Wajah Baru Gua Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan
Dalam kesempatan itu pula, Mgr Agustinus Agus menegaskan bahwa untuk tahun ini, pada Bulan Maria pengunjung di Gua Maria Anjongan akan dibatasi.
Penulis: Stefanus Akim | Editor: Stefanus Akim
CITIZEN REPORTER
Samuel | Staf Komisi Komunikas Sosial (Komsos) Keuskupan Agung Pontianak
TRIBUNPONTIANAK, ANJONGAN - Setiap Bulan Mei, seluruh umat Katolik di dunia mendedikasikan diri untuk menghormati Bunda Maria. Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus mempersembahkan misa pembukaan bulan Maria di Gua Maria Ratu Pencinta Damai, Anjongan, Minggu 2 April 2021.
Kali ini ada yang berbeda dengan kawasan tempat ziarah bagi umat Katolik di Keuskupan Agung Pontianak tersebut. Kawasan Gua Maria tersebut memiliki wajah baru yang lebih tertata, setelah tangan dingin Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus, turun langsung melakukan pembenahan. Kini, kawasan tersebut menjadi lebih tertata, teduh dan menjadi tempat ziarah yang sejuk.
Saat ini, di Kalimantan Barat masih diberlakukan pembatasan aktivitas masyarakat. Untuk mendukung upaya pemerintah memutus rantai penyebaran covid-19, Keuskupan Agung Pontianak, juga melakukan pembatasan aktivitas peribadatan yang berpotensi melibatkan banyak umat.
Untuk itu lah Keuskupan Agung Pontianak memutuskan untuk menutup sementara tempat ziarah Gua Maria Anjongan untuk umum pada bulan Maria, Mei 2021 kali ini.
Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus hadir di Anjongan sejak Sabtu, 1 Mei 2021. Uskup Agung terlihat ikut memantau aktivitas pembersihan Gua Maria menjelang persiapan minggu pertama dalam Bulan Mei, keesokan hari nya. Mgr Agustinus Agus mengungkapkan, Bunda Maria banyak berperan dalam hidupnya.
Maka dari itu, saat ia datang ke Keuskupan Agung Pontianak terutama dalam progres membangun Rumah Retret St Johanes Paulus II, ia merasa tidak pantas kalau tempat ziarah tersebut hanya begitu-begitu saja.
Mgr Agustinus Agus mengatakan walaupun dalam situasi covid-19, dimana orang tak bisa banyak datang, namun dirinya akan memberkati lokasi yang baru dibenahi dan ditata tersebut agar bisa dipakai dengan aman.
Uskup Agung Pontianak menjelaskan bahwa pemberkatan berarti usaha kerja manusia tanpa arti kalau tidak diserahkan kepada Tuhan.
“Jadi saya melihat tempat ini luar biasa dan yang lebih bagus adalah Perawan Maria yang dihadirkan dalam bentuk patung sangat besar pengaruhnya untuk banyak orang,” ujarnya.
Mgr Agustinus Agus mengaku bahwa keindahan dan potensi yang ia lihat itulah yang mendorongnya untuk memperindah tempat ini. Sebagai manusia ia juga mengakui bahwa tentu kegiatan tidak ada yang sempurna dan sebagai Uskup Agung Pontianak, ia mengerti akan hal itu.
“Tapi saya mencoba dengan segala kemampuan saya membuat ini lebih menarik. Sehingga banyak orang yang datang ziarah ke tempat ini, dan banyak orang yang melihat Maria itu berperan sangat besar dalam hidup umat manusia,” katanya.
Ia mengatakan memang ini agak tergesa-gesa misalnya beberapa gazebo yang kurang atap. Namun itu semua bukanlah masalah. “Yang paling penting semua ini saya bangun dengan dukungan umat dan pemerintah untuk didedikasikan, untuk menghormati Bunda Maria, Bunda Tuhan Yesus, Bunda seluruh umat dan Bunda para Imam,” kata Mgr Agistinus Agus.
Misa Pembukaan Bulan Maria
Misa pembukaan bulan Maria yang dipimpin langsung oleh Mgr Agustinus Agus dan didampingi oleh RD Matius yakni Pastor Rekan dari Paroki Sungai Pinyuh, Minggu 2 Mei 2021. Misa awal bulan Maria ini sekaligus pengumuman resmi oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus terkait pembatasan aktivitas di masa pandemi Covid-19, hal itu selaras dengan imbauan dari Pemerintah Kalimantan Barat.
Dalam misa terbatas tersebut, Uskup Agung Pontianak mengharapkan dengan hadirnya pastor baru yakni RD Indra Lubis, ke depan bisa membenahi Gua Maria dengan wajah baru. Apa lagi, kata Mgr Agustinus Agus, Gua Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan adalah Gua Maria keramat dan yang paling tua di Kalimantan Barat. Sebagai Uskup Agung Pontianak ia bertanggung jawab atas Gua Maria yang berdiri sejak 1973 silam.
Dalam momen tersebut Mgr Agustinus Agus katakan sebelumnya lokasi Gua Maria Anjongan merupakan lokasi yang sangat indah. Untuk itu memang perlu pembenahan.
Mgr Agustinus Agus menjelaskan beberapa pembenahan yang baru antara lain altar, kemudian di belakang altar ada tujuh tempayan tempat untuk mengambil air.
Filosofi tujuh tempayan itu Mgr Agus mengambil kisah dari Yesus mengubah air menjadi anggur yakni dalam kisah itu ada tujuh tempayan. “Air yang mengalir dari tempayan mengalir lansung dari pegunungan dan dapat langsung diminum,” kata Mgr Agustinus Agus.
Kemudian Mgr Agustinus Agus juga menjelaskan beberapa pembenahan lainnya antara lain, rumah untuk ruang ganti atau nginap bagi para imam yang akan memimpin misa di Gua Maria.
Di rumah itu terdapat dua kamar, satu kamar untuk tidur, bisa 4 tempat tidur, muat disana. Pada kamar yang satu untuk sakristi, yaitu sebuah ruang untuk menyimpan vestimentum atau pakaian ibadah. Di ruangan tersebut disimpan alba, stola, kasula, dan peralatan yang biasa digunakan saat misa.
Uskup Agung Pontianak berharap, siapapun yang datang ke Gua Maria Anjongan baik pastor tamu maupun imam keuskupan, bisa langsung menggunakan alat yang disediakan. Sehingga jika orang datang ke Gua Maria tanpa membawa apapun, siap untuk misa.
Kemudian pengelolaan kompleks itu dimulai dari pembentukan panitia dalam setiap bulan Maria. “Saya sudah bicara dengan Pastor Indra Lubis, supaya setiap bulan Maria hendaknya dibentuk pantia ziarah yang diharapkan panitia inilah yang mengelola ziarah ini terlaksana,” harap Mgr Agustinus Agus.
Pembatasan Kegiatan
Dalam kesempatan itu pula, Mgr Agustinus Agus menegaskan bahwa untuk tahun ini, Bulan Maria di bulan Mei, pengunjung di Gua Maria Anjongan akan dibatasi. Terkait pembenahan goa maria, ia berharap pantia standby di lokasi. Mgr Agustinus berencana nantinya akan ditambahkan lampu-lampu taman, sehingga setiap minggu pertama bulan, bisa mengadakan Rosario di lokasi Gua Maria.
“Kemudian bersama pastor baru, yaitu Pastor Indra Lubis, pengelolaan Gua Maria termasuk rumah retret semua adalah pastor paroki, termasuk tempat parkir yang di depan,” kata Uskup.
Mgr Agustinus Agus juga perpesan dengan RD Lubis bahwa tempat parkir di depan tidak boleh dipungut biaya, namun hanya boleh sukarela.
Alasannya, kata Mgr Agustinus Agus, jika parkir dipungut biaya harus ada Perda-nya untuk retribusi. Bahkan di gereja besar seperti di Pontianak tidak boleh ada parkir yang dipungut biaya, tetapi diterapkan dengan konsep sukarela.
Di lokasi Gua Maria Anjongan akan dibuat secara permanen tempat derma dan sumbangan-sumbangan. Tempat itu akan dibuat dengan professional, bisa dikunci yang di dalamnya ada plastik dan wadah sehingga tidak akan bisa dibongkar.
Kemudian, sound system sudah dipasang khusus untuk outdoor. Sehingga saat kena hujan pun tak masalah. “Mungkin untuk Gua Maria Anjongan pertama kali kita melihat speaker out door ini, dan ini lansung dipesan dari Surabaya,” ungkap Mgr Agustinus Agus.
Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus mengatakan tentu saja yang permanen dipasang dekat altar dan satunya lagi dekat gua Maria. Harapannya, dengan adanya speaker outdoor setiap bulan Maria panitia bisa memutar lagu-lagu Maria atau lagu rohani. Sehingga saat orang masuk dalam lingkungan Gua Maria, orang sudah terpanggil untuk berdoa.
“Saya rasa ini harusnya sudah umum pada setiap tempat ziarah. Jika kita pergi ke Gua Maria Lourdes, ketika kita masuk pun sudah merasakan suasana doa,” ungkapnya.
Mgr Agustinus Agus juga mengakui memang semua masih perlu pembenahan, kemudian bagian depan akan ditata kembali. Harapannya ke depan ada tempat lilin dan tempat pembakaran intensi. “Agar umumnya setiap orang datang ke Gua Maria selalu ada intensi, maklumlah cara orang berdoa berbeda-beda,” ungkap Uskup.
Untuk bagian belakang patung Bunda Maria, sudah tambah barau sehingga kalaupun hujan besar air tidak merembes ke altar. “Sengaja ini dibuat agak tinggi, karena kadang-karang orang juga mau foto di situ,” tambah uskup.
Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus berharap untuk kedepannya lokasi Gua Maria dan Rumah Retret St Johanes Paulus II Anjongan bisa menjadi wisata rohani. Sehingga dikunjungi bukan hanya sekadar bulan Mei dan Oktober saja melainkan bisa menjadi tempat rohani yang dikunjungi setiap saat..
Maka dari itu terjadi pembenahan secara besar-besaran yang meliputi altar Gua Maria yang dulu atap seng darurat diganti menjadi permanen. Tenda-tenda diganti gazebo sesuai dengan nuansa alam.
Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus juga menambahkan perubahan dan pembaharuan dari hal yang terkecil mulai dari instalasi air, sound system, gazebo, jembatan penghubung, kolam aliran air gunung sampai dengan bangku-bangku yang digunakan.
Usai homili, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus, memberkati altar baru dan rumah singgah Gua Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan. Ia berharap suasana nyaman dan aman, serta kita semua diberkati.
RD Matius dalam sambutannya mengaku senang dan terharu dengan kerjasama baik OMK paroki dan umat dalam persiapan menjelang hari suci Bulan Mei kali ini. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus yang memperhatikan dan memberikan teladan yang konkret kepada umat dan terlebih kepada para imam.
“Saya berharap, apa yang Uskup Agus cita-citakan bisa dilanjutkan dan ke depan tempat ini akan kami fungsikan untuk aktivitas rohani di wilayah paroki,” katanya sembari menutup sambutannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/mgr-agustinus-di-goa-maria-anjongan1.jpg)