Breaking News:

Waspada! Suspek Omicron di Kalbar 9 Kasus, Berikut Penjelasan Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson

Hal penting lainnya yakni masyarakat juga harus disiplin melaksanakan prokes.

Editor: Jamadin
TRIBUNPONTIANAK/Anggita Putri
Kadiskes Kalbar, Harisson saat ditemui di Ruang Kerjanya, Senin 13 Desember 2021. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK -  Laboratorium Rumah Sakit Untan mulai melakukan skrining sampel swab PCR untuk mendeteksi Covid-19 varian Omicron sejak 16 Desember 2021. Hingga 20 Desember kemarin, ditemukan ada sembilan sampel probable atau diduga Omicron.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Harisson mengungkapkan hasil tersebut berdasarkan pemeriksaan dengan metode S-gene target failure (SGTF) di Laboratorium Untan. “Dari sembilan sampel probable Omicron ini ada satu warga Sambas yang baru pulang dari Sarawak, Malaysia, dan delapan orang lainnya warga di luar Kalbar,” ujar Harisson pada Senin 20 Desember 2021.

Satu warga Sambas yang dinyatakan probable masuk dari pintu masuk PLBN Aruk, Kabupaten Sambas, dan delapan orang melalui PLBN Entikong, Kabupaten Sanggau. “Terhadap sembilan orang ini sedang dilakukan isolasi sampai menunggu hasil WGS dari Litbangkes Jakarta,” ujarnya.

Jumlah sembilan kasus suspek Omicron ini melonjak delapan kasus dibandingkan rilis yang disampaikan Harisson, sehari sebelumnya. Pada Minggu 19 Desember 2021, Harisson menyampaikan baru satu suspek Omicron dari PMI yang masuk dari PLBN Aruk.

Harisson mengatakan terhadap sampel yang sudah diketahui probable hasil SGTF di Lab Untan langsung dikirim ke Badan Litbangkes di Jakarta. Hasil pemeriksaan di Jakarta itu akan memastikan apakah itu varian Omicron atau bulan.

Cegah Varian Omicron, Pemkot Singkawang Optimalkan Pemerataan Vaksinasi

Dalam hal ini, kata Harisson, Litbangkes juga meminta setiap hari sampel positif dari pekerja migran Indonesia (PMI) untuk dikirim ke Jakarta.

Ia katakan saat ini tidak ada kebijakan yang berubah. PMI, warga negara asing, atau juga WNI yang masuk melalui PLBN harus mengantongi surat PCR negatif dari negara asalnya. “Jadi sudah harus di PCR di Sarawak maksimal tiga hari. Kemudian baru boleh masuk lewat PLBN. Dari situ dia pada hari pertama langsung dilakukan PCR lagi. Sementara menunggu hasil PCR mereka dikarantina 10 hari,” jelasnya.

Apabila hasil tes PCR positif maka sampelnye dikirim ke Untan untuk dilihat apakah probable Omicron atau bukan. Walaupun hasil PCR negatif, yang bersangkutan tetap dilakukan karantina selama 10 hari. “Setelah hari ke sembilan dilakukan pemeriksaan untuk keluar. Kalau negatif dia boleh melanjutkan perjalanan. Namun kalau positif lagi. Maka akan diisolasi selama 10 hari lagi,” tegas Harisson.

Harisson menambahkan dalam pengamatan sejauh ini PMI yang kembali ke Indonesia melalui PLBN di Kalbar banyak yang tidak dilakukan swab PCR di negara asal yakni dari Sarawak.

Padahal menurut SE Nomor 25 Satgas Covi-19 Nasional, bagi PMI yang akan kembali ke Indonesia harus diswab PCR terlebih dulu. “Namun kenyataannya dalam pengamatan kami banyak yang tidak di swab di Malaysia. Setelah itu dibiarkan saja pulang ke Indonesia. Kami tetap harus terima dan memang kami lakukan PCR di hari pertama datang untuk memastikannya,” jelasnya.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved