Banjir Sebabkan Stok Sembako Menipis dan Harga Naik, Disperindag Ingin Bantu Tapi Belum Ada Dana

Sudirman masih akan melaporkan ke Plh Bupati Sintang, Yosepha Hasnah soal kondisi stok sembako di Binjai Hulu yang mulai menipis.

Tayang:
Penulis: Agus Pujianto | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Istimewa
Banjir hampir merata merendam ruas jalan Sintang-Binjai. Mobilisasi warga, hanya bisa menggunakan sampan atau speedboat. Banjir menyebabkan mobilisasi kendaraan lumpuh total. Sementara mobilisasi hanya bisa menggunakan speead boat atau perahu dengan biaya terlampau mahal. Akibatnya, komoditas harga pangan naik, warung kecil tutup, dan BBM sulit diperoleh. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Kepala Dinas Perindustrian, Pedagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Sintang, Sudirman mengaku prihatin dengan bencana alam banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Sintang.

Sebenarnya, kata Sudirman pihaknya berkeinginan untuk membantu warga terdampak banjir, misalnya dengan menggelar operasi pasar murah, namun dia mengaku ada keterbatasan anggaran.

"Kita sangat prihatin kondisi tersebut, terutama bagi warga kita yang berada di pinggiran sungai, dengan kondisi ini mereka, ya, tentunya kehilangan mata pencaharian. Nah, kami selaku dinas perindagkop dan UKM berkeinginan (membantu) tapi karena kemampuan kita masih belum ada. Tapi paling tidak kita menandakan pemerintah hadir dengan kondisi ini, melalui semacam misalnya operasi pasar, (tapi) sampai sekarang anggaran kita belum ada, itu saja" kata Sudirman dikonfirmasi Tribun Pontianak, soal stok sembako menipis di Kecamatan Binjai Hulu, akibat ruas jalan lumpuh terendam banjir, Senin 01 November 2021.

Sudirman membenarkan, soal kenaikan harga kebutuhan pokok di Binjai Hulu. Hal itu disebabkan stoknya menipis karena akses transportasi darat lumpuh akibat banjir.

Nyaris Sebulan Jalan Sintang-Binjai Lumpuh, Stok Sembako Mulai Menipis

"Betul, harga sembamo di binjai sudah mulai naik, karena kenaikan harga stok mungkin berkurang, karena akses. Saya sudah minta informasi dari masing-masing kecamatan terhadap ketersediaan stok sembako, terutama gas. Kemudian juga, air bersih," jelasnya.

Sudirman masih akan melaporkan ke Plh Bupati Sintang, Yosepha Hasnah soal kondisi stok sembako di Binjai Hulu yang mulai menipis.

"(Soal mengirim sembako ke binjai) Seharusnya harus, seharusnya dilakukan, nanti kita beri masukan pada pimpinan lah, ya, untuk mengambil kebijakan," jawabnya.

Lumpuhnya akses transportasi darat jalan poros Sintang-Binjai sejak beberapa pekan terakhir menyebabkan komoditas harga sembako naik, stoknya pun kini menipis.

Terputusnya jalan darat menyebabkan mobilisasi kendaraan tersendat. Jalur alternatif yang bisa digunakan, hanya transportasi air.

"Intinya harga masih stabil. Cuma stoknya sudah menipis sehubungan sudah beberapa pekan masih musibah banjir melanda yang mengakibatkan putusnya transportasi darat khususnya jalan poros atau lintas Sintang-Ketungau. Sehingga jalur sungai menjadi alternatif angkutan," ujar Kapolsek Binjai Hulu, Iptu Budi Santoso, Senin 1 November 2021.

Plt Camat Binjai Hulu, Jhoni mengungkapkan lumpuhnya akses darat berpengaruh terhadap ketersediaan stok sembako. Menurutnya, warga terdampak banjir saat ini juga memerlukan kebutuhan beras, minyak goreng.

"Kecamatan binjai terdiri dari sebelas 11 (desa) dengan adanya banjir pastilah sangat berpengaruh dengan ketersedian stok sembako karena cukup lama juga banjir merendam jalan poros yang menuju ke kecamatan binjai hulu. Kebutuhan harian seperti beras, minyak goreng, dan lainnya," kata Jhoni kepada Tribun Pontianak.

Informasi yang dihimpun Tribun Pontianak, Banjir hampir merata merendam ruas jalan Sintang-Binjai. Mobilisasi warga, hanya bisa menggunakan sampan atau speedboat. Kondisi sekarang air masih bertahan, bahkan naik. Sementara ongkos dari Simba-Sintang per orang Rp 80 ribu. Beda harga jika membawa kendaraan bermotor, ongkosnya berkali lipat menjadi Rp 250 ribu.

"Jalan terputus, karena akses ke kecamatan hanya melaui air dan menggunakan speed dan biaya cukup mahal juga. Ke kantor aja pakai jalur air," kata Jhoni.

Ada 3 desa terdampak banjir di Kecamatan Binjai Hulu. Antara lain: Desa Simba Raya, Ampar Bedang dan Mensiku.

Harga kebutuhan pokok mulai merangkak naik di Binjai Hulu, imbas dari lumpuhnya akses jalan darat Sintang-Binjai akibat terendam banjir.

Kenaikan sejumlah komoditas pangan dipengaruhi oleh tingginya biaya transportasi, yang disebabkan banjir melanda hampir 1 bulan di ruas jalan tersebut.

Banjir menyebabkan mobilisasi kendaraan lumpuh total. Sementara mobilisasi hanya bisa menggunakan speead boat atau perahu dengan biaya terlampau mahal.

Akibatnya, komoditas harga pangan naik, warung kecil tutup, dan BBM sulit diperoleh.

"Saat ini harga sudah mulao naik semua gara-gara banjir. Beras, gula, sayuran dan daging pokoknya yang menyangkut kebutuhan dapur hampir rata-rata semuanya naik. BBM pun mulai jarang ditemukan, soal harga masih bertahan di kisaran 10 ribu per liternya dari para pengecer khusus pertalit, sekarang banyak warung yang mulai kosong, Bang," kata Bambang, warga Desa Mensiku, Kecamatan Binjai Hulu, Kabupaten Sintang, kepada Tribun Pontianak, Senin 1 November 2021.

Menurut Bambang, hampir satu bulan jalan Sintang-Binjai tidak bisa di lewati kendaraan pada umumnya akibat banjir. Kondisi ini yang menyebabkan komoditas pangan naik.

"Sebenarnya harga barang normal namun yang buat naik yaitu biaya transportasi yang lumayan tinggi. Sekarang susah cari uang, Bang, mana kebutuhan pokok pada naik semua, banjir pun tak henti-hentinya pasang," ungkapnya.

Kelangkaan dan kenaikan harga sembako tidak hanya terjadi di Menski, tapi juga di wikayah Binjai Hulu, pada umumnya. Bahkan, Bambang menjumpai ad warung kecil yang memilih tutup, apalagi pedagang sayur.

"Kondisi ini tidak hanya di Mensiku tapi untuk wilayah binjai. Pas saya jalan kemarin memang banyak yang tutup khususnya warung-warung kecil, kecuali warung besar. Pas saya tanya kenapa tutup warungnya, mereka lebih memilih tutup untuk sementara banjir ini karena bingung mau jual barang di atas harga normal. Apalagi yang pedagang sayur kalau gak laku karena mahal mereka rugi besar. Udah gak sayur mahal transportasinya juga lumayan mahal, jadi sebagian masyarakat mengemukakan susahnya untuk mendapatkan penghasilan di musim banjir seperti saat ini," beber Bambang.

Banjir hampir merata merendam ruas jalan Sintang-Binjai. Mobilisasi warga, hanya bisa menggunakam sampan atau speedboat.

"Air bukan bertahan, malah naik sekarang. Ongkos dari Simba-Sintang per orang Rp 80 ribu, kalau bawa motor Rp 250 ribu," kata Haryanto.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang, Yustinus mengimbau kepada OPD terkait agar melakukan pemantauan terhadap ketersediaan stok barang dan harga kebutuhan pokok di wilayah terdampak banjir di Kabupaten Sintang.

Menurut Yustinus, upaya ini perlu dilakukan untuk mengantisipasi kelangkaan kebutuhan pokok di wilayah terdampak banjir, seperti di Kecamatan Binjai.

"Kami mengimbau kepada OPD terkait untuk melakukan pemantauan terhadap ketersediaan stok barang dan harga kebutuhan Pokok yang ada di Lokasi daerah Banjir, jangan sampai terjadi kelangkaan yang menyebabkan harga sembako menjadi naik," kata Yustinus kepada Tribun Pontianak, Senin 1 November 2021.

Yustinus mengatakan, Kondisi Banjir di Kabupaten Sintang yang masih bertahan kurang lebih satu minggu ini, tidak bisa dihindari karena curah hujan tinggi masih terjadi di perhuluan sungai.

"Terkait banjir yang masih bertahan kurang lebih satu minggu ini, tentu tidak bisa kita hindari karena curah hujan di Kab Sintang sampai perhuluan yang cukup tinggi. Dan ini berdampak terhadap persediaan sembako yang ada di pedesaan dan kecamatan yang terdampak banjir mengalami kekurangan, sehingga secara tidak langsung juga berimbas kepada harga barang-barang tersebut, karena tidak bisa memasok barang," jelas Yustinus. (*)

(Simak berita terbaru dari Sintang)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved