Dari Mana Asal Angin dan Apa yang Menyebabkan Angin Bertiup?

Asal angin adalah penyinaran atau radiasi matahari yang diterima oleh permukaan bumi berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya.

Tayang:
Editor: Nasaruddin
IST via Tribunnews
Ilustrasi angin kencang. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Angin adalah gerakan udara dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan rendah.

Demikian pengertian angin menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Pengertian angin lainnya adalah pergerakan udara yang disebabkan oleh pemanasan bumi yang tidak merata oleh matahari.

Angin tidak memiliki banyak substansi.

Maka dari itu, angin adalah rahasia alam semesta yang hanya dapat dirasakan dan tidak dapat dilihat secara langsung seperti apa bentuknya.

Mengapa Setiap Tanggal 16 Oktober Diperingati sebagai Hari Parlemen Indonesia?

Asal angin adalah penyinaran atau radiasi matahari yang diterima oleh permukaan bumi berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya.

Dalam penjelasan lain, perbedaan tekanan atmosfer lah yang akan menghasilkan angin.

Proses terjadinya angin selanjutnya adalah akibat perbedaan suhu udara, di mana daerah yang menerima lebih banyak penyinaran matahari akan memiliki suhu yang lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya.

Pada daerah bersuhu lebih tinggi, udara bergerak mengembang atau memuai sehingga tekanan udaranya rendah.

Sedangkan, pada daerah yang suhu udaranya lebih rendah, tekanan udaranya lebih tinggi.

Perbedaan tekanan udara ini akan mengakibatkan terjadinya gerakan udara dari daerah yang tekanan udaranya lebih tinggi ke daerah yang tekanan udaranya lebih rendah atau disebut gerak angin.

Kenapa Harus Yakin Pada Qada dan Qadar ? Apa itu Qada dan Qadar Allah SWT Kepada Manusia

Apa yang Menyebabkan Angin Bertiup?

Angin bertiup karena adanya perubahan suhu, yang mana kondisi ini berasal dari matahari.

Sebab, matahari lah yang pertama kali menghasilkan angin, seperti dikutip dari Science.

Energi yang dipancarkan matahari memanaskan udara di atmosfer bumi.

Udara mengembang saat hangat, membuat udara yang lebih hangat kurang padat dan 'lebih ringan' dari udara dingin, dan menciptakan wilayah bertekanan lebih rendah.

Selanjutnya, energi matahari yang terpancar ke bumi ini tidak merata.

Beberapa wilayah lebih panas dibanding wilayah lain begitupun sebaliknya.

Contoh yang bisa menunjukkan perbedaan yakni seperti wilayah kutub yang dingin dan wilayah khatulistiwa yang cenderung panas.

Perbedaan suhu dan tekanan antara massa udara inilah yang mendorong pola sirkulasi udara global, dan angin.

Alasan mengapa udara selalu bergerak dan tidak pernah diam adalah, karena sesuatu yang terjadi di alam setiap saat, segala sesuatunya selalu berusaha untuk merata atau yang sering dikenal dengan istilah difusi.

Jika tidak ada pergerakan angin, maka tidak akan ada banyak perubahan pada cuaca kita, dan kita tidak dapat memprediksi kondisi cuaca.

Berikut ini penjelasan jenis-jenis angin dan karakteristik dalam proses terjadinya:

1. Angin Fohn

Angin fohn adalah angin jatuh yang panas dan kering.

Maksud angin jatuh adalah angin yang menuruni lereng gunung setelah sebelumnya bergerak naik ke puncak gunung.

Pada saat angin naik ke puncak gunung, angin tersebut mengalami penurunan suhu dan terjadi pengembunan sehingga menjadikan turun hujan.

Pada saat melewati puncak gunung, angin tersebut telah kering dan turun melewati puncak.

Namun, suhu angin tersebut naik ketika bergerak turun menuju lembah.

Bahkan, ketika sampai lembah, angin tersebut suhunya lebih tinggi dari suhu udara di lembah, sehingga orang yang tinggal di lembah akan merasakan adanya aliran angin yang panas dan kering.

Angin ini pada awalnya dikenal di Jerman dan Austria, tepatnya di lereng utara pegunungan Alpen.

Namun, ternyata angin tersebut juga ada di tempat lain seperti di Amerika Serikat dan Kanada dengan nama angin Chinook.

Di Indonesia, angin fohn dikenal dengan sejumlah nama yang sebenarnya merupakan angin fohn.

Angin tersebut dinamai berbeda-beda, seperti angin Bohorok di Sumatera Utara, angin Kumbang di Cirebon, dan angin Gending di Probolinggo.

2. Angin Darat dan Angin Laut

Angin darat adalah angin yang bergerak dari arah darat ke laut, sedangkan angin laut adalah angin yang bergerak dari laut ke darat.

Terjadinya angin darat dan laut karena adanya perbedaan sifat fisik darat dengan laut, yaitu panas yang diterima dari radiasi matahari.

Daratan memiliki sifat lebih cepat panas dibandingkan dengan lautan.

Akibatnya pada siang hari, tekanan udara di daratan lebih rendah daripada di lautan.

Sehingga angin bergerak dari laut ke darat dan terbentuklah angin laut.

Sebaliknya pada malam hari, daratan lebih cepat dingin dibanding lautan sehingga tekanan udara di daratan lebih tinggi.

Sehingga bergeraklah udara dari daratan ke laut dan terbentuklah angin darat.

3. Angin Gunung dan Angin Lembah

Pada siang hari, bagian lereng gunung akan lebih banyak dipanasi sinar matahari dibandingkan bagian lembahnya.

Akibatnya, terjadi perbedaan tekanan udara antara lereng gunung dan lembah.

Lereng gunung tekanan udaranya lebih rendah dibandingkan lembah, sehingga angin bergerak dari lembah menuju lereng gunung.

Angin tersebut dikenal dengan nama angin lembah, sebaliknya pada malam hari lereng gunung suhunya lebih rendah dibandingkan dengan lembah.

Akibatnya tekanan udara di lereng gunung lebih tinggi dibandingkan dengan di bagian lembahnya, sehingga terjadilah angin gunung yang bergerak dari lereng gunung menuju lembah.

Seperti halnya angin fohn, angin gunung dan angin lembah terjadi pada gunung atau pegunungan yang tinggi.

Sumber: Kompas.com, Bobo, Tribunnews

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved