Bagaimana Peran Penting Sunan Ampel dalam Mengembangkan Islam di Indonesia?
Sunan Ampel, satu di antara Wali Songo punya peran penting dalam menyebarkan Islam di Indonesia.
Penulis: Nasaruddin | Editor: Nasaruddin
Strategi inilah yang menjadikan Islam lambat laun semakin kuat dan mendapatkan dukungan para penguasa.
Sebagaimana Rasulullah SAW menguatkan Islam lewat pernikahannya dengan istri-istri beliau yang berlatar belakang dari berbagai suku dan agama.
Diantara penyiar Islam yang punya hubungan kekerabatan dengan penguasa Majapahit, di antaranya:
a) Raden Rahmat menikahkan Raden Usen dengan putri Arya Baribin, Adipati Madura.
Raden Usen adalah seorang mubalig asal Rusia Selatan dekat Samarkand yang cukup lama ditugaskan sebagai imam dan mengislamkan masyarakat Sumenep, Madura.
b) Syekh Waliyul Islam menikah dengan Putri Retno Sambodi, anak penguasa Pasuruan, Lembu Mirudha atau dikenal dengan Mbah Gunung Bromo.
c) Syekh Maulana Garib dinikahkan dengan Niken Sundari, putri Patih Majapahit bernama Mahodara.
d) Putri Sunan Ampel, Adik Mas Murtosiyah dinikahkan dengan santrinya Raden Paku atau dikenal dengan Sunan Giri, begitu pula putrinya Mas Murtosimah dinikahkan dengan Raden Patah yang menjabat Adipati Demak.
Hubungan dan jaringan kekeluargaan antar penguasa dan penyebar Islam menjadikan agama Islam cepat meluas di berbagai daerah melalui peran para Wali Songo.
• Siapakah Tokoh Penyebar Islam yang Disebut Wali Songo?
2. Melakukan Perubahan Menuju Tradisi Bernilai Keislaman
Masyarakat pesisir utara Jawa adalah masyarakat yang hidup dalam tradisi dan budaya yang turun temurun.
Dalam dakwahnya, Sunan Ampel membawa ajaran Islam yang disampaikan dengan cara-cara damai, moderat, toleran dan menyesuaikan tradisi masyarakat yang telah ada mengandung nilai-nilai Islam.
Sebelum kedatangan para penyiar Islam, orang-orang Majapahit mengenal upacara peringatan terhadap orang mati, disebut sraddha, sebuah upacara peringatan atas kematian seseorang pada tahun ke-12.
Setelah kedatangan penyiar Islam Campa yang dipelopori Sunan Ampel, penduduk Majapahit mulai memperingati tradisi kenduri, dan memperingati kematian seseorang pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, dan ke-1000.
Dalam prakteknya, masyarakat berkumpul mendatangi keluarga yang ditinggal, lalu acara tersebut diisi dengan zikir, tahlil dan doa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/kolase-sunan-ampel-yang-punya-nama-asli-sayid-ali-rahmatullah.jpg)