Wajah Baru Gua Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan
Dalam kesempatan itu pula, Mgr Agustinus Agus menegaskan bahwa untuk tahun ini, pada Bulan Maria pengunjung di Gua Maria Anjongan akan dibatasi.
Penulis: Stefanus Akim | Editor: Stefanus Akim
Dalam misa terbatas tersebut, Uskup Agung Pontianak mengharapkan dengan hadirnya pastor baru yakni RD Indra Lubis, ke depan bisa membenahi Gua Maria dengan wajah baru. Apa lagi, kata Mgr Agustinus Agus, Gua Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan adalah Gua Maria keramat dan yang paling tua di Kalimantan Barat. Sebagai Uskup Agung Pontianak ia bertanggung jawab atas Gua Maria yang berdiri sejak 1973 silam.
Dalam momen tersebut Mgr Agustinus Agus katakan sebelumnya lokasi Gua Maria Anjongan merupakan lokasi yang sangat indah. Untuk itu memang perlu pembenahan.
Mgr Agustinus Agus menjelaskan beberapa pembenahan yang baru antara lain altar, kemudian di belakang altar ada tujuh tempayan tempat untuk mengambil air.
Filosofi tujuh tempayan itu Mgr Agus mengambil kisah dari Yesus mengubah air menjadi anggur yakni dalam kisah itu ada tujuh tempayan. “Air yang mengalir dari tempayan mengalir lansung dari pegunungan dan dapat langsung diminum,” kata Mgr Agustinus Agus.
Kemudian Mgr Agustinus Agus juga menjelaskan beberapa pembenahan lainnya antara lain, rumah untuk ruang ganti atau nginap bagi para imam yang akan memimpin misa di Gua Maria.
Di rumah itu terdapat dua kamar, satu kamar untuk tidur, bisa 4 tempat tidur, muat disana. Pada kamar yang satu untuk sakristi, yaitu sebuah ruang untuk menyimpan vestimentum atau pakaian ibadah. Di ruangan tersebut disimpan alba, stola, kasula, dan peralatan yang biasa digunakan saat misa.
Uskup Agung Pontianak berharap, siapapun yang datang ke Gua Maria Anjongan baik pastor tamu maupun imam keuskupan, bisa langsung menggunakan alat yang disediakan. Sehingga jika orang datang ke Gua Maria tanpa membawa apapun, siap untuk misa.
Kemudian pengelolaan kompleks itu dimulai dari pembentukan panitia dalam setiap bulan Maria. “Saya sudah bicara dengan Pastor Indra Lubis, supaya setiap bulan Maria hendaknya dibentuk pantia ziarah yang diharapkan panitia inilah yang mengelola ziarah ini terlaksana,” harap Mgr Agustinus Agus.
Pembatasan Kegiatan
Dalam kesempatan itu pula, Mgr Agustinus Agus menegaskan bahwa untuk tahun ini, Bulan Maria di bulan Mei, pengunjung di Gua Maria Anjongan akan dibatasi. Terkait pembenahan goa maria, ia berharap pantia standby di lokasi. Mgr Agustinus berencana nantinya akan ditambahkan lampu-lampu taman, sehingga setiap minggu pertama bulan, bisa mengadakan Rosario di lokasi Gua Maria.
“Kemudian bersama pastor baru, yaitu Pastor Indra Lubis, pengelolaan Gua Maria termasuk rumah retret semua adalah pastor paroki, termasuk tempat parkir yang di depan,” kata Uskup.
Mgr Agustinus Agus juga perpesan dengan RD Lubis bahwa tempat parkir di depan tidak boleh dipungut biaya, namun hanya boleh sukarela.
Alasannya, kata Mgr Agustinus Agus, jika parkir dipungut biaya harus ada Perda-nya untuk retribusi. Bahkan di gereja besar seperti di Pontianak tidak boleh ada parkir yang dipungut biaya, tetapi diterapkan dengan konsep sukarela.
Di lokasi Gua Maria Anjongan akan dibuat secara permanen tempat derma dan sumbangan-sumbangan. Tempat itu akan dibuat dengan professional, bisa dikunci yang di dalamnya ada plastik dan wadah sehingga tidak akan bisa dibongkar.
Kemudian, sound system sudah dipasang khusus untuk outdoor. Sehingga saat kena hujan pun tak masalah. “Mungkin untuk Gua Maria Anjongan pertama kali kita melihat speaker out door ini, dan ini lansung dipesan dari Surabaya,” ungkap Mgr Agustinus Agus.
Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus mengatakan tentu saja yang permanen dipasang dekat altar dan satunya lagi dekat gua Maria. Harapannya, dengan adanya speaker outdoor setiap bulan Maria panitia bisa memutar lagu-lagu Maria atau lagu rohani. Sehingga saat orang masuk dalam lingkungan Gua Maria, orang sudah terpanggil untuk berdoa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/mgr-agustinus-di-goa-maria-anjongan1.jpg)