Breaking News:

Belasan Unit Komputer di Ponpes Darul Ma'arif Sintang Terendam Banjir

Slamet bersyukur, selama bertahan di pesantren dari banjir besar, kebutuhan makan dan minum tercukupi, baik santri maupun pengasuh.

Penulis: Agus Pujianto | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Agus Pujianto
Genangan banjir: Komplek Pondok Pesan Darul Ma’arif, Kelurahan Alai, Kecamatan Sintang, masih terendam banjir. Lebih dari satu bulan kawasan pondok pesantren ini kebanjiran. Bahkan, banjir sudah merendam lembaga pendidikan agama ini sejak tanggal 23 Oktober 2021. Saat upacara peringatan Hari Santri Nasional (HSN), diselenggarakan di tengah banjir. Sampai dengan Senin, 22 November 2021, tinggi muka air di halaman Ponpes Darul Ma’arif Sintang diperkirakan masih sekitar 80 centimeter. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Meski banjir di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, surut cukup signifikan, sejumlah kawasan pemukiman dan fasilitas pendidikan masih terendam banjir luapan sungai Kapuas dan melawi.

Seperti di komplek Pondok Pesan Darul Ma’arif, Kelurahan Alai, Kecamatan Sintang. Lebih dari satu bulan kawasan pondok pesantren ini terendam banjir. Bahkan, banjir sudah merendam lembaga pendidikan agama ini sejak tanggal 23 Oktober 2021. Saat upacara peringatan Hari Santri Nasional (HSN), diselenggarakan di tengah banjir.

Sampai dengan Senin, 22 November 2021, tinggi muka air di halaman Ponpes Darul Ma’aarif Sintang diperkirakan masih sekitar 80 centimeter.

“Sekarang di halaman masih sekitar 80 centimeter. Kalau di bangunan lokal sudah kering, Alhamdulillah. Asrama putra dan putrid, gedung sekolah sudah kita bersihkan semua,” kata Slamet Arda Billy, pengasuh Ponpes Darul Ma’arif Sintang.

Daniel Johan Desak KLHK Cek DAS Kapuas dan Melawi Terkait Banjir Sintang

Puncak banjir merendam kawasan Ponpes Al-Ma’arif tinggi muka airnya mencapai 156 centimeter. Banjir merendam asrama putra-putri, termasuk gedung sekolah. Meski saat ini sejumlah lokal dan asrama sudah kering, halaman pesantren masih teredam banjir.

Sejak banjir besar melanda Sintang, pimpinan Ponpes Darul Ma’arif memutuskan untuk memulangkan santrinya ke rumah masing-masing. Hanya ada beberapa santri yang bertahan, untuk membantu mengevakuasi barang. “Sekitar 500 santri kita pulangkan. hanya ada beberpa saja untuk membantu evakuasi barang, dokumen penting terutama di kantor,” kata Slamet.

Slamet tak menduga, banjir kali ini sangat besar. Bahkan disebut-sebut terbesar dalam kurun waktu 40 tahun terakhir.

Meski sudah berupaya maksimal mengevakuasi barang-barang penting ke tempat lebih aman, namun belasan unit komputer, dokumen penting, hingga rapot santri terendam banjir.

“Kita sudah berupaya mengevakuasi. Setelah banjir mulai surut, kami bersihkan asrama putrid, dalam lemari kami temukan 47 rapot yang terendam 10. Komputer, yang banyak, diperkirakan 15 unit. Computer server dua unit. Meja kayunya kroos, ambruk," ungkap Slamet.

Slamet bersyukur, selama bertahan di pesantren dari banjir besar, kebutuhan makan dan minum tercukupi, baik santri maupun pengasuh.

“Insya Allah kita walaupun banjir kita di lantai 2 kita tetap belajar. Selain itu, semuanya harus kita jaga karena ada barang yang perlu kita jaga, karena ini musibah takutnya dimanfaatkan. Soal kebutuhan makan dan minum kita beli. Ada juga bantuan dari Masjid An-Nur setiap hari satu kali,” ujar Slamet. (*)

(Simak berita terbaru dari Sintang)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved