Jokowi Sebut Krisis, Resesi dan Pandemi Seperti Api: Membakar Tetapi Sekaligus Menerangi
Kita ingin pandemi ini menerangi kita untuk mawas diri, memperbaiki diri dan menguatkan diri kita dalam menghadapi tantangan masa depan.
Penulis: Nasaruddin | Editor: Nasaruddin
Kita dipaksa untuk membangun normalitas baru dan melakukan hal-hal yang dianggap tabu selama ini.
Memakai masker, menjaga jarak, tidak bersalaman dan tidak membuat keramaian adalah kebiasaan baru yang dulu dianggap tabu.
Bekerja dari rumah, belajar daring, pendidikan jarak jauh, serta rapat dan sidang secara daring, telah menjadi kebiasaan baru yang dulu kita lakukan dengan ragu-ragu.
Di tengah dunia yang penuh disrupsi sekarang ini, karakter berani untuk berubah, berani untuk mengubah dan berani untuk mengkreasi hal-hal baru, merupakan fondasi untuk membangun Indonesia Maju.
Kita telah berusaha bermigrasi ke cara-cara baru di era Revolusi Industri 4.0 ini, agar bisa bekerja lebih efektif, lebih efisien, dan lebih produktif.
Adanya Pandemi Covid-19 sekarang ini, akselerasi inovasi semakin menyatu dalam keseharian kehidupan kita.
Pakai Baju Adat Baduy
Seperti pidato di tahunan sebelumnya, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) selalu mengenakan baju adat setiap menghadiri Sidang Tahunan MPR.
Tahun ini, Jokowi mengenakan pakaian adat dari Suku Baduy.
Seperti ditayangkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Jokowi mengenakan pakaian serba warna hitam dengan ikat kepala berwarna hitam bercampur biru.
Baju khas baduy yang serba hitam dengan ikat kepala biru tua, biasanya ditenun secara tradisional dari bahan kapas.
Jokowi juga menyampirkan sebuah tas tradisional baduy, yang disebut koja. Koja biasanya digunakan warga Baduy untuk membawa peralatan yang diperlukan saat bepergian.
Tahun sebelumnya, residen Jokowi mengenakan pakaian adat Sabu dari Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sementara itu, Wakil Presiden Ma'ruf Amin Wapres tampak mengenakan pakaian adat Suku Mandar asal Sulawesi Barat.
Wapres mengenakan pakaian dengan perpaduan jas dan celana hitam dengan kain sarung tenun warna merah bercorak khas Mandar yang digunakan sebagai ikat pinggang, serta penutup kepala yang disebut songkok bone.