Breaking News:

Muhammad Nangis Dengar Adzan, Tasbih Tak Pernah Lepas dari Tangan Berharap Kesembuhan

Sudah lima bulan ini keinginan Muhammad untuk beribadah di Masjid tertahan. Padahal, dia sangat ingin bisa seperti dulu lagi: mengumandangkan adzan, s

Penulis: Agus Pujianto | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK/AGUS PUJIANTO
Muhammad , hanya bisa terbaring lemah di atas kasur lantai menghadap televisi. Benjolan daging di lutut kaki kirinya membuatnya sulit bergerak. Diameter daging yang tumbuh itu kini lebih besar dari kepalanya. Bilur biru dari pembuluh darah menyembul, menyebar, memanjang sampai ke pangkal paha. Muhammad, menderita tumor ganas. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Belum usai doa selamat dipanjatkan, tangis Muhammad Pika Riski pecah. Dengan suara lirih dan sesenggukan, bocah berusia 13 tahun ini tetap menyelesaikan doa untuk keselamatan dunia dan akhirat sampai akhir ayat disertai tangisan. Hanya satu doa yang dipanjatkan Muhammad: berharap kesembuhan.

“Dia bilang ke saya, ‘Mak, kalau aku sehat nanti akan terus ke masjid, adzan, salat dan ngaji’. Dia memang salatnya ndak pernah tinggal,” kata Dahlia, ibu Muhammad menirukan keinginan anaknya.

Sudah lima bulan ini keinginan Muhammad untuk beribadah di Masjid tertahan. Padahal, dia sangat ingin bisa seperti dulu lagi: mengumandangkan adzan, salat berjamaah dan mengaji.

“Sekarang kalau dia dengar orang adzan kadang menangis. Dia bilang pengen pergi (ke masjid) mau adzan,” katanya, Jumat 24 September 2021.

Muhammad kini, hanya bisa terbaring lemah di atas kasur lantai menghadap televisi. Benjolan daging di lutut kaki kirinya membuatnya sulit bergerak. Diameter daging yang tumbuh itu kini lebih besar dari kepalanya.

Bilur biru dari pembuluh darah menyembul, menyebar, memanjang sampai ke pangkal paha. Muhammad, menderita tumor ganas.

Muhammad dibawa ke rumah sakit Ade M DJoen Sintang untuk menjalani pemeriksaan menyeluruh setelah pihak keluarga berdiskusi perihal tindakan operasi.
Muhammad dibawa ke rumah sakit Ade M DJoen Sintang untuk menjalani pemeriksaan menyeluruh setelah pihak keluarga berdiskusi perihal tindakan operasi. (TRIBUNPONTIANAK/AGUS PUJIANTO)

“Bulan April dia merasa nyeri sakit. Dioles minyak, nyeri ilang. Pertengahan bulan Mei mulai bengkak. Semakin besar, sampai sekarang,” katanya. Saat ini, Muhammada dan ibunya tinggal sementara di tempat keluarga di Gang Tani 1, Baning, Kecamatan Sintang.

Sebelum tumbuh benjolan di lutut, Muhammad sempat melanjutkan pendidikan di SMP Muhammadiyah. Berharap anaknya dapat pendidikan agama sekaligus pengetahuan umum.

Sayang, harapan itu tertunda untuk sementara. Cobaan itu datang. Rasa nyeri pada lutut yang sempat dialami Muhammad ternyata sel tumor. Lambat laun, benjolan semakin membesar. Muhammad, sulit berjalan.

“Saat masuk sekolah memang sudah bergejala. Baru seminggu di sana, terus bengkak. Kami putuskan untuk tunda sekolahnya,” katanya.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved