Breaking News:

TAK MAU Tangani 2 Bencana Sekaligus, Saragih Minta PUPR Kaji Bangun Tanggul Cegah Banjir di Sintang

Saragih menegaskan tak ingin menghadapi dua bencana sekaligus jika tanggul dipasang sebelum dikaji dan disosialisasikan kepada masyarakat.

Penulis: Agus Pujianto | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK/Prokopim Setda Sintang
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sintang, Bernhad Saragih 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,SINTANG - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sintang, Bernhad Saragih meminta tim Tanggap Darurat Kementrian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat Direktorat Jenderal Sumber Daya Air mengkaji lebih dalam soal rencana pembangunan tanggul dengan geotube-geobag sebagai langkah darurat antisipasi banjir dampak La Nina di Kabupaten Sintang.

Saragih menegaskan tak ingin menghadapi dua bencana sekaligus jika tanggul dipasang sebelum dikaji dan disosialisasikan kepada masyarakat, khususnya yang berada di bantaran sungai.

“Saya tidak ingin menangani dua bencana nantinya. Satu bencana alam, satu bencana sosial gara-gara geobag ini. Bencana alam banjir saja saya kelabakan, apalagi ada bencana sosial yang terjadi karena pemasangan geobag," ujarnya.

"Jadi coba dikaji benar benar. Makanya saya berfikir kenapa pusat tidak mengajak daerah berembuk (sebelum memutuskan untuk membuat geobag), minimal dengan tokoh masyarakat diajak diskusi,” kata Saragih, Jumat 26 November 2021. 

Tanggap Darurat Banjir Antisipasi Dampak La Nina di Sintang, Tanggul Geotube & Geobag Akan Dipasang

Sejak awal, Saragih berpikir pembuatan tanggul bukan solusi tepat mengatasi banjir di Sintang. Bahkan, saat ditanya oleh Gubernur Kalbar, Sutarmidji, kepala BPBD Sintang itu tak setuju dengan rencana PUPR.

“Saya berfikir gak mungkin geobag dipasang.  Saat ditanya Gubernur, saya bilang tidak setuju.  Itu bukan solusi. Yang saya tahu, Geobag itu fungsinya satu menahan ombak, dua menahan masuknya limpasan air ke darat. Bagaimana kita menahan ombak, sungai kita ndak ada ombak, kecuali ada speedboat lewat. Geobag untuk menahan limpasan air, benar," ujarnya.

"Tapi kita banyak sungai kecil-kecil walaupun tidak produktif. Tapi pada saat musim hujan apabila sungai kita meluap, pada saat surut nanti, itu sungai harus mengalir kembali, kalau kita buat tanggul, terkunci airnya. Saya berfikir geobag kalau tujuannya untuk supaya tidak ada limpasan air dari sungai, riskan itu,” jelas Saragih. “Belum lagi kalau sebagian badan jalan dipakai untuk pondasi geobag 1,8 meter. Nanti hanya satu mobil yang bisa lewat.”

Menurut Saragih, ada 4 penyebab banjir. Meski tak menyebut secara spesifik, menurutnya banjir terjadi akibat terjadi pendangkalan sungai karena adanya aktivitas ekonomi di sungai yang menyebabkan sungai melebar namun dangkal. Aktivitas ekonomi di daratan juga menyebabkan sedimentasi, kerusakan DAS  dan pendangkan di muara sungai.

“Pendangkalan di muara laut menyebabkan air kita tidak bergerak. Itu jak penyebabnya, seyognyanya ini bisa dicari solusi dikemudian hari. Geobag inikan dipasang untuk tanggap darurat, menghadapi dampak curah hujan tinggi La Nina Januari-Februari 2021. Prinsipnya, kalau masyarakat oke, saya pun Ok,” tegas Saragih. (*)

[Update informasi Seputar Kabupaten Sintang]

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved