Arifin Noor Aziz Bawa Desa Pesisir jadi Desa Brilian Se Indonesia

Tujuannya juga membuka lapangan kerja untuk masyarakat untuk bisa mendapatkan pendapatan asli desa melalui pengembangan potensi.

Penulis: Rizki Fadriani | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Rizki Fadriani
Bebincang Spesial "Solusi 13", yang merupakan rangkaian kegiatan HUT ke-13 Tribun Pontianak yang didukung PLN Kalimantan Barat, XL Axiata, EPSON, PT Well Harvest Winning (WHW), Bank Syariah Indonesia, dan PT Cita Mineral Investindo, menghadirkan Desa Sumber Agung, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya Arifin Noor Aziz, SH MH., Rabu 4 Agustus 2021 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Bebincang Spesial "Solusi 13", yang merupakan rangkaian kegiatan HUT ke-13 Tribun Pontianak yang didukung PLN Kalimantan Barat, XL Axiata, EPSON, PT Well Harvest Winning (WHW), Bank Syariah Indonesia, dan PT Cita Mineral Investindo, menghadirkan sosok inspiratif yang mampu memberi gebrakan dan membawa nama desanya kemata nasional dengan menjadi Desa Brilian se-Indonesia.

Sosok tersebut tak lain ialah Kepala Desa Sumber Agung, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya Arifin Noor Aziz, SH MH. Program Desa BRILian merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh Bank Rakyat Indonesia, yang bekerjasama dengan bumdes.id, untuk mengawal kondisi perekonomian desa di Indonesia selama masa pandemi Covid-19.

Arifin menyebutkan, jika Sumber Agung dapat menjadi desa brilian karena memiliki tiga kriteria, yakni tanggap, tangguh, dan inovatif. Tanggap terhadap isu-isu di desa terhadap kekurangan yang ada di desa, tangguh menghadapi seluruh kekurangan di desa dan mampu menjadikan itu sebagai potensi dan mampu memunculkan inovasi maupun ide-ide kreatif yang ada di desa.

"Kata kuncinya keterlibatan masyarakat keterpaduan masyarakat, dan konsep pemerintah desa itu yang baik," ungkapnya Rabu 4 Agustus 2021.

KISAH Winda Seorang Penjual Bensin Eceran di Tengah Zona Merah COVID-19 Kabupaten Kubu Raya

Ia menjelaskan jika program tersebut menyeleksi ribuan desa di Indonesia yang pada mulanya bekerjasama dengan BRI. Dan pada tahun 2018, Desa Sumber Agung telah bekerjasama untuk mesin EDC, dan di tahun 2019 Desa Sumber Agung telah dapat melakukan tarik tunai, transfer dan yang berkaitan dengan perbankan sudah bisa dilaksanakan di desa.

Jika ditarik kebelakang, Desa Sumber Agung pernah mengalami kemarau parah pada 2015 silam, sehingga menyebabkan kekeringan, dan kemarau juga memicu kebakaran hutan yang begitu dahsyat. Ini menyebabkan air bersih sulit diperoleh, dan air bersih di sana dijual dengan harga Rp 25 ribu per galonnya, ini menjadi persoalan yang terus terjadi.

Hingga akhirnya ia mendapat informasi penanggulangan air dari grup penggiat desa secara nasional dengan program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS).

Program ini dilaksanakan Pemerintah Indonesia di kawasan pedesaan dan mendapat dukungan Bank Dunia.

Dan kini Desa Sumber Agung tak perlu merasa khawatir ketika kemarau tiba, karena telah berhasil memanfaatkan air tanah yang kemudian diolah menjadi air bersih.

Terlepas dari pengelolaan air bersih, Desa Sumber Agung juga telah membuat konsep, bahwa ekonomi harus dipegang oleh desa. Ini berkaitan dengan peningkatan ekonomi masyarakat di segala sektor.

Melalui lembaga ekonomi desa dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES), seluruh usaha yang bernilai ekonomi dan tanpa mengesampingkan usaha masyarakat, dipegang oleh BUMDES.

Tujuannya juga membuka lapangan kerja untuk masyarakat untuk bisa mendapatkan pendapatan asli desa melalui pengembangan potensi.

Kini BUMDES telah mengelola penyebrangan kapal dari Sumber Agung ke Seponti Jaya, lalu Sumber Pengelola Air Bersih melalui program Pamsimas, pengelolaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) komunal, kemudian penyedia material bangunan pasir, batu untuk kegiatan desa, dan mesin EDC yang merupakan hasil kerjasama antara pemodal dengan BUMDES.

Selain itu terdapat kebun sawit seluas dua hektar yang merupakan program antara Masyarakat Peduli Api (MPA) sebagai pengelola kegiatan, dan penanggung jawab terhadap ekologi yang ada di desa.

Sehingga mereka dapat mengembangkan hal tersebut untuk mendanai kegiatan operasional dan masih dapat memberikan kontribusi kepada desa melalui BUMDES.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved