan perintah agar manusia mengelola alam secara bertanggungjawab dengan menghormati hukum alam dan ekositem

Penulis: Agus Pujianto | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Dok Foto Prokopim Sintang
Uskup Sintang, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFM (tengah) saat menjadi narasumber seminar yang digelar ISKA yang mengambil topik soal rekonstruksi Sintang pasca bencana banjir demi keberlanjutan pembangunan dan penguatan jati diri yang digelar ISKA belum lama ini. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Uskup Sintang, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFM mengungkapkan bencana alam terjadi karena dua hal. Pertama, terjadinya perubahan bumi karena peristiwa alamiah ekosistem alam itu sendiri dan karena adanya campur tangan manusia.

"Pertambahan jumlah manusia dengan beragam kebutuhanya, dari waktu ke waktu meningkatkan eksploitasi terhadap alam," kata Mgr. Samuel Oton Sidin saat menjadi narasumber seminar yang digelar ISKA yang mengambil topik soal rekonstruksi Sintang pasca bencana banjir demi keberlanjutan pembangunan dan penguatan jati diri, belum lama ini.

Peraih Penghargaan Kalpataru tahun 2012 ini menyampaikan bumi tercipta dengan aturan khusus yang disebut dengan ekosistem atau hukum alam.

Pada tahun 1963 terjadi banjir besar di Sintang. Saat itu alam masih terpelihara. Menurutnya, banjir saat itu karena proses alami, bukan karena kerusakan alam.

"Dan banjir sekarang, disamping karena cuaca ekstrim, tetapi ada pengaruh dari campur tangan manusia terhadap daerah resapan air. Terjadi eksploitasi sungai yang luar biasa. Saya sering mudik ke hulu, di kiri dan kanan sungai Kapuas dan melawi bahkan di tengah sungai, begitu banyak peralatan manusia yang mengeksploitasi dan mencari emas,” ungkap Samuel Oton Sidin.

Bupati Jarot Harap ISKA Sintang Jadi Lokomotif Gerakan Solidaritas Tanpa Sekat

Menurut Uskup, Tuhan memberikan perintah agar manusia mengelola alam secara bertanggungjawab dengan menghormati hukum alam dan ekositem. Menurutnya, dosa ekologis terjadi apabila manusia merusak alam.

"Perlunya iman yang mendasar, bahwa manusia menguasai alam tidak dengan sebebas-bebasnya, tetapi dengan bertanggungjawab dan mentaati hukum alam," tegasnya.

Secara moral, ujar Uskup orang tidak pernah merasa puas dan memiliki sifat egois, mengambil semuanya bahkan berlebihan. Orang ingin mendapatkan banyak dengan cara mudah, tanpa memperhitungkan dampak negatifnya.

"Saya menyebutnya gaya hidup cepat saji. Iman dan moral manusia perlu dibenahi," katanya.

Kedepan, menurut Uskup perlu diambil langkah untuk menanam kembali pohon, menjaga hutan yang masih utuh, dan memperhatikan ekosistem dan hukum alam. Ditegaskannya, jangan lagi mengeksploitasi alam semaunya, tanpa memperhatikan aturan yang ada.

"Aturan yang ada ditegakan, ada sanksi bila dilanggar. Setiap manusia harus bertanggungjawab menjaga bumi seperti sebuah keluarga yang menjaga rumahnya. Karena bumi ini atau rumah ini, merupakan satu-satunya. Dampak negatif dari rusaknya alam, pasti membawa kerugian bagi manusia dan diperparah bila manusia tidak siap menghadapi perubahan. Alam berubah, maka sikap, prilaku, dan aktivitas manusia juga harus berubah. Aturan soal pengelolaan alam sudah ada, hanya penerapan belum baik. Pengawasan dan sanksi belum berjalan," pesan Uskup Sintang. (*)

(Simak berita terbaru dari Sintang)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved