Efek Samping Vaksin Sputnik-V ! Berapa Tingkat Efikasi Vaksin Sputnik-V ?

Vaksin Covid-19 Sputnik-V telah dapat izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)................

Editor: Jimmi Abraham
KONTAN.CO.ID
Ilustrasi vaksin Covid-19 Sputnik-V. 

Vaksin Covid-19 Sputnik-V diberikan dalam dua dosis dengan rentang tiga minggu Vaksin Covid-19 Sputnik-V yang telah digunakan banyak negara di dunia ini diberikan dalam dua dosis, masing-masing sebesar 0,5 mL.

Penyuntikan akan dilakukan dalam rentang waktu tiga minggu.

Vaksin Covid-19 Sputnik-V memiliki efikasi tinggi

Vaksin Covid-19 Sputnik-V memiliki tingkat efikasi yang cukup tinggi, hingga 91,6 persen.

“Sementara untuk efikasinya, data uji klinik fase 3 menunjukkan Vaksin COVID-19 Sputnik-V memberikan efikasi sebesar 91,6 persen (dengan rentang confidence interval 85,6 persen - 95,2 persen)," ujar Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito, dikutip dari laman resmi BPOM.

Ilustrasi vaksin Covid-19 Sputnik-V.
Ilustrasi vaksin Covid-19 Sputnik-V. (KONTAN.CO.ID)

Efek samping vaksin Covid-19 Sputnik-V 

Efek samping dari penggunaan Sputnik-V termasuk dalam tingkat keparahan ringan atau sedang.

Hal ini berdasarkan uji klinik vaksin ini dan sejumlah fasilitas kesehatan lainnya dari teknologi platform yang sama.

Keluhan yang paling umum dirasakan pasca suntik vaksin Covid-19 Sputnik-V misalnya gejala menyerupai flu (a flu-like syndrome), yang ditandai dengan demam, menggigil, nyeri sendi (arthralgia), nyeri otot (myalgia), dan badan lemas (asthenia).

Selain itu, adapula risiko munculnya ketidaknyamanan, sakit kepala, hipertermia, atau reaksi lokal pada lokasi injeksi.

Penyimpanan vaksin Covid-19 Sputnik-V

Vaksin Covid-19 Sputnik-V ini termasuk dalam kelompok vaksin yang memerlukan penyimpanan pada kondisi suhu khusus, yaitu pada suhu -20 derajat Celcius hingga 2 derajat Celcius.

Dikembangkan sejak awal pandemi

Vaksin Covid-19 Sputnik-V merupakan vaksin yang dikembangkan oleh The Gamaleya National Center of Epidemiology and Microbiology di Russia yang menggunakan platform Non-Replicating Viral Vector (Ad26-S dan Ad5-S).

Kombinasi kedua platform ini diharapkan bermanfaat untuk menghindari situasi di mana sistem kekebalan dapat belajar mengenali vaksin sebagai benda asing yang perlu dihancurkan.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved