Upaya Pemkot Pontianak Antisipasi Genangan Banjir
"Untuk ketinggian genangan ini bervariasi, tapi kalau air pasang tinggi 1,8 cm dari permukaan laut dan hujan, maka bisa 80 persen wilayah Kota Pontian
Penulis: Faisal Ilham Muzaqi | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Dalam mengantisipasi terjadinya genangan banjir di Kota Pontianak, Pemerintah Kota Pontianak terus melakukan berbagai upaya.
Pasalnya Kota Pontianak sebagai ibukota provinsi Kalimantan Barat yang berada di muka bumi hanya 0,2-1, 2 centimeter di atas permukaan laut, pada topografi seperti ini, tentu sangat rentan terhadap genangan banjir.
Wali kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan sudah sejak tahun 1980 an Kota Pontianak sering terjadi genangan banjir, bahkan pada tahun 1990 an, kata dia, genangan banjir bisa 50 persen wilayah Kota Pontianak tergenang.
Namun karena semakin pesatnya jumlah penduduk dan pembangunan seperti perumahan, dua tahun terakhir ini dampak dari genangan tersebut sangat dirasakan oleh masyarakat.
"Untuk ketinggian genangan ini bervariasi, tapi kalau air pasang tinggi 1,8 cm dari permukaan laut dan hujan, maka bisa 80 persen wilayah Kota Pontianak tergenang dengan durasi 6 jam atau mengikuti air pasang surut, jika air pasang surut maka genangan juga akan surut, " katanya.
Untuk itu, pihaknya terus berkolaborasi dengan semua pihak, baik komunitas, akademisi, praktisi, masyarakat, RT/RW, BWS Kalimantan I Pontianak dan semuanya untuk mengantisipasi genangan banjir.
Kota Pontianak yang dikenal sebagai Kota seribu Parit, kata Edi, diharapkan tidak hanya sebagai drainase atau area pasang surutnya air, akan tetapi parit menurutnya juga harus menjadi kawasan yang produktif, baik secara ekonomi maupun wisata.
• Minum Miras Oplosan, 3 Warga Binaan di Lapas Kelas II A Pontianak Keracunan
Kita harus Kota yang tangguh terhadap banjir terhadap bencana maka kita harus mitigasi permasalahannya mulai dari latar belakang atau kondisi keberadaan Kota Pontianak, bagaimana bisa merekayasa supaya tidak terjadi bencana terutama banjir. Tentu ini tidak bisa dengan waktu singkat namun berkelanjutan. Namun kita sudah punya masterplan untuk mengatasi masalah itu, " katanya.
Maka keterlibatan semua pihak, kata dia, merupakan proses yang didapatkan dari masyarakat, akademisi dan praktisi untuk mensukseskan program Kota Pontianak tangguh terhadap banjir.
"Karena tanpa keterlibatan semuanya termasuk masyarakat maka apa yang direncanakan akan sulit terwujudkan kalau masyarakat tidak mau mendukung," katanya.
Bentuk tantangan yang dihadapi saat ini adalah meningkatnya kesadaran masyarakat, untuk disiplin dan bersama-sama menjaga lingkungan. Pasalnya ketidakpatuhan masyarakat seperti membuang sampah sembarangan, menutup parit, pembangunan di badan parit yang perlu diberikan edukasi.
Seharusnya, kata Edi, parit-parit yang ada di Kota Pontianak harus terkoneksi, harus terkelola dengan baik sehingga aliran air tetap lancar.
Meskipun Kota Pontianak belum terjadi banjir yang terlalu besar, seperti di hilirnya sungai kapuas yang saat ini bahkan menelan korban jiwa, namun Kota Pontianak, kata dia, akan terus melakukan upaya pencegahan dan pengendalian serta antisipasi agar tidak terjadi banjir yang lebih besar.
"Selain paret bersih, tapi edukasi agar kesadaran masyarakat tinggi untuk peduli terhadap lingkungan, " jelasnya.
Sementara itu, Kadis PUPR Kota Pontianak, Firayanta menyampaikan, bahwa penanganan parit agar tetap bersih merupakan tanggung jawab bersama dan menjadi permasalahan yang kompleks, maka dengan diskusi dan kolaborasi dengan berbagai pihak bisa memetakan permasalahan-permasalahan genangan banjir di kota Pontianak dan bisa mendapat beberapa solusi yang dijadikan acuan dalam penanganan Parit tetap bersih di kota pontianak terutama berkaitan dengan penanganan banjir, persampahan, dan budaya atau perilaku masyarakat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/warga-membersihkan-sampah-di-parit-tokaya-pontianak-selatan-543463.jpg)