Breaking News:

Polda Kalbar Masih Lakukan Pengembangan Terkait Kasus Pinjol Ilegal di Pontianak

Diberitakan sebelumnya, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kalbar menggrebek kantor Pinjaman Online (Pinjol) di Kota Pontianak pada 15 Oktober 2021.

Penulis: David Nurfianto | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK/DESTRIADI YUNAS JUMASANI
Polisi menutup rumah yang dijadikan kantor pinjaman online di Gang Syukur 1, Jalan Veteran, Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu 16 Oktober 2021. Setidaknya ada 14 orang yang diamankan di kantor tersebut untuk dilakukan pemeriksaan oleh Polda Kalimantan Barat. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kelanjutan Kasus Perusahaan Pinjaman Online (Pinjol) PT. sumber Rezeki Digital Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Barat (Kalbar) sedang melakukan pengembangan.

"Kami masih melakukan pengembangan kasus," ujar Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kalbar Kombes Pol Luthfie Sulistiawan. Minggu 17 Oktober 2021

Diberitakan sebelumnya, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kalbar menggrebek kantor Pinjaman Online (Pinjol) di Kota Pontianak pada 15 Oktober 2021.

Penggrebekan ini dilakukan di salah satu rumah bernomor 18 di Gang Sukur 1, Kelurahan Benua Melayu Darat, Kecamatan Pontianak Selatan Kota Pontianak.

Pasca Digerebek Polisi, Kantor Pinjol Ilegal di Pontianak Tampak Sepi Tanpa Kegiatan

Dipimpin langsung Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kalbar Kombes Pol Luthfie Sulistiawan Penggerebekan perusahaan pinjaman online ini bermula dari laporan masyarakat.

Pihaknya menerima laporan dari masyarakat adanya sebuah rumah yang diduga digunakan sebagai kantor pinjaman online yang mengancam keselamatan dan merugikan masyarakat.

Saat digrebek, tim mendapati para karyawan tengah melakukan perkerjaanya. Total ada 14 pegawai PT. SRD yang diamankan oleh pihak kepolisian, dimana Mereka sebagian besar bertugas menjadi operator sekaligus Desk Collection (Descoll).​

Beberapa barang bukti sudah diamankan berupa 22 unit laptop, 18 unit handphone, 9 unit CPU komputer, 7 buah sim card, 3 buah modem dan dokumen-dokumen terkait pinjaman online tersebut.

Berdasarkan pemeriksaan, perusahaan pinjaman online itu memiliki 14 aplikasi yang​ tidak terdaftar di OJK. Perputaran uang yang dihasilkan dari praktik pinjaman online ilegal tersebut sebanyak Rp 3,25 Miliar.

Perusahaan yang berdiri sejak Desember 2020 ini memiliki karyawan aktif sebanyak 66 orang dan memiliki nasabah 1.600 orang. (*)

Update Informasi Seputar Kota Pontianak

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved