Agus Chusaini Jelaskan Penyebab Inflasi di Kabupaten Sintang
Agus mengaku mengikuti tren yang ada di Pontianak, Singkawang dan Sintang. Menurutnya, inflasi di Kabupaten Sintang tahun 2020 cukup tinggi, tetapi ta
Penulis: Agus Pujianto | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Barat, Agus Chusaini memandang Pemkab Sintang perlu membentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk menampung hasil pertanian agar dapat mengendalikan harga sembako, supaya tidak terjadi inflasi.
“Inflasi ini juga kami lihat disebabkan oleh agen-agen yang bermain. Maka menurut kami perlu ada BUMD yang bisa menampung hasil dari petani atau agen yang dikuasai oleh pemerintah untuk mengendalikan harga sembako. Petani itu pintar dalam menanam dan hasilnya pun melimpah, tetapi giliran menentukan harga bukan petani tetapi pihak lain,” kata Agus Chusaini, Jumat 8 Oktober 2021.
Agus mengaku mengikuti tren yang ada di Pontianak, Singkawang dan Sintang. Menurutnya, inflasi di Kabupaten Sintang tahun 2020 cukup tinggi, tetapi tahun 2021 ini inflasi Sintang turun drastis.
"Kami mendapatkan data bahwa ikan baong ini sebagai salah satu penyebab inflasi di Kabupaten Sintang. Lalu kami juga sudah mulai membudidayakan ikan baong di Kabupaten Sekadau. Kalau berhasil nanti, kami janji akan bantu mengembangkan ikan baong di Kabupaten Sintang juga, supaya ikan baong tidak terus menerus menjadi penyebab inflasi," ungkap Agus.
Soal TPID juga menjadi perhatian Agus. Apalagi, Kabupaten Sintang juga menjadi perhatian kami dalam hal angka inflasi ini.
• Pesan Maria Magdalena Kepada 287 Ketua PKK Desa se Kabupaten Sintang yang Baru Dilantik
“TP2DD di Kabupaten Sintang sudah mulai diberlakukan sejak 2021 ini. Digitalisasi transaksi di daerah ini merupakan instruksi langsung dari Presiden RI. TP2DD ini juga didorong untuk di perdakan. Digitalisasi transaksi ini mampu meningkatkan pendapatan asli daerah sekitar 15 sampai 30 persen dari sebelum menggunakan transaksi digital. Ini akan sangat membantu meningkatkan pendapatan asli daerah. 2022 kami harap transaksi digital sudah mulai jalan," jelasnya.
Plh Bupati Sintang, Yosepha Hasnah mengaku sempat bertanya BPS Sintang soal ikan baong menjadi penyebab inflasi.
"Ikan baong inikan suplainya tergantung orang yang memancing, belum ada budi daya ikan baong di Sintang. Tetapi mendengarkan penjelasan BPS bahwa ikan baong ini sangat diminati masyarakat Sintang, lalu ikan baongnya tidak banyak sehingga harganya mahal. Adanya ikan baong di pasar, tergantung para pemancing,” ujar Yosepha.
Soal TP2DD, Yosepua menyebut memang sudah kami bentuk. Dan akan terus mematangkan proses digitalisasi transaksi di Kabupaten Sintang. (*)
(Simak berita terbaru dari Sintang)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/kepala-bank-indonesia-perwakilan-kalimantan-barat-agus-chusaini-4w37.jpg)