Bagaimana Sikap dan Peran Sunan Bonang dalam Menghadapi Tradisi Pancamakara?
Tradisi Pancamakara ini menjadi satu di antara perhatiaan Sunan Bonang saat mendakwahkan Islam.
Penulis: Nasaruddin | Editor: Nasaruddin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Masyarakat Jawa mengenal ritual pancamakara dalam ajaran tantrayana, yaitu sebuah upacara yang dilakukan dengan duduk mengelilingi makanan.
Di tengah-tengah duduk seorang Cakreswara (imam) sebagai pemimpinya membacakan mantra-mantra.
Tradisi Pancamakara ini menjadi satu di antara perhatiaan Sunan Bonang saat mendakwahkan Islam.
Bagaimana sikap dan peran Sunan Bonang dalam menghadapi tradisi Pancamakara akan kita lihat dengan lebih dulu mengenal siapa Sunan Bonang.
• Bagaimana Sikap Para Wali Terhadap Budaya-budaya Hindhu-Budha yang Sudah Menjadi Tradisi Masyarakat
Sunan Bonang adalah satu di antara wali songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa.
Sunan Bonang memiliki nama asli Mahdum Ibrahim.
Sunan Bonang adalah anak dari Sunan Ampel yang juga merupakan seorang wali songo.
Sunan Bonang mempelajari ilmu agama dari Sunan Ampel dan memperdalam ilmunya kepada pamannya Syekh Maulana Malik Ibrahim, di Aceh.
Sunan Bonang dikenal sebagai penyebar Islam yang mengusai ilmu fikih, usuluddin, tasawuf, seni, sastra, arsitektur dan ilmu bela diri atau silat.
Keluasan ilmunya dapat dilihat dari buku-buku sumber yang yang dijadikan rujukan dalam menulis Naskah Primbon Bonang.
• Mengapa Dakwah Wali Songo Dapat Diterima Baik oleh Penduduk Pribumi?
Naskah ini berisi ajaran tasawuf yang bersumber dari kitab-kitab klasik karangan ulama-ulama Sufi, seperti Imam Gazali, Abu Thalib Al-Makki, dan ulama-ulama lainnya.
Cara Dakwah Sunan Bonang dan Media yang Digunakan
Dalam berdakwah, Sunan Bonang memanfaatkan beragam cara khususnya seni dan sastra.
Media dakwah yang digunakan di antaranya adalah pertunjukan wayang, suluk, lagu dan juga alat musik bonang.
Selain itu Sunan Bonang juga memberikan keteladanan yang membuat orang semakin tertarik dengan dakwahnya.
• Kunci Jawaban Penilaian Akhir Semester Sejarah Kebudayaan Islam SKI Kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah
- Wayang
Wayang adalah satu di antara media yang digunakan Sunan Bonang dalam berdakwah.
Sunan Bonang sangat pandai memainkan wayang dan alat musik gamelan, yaitu bonang.
Beliau mulai menarik perhatian masyarakat dengan gending dan tembang yang berisikan pesan-pesan Islami.
Suara yang keluar dari bonang dan tembang yang berisi pesan-pesan Islami yang dimainkan Sunan Bonang dangat indah.
Sehingga masyarakat semakin penasaran dengan Islam.
Salah satu tembang yang dibawakan Sunan Bonang dan masih eksis sampai saat ini adalah Tamba Ati (Tombo Ati).
Nama Sunan Bonang diberikan karena kepiawaiannya memainkan bonang
Kisah dalam wayang yang disampaikan Sunan Bonang di antaranya bercerita tentang peristiwa kehidupan.
Dalam cerita itu disisipkan ajaran Islam dan pesan-pesan penting.
• Mengapa Dakwah Wali Songo Dapat Diterima Baik oleh Penduduk Pribumi?
- Suluk
Suluk adalah karya seni berbentuk sastra jawa yang isinya mengandung petuah–petuah ajaran kebaikan atau ajaran-ajaran yang
bernafaskan Islam kemudian dinyanyikan atau ditembangkan dengan tembang-tembang Jawa, serta diiringi dengan alat musik.
Suluk Wijil adalah karya Sunan Bonang yang sampai saat ini masih tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.
Dalam Suluk Wujil, yang ditulis Sunan Bonang dalam sastra Jawa, berisi pengetahuan tasawuf yang lebih mendalam, berbentuk tembang.
Sunan Bonang menciptakan suluk bernafaskan ajaran Islam yang digunakan untuk membantunya dalam berdakwah.
Naskah Primbon adalah tulisan Sunan Bonang, memuat ajaran tasawuf yang mendalam.
Tulisan ini merupkan hasil bacaannya yang bersumber dari kitab-kitab klasik, berisi ajaran Islam dan nasehat-nasehat para ulama yang merujuk tulisan ulama sebelumnya.
Seperti kitab Ihya’ Ulumuddin, karya Imam Al-Gozali, kitab Talkhis Al- Minhaj karangan Imam Nawawi, dan kitab-kitab lainnya.
• Mengapa Dakwah Wali Songo Dapat Diterima Baik oleh Penduduk Pribumi?
- Upacara Selamatan
Masyarakat Jawa mengenal ritual pancamakara dalam ajaran tantrayana, yaitu sebuah upacara yang dilakukan dengan duduk mengelilingi makanan.
Di tengah-tengah duduk seorang Cakreswara (imam) sebagai pemimpinya membacakan mantra-mantra.
Melihat tradisi yang dilakukan masyarakat saat itu, Sunan Bonang mengisi tradisi ini dengan upacara kenduri atau selamatan dengan doa-doa Islam.
Sebutan Anyakrawati (pemimpin lingkaran cakra) diberikan kepada Sunan Bonang karena ikut meneruskan tradisi dan mengubah isinya bernilai ajaran Islam.
Sumber: Buku SKI Kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/sunan-bonang-dan-tradisi-pancamakara.jpg)