Breaking News:

Memaknai Takwa Dimasa Pandemi

Guru Senior Ponpes Darul Ulum, Ust Isaidur Rofiq menerangkan, memaknai takwa yang biasa disampaikan para da'i adalah "Imtistalu awamirillah wajtinabu

TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Guru Senior Ponpes Darul Ulum, Ust Isaidur Rofiq 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Bulan Ramadan adalah bulan yang mulia dimana didalamnya setiap perbuatan jika disandarkan kepada Allah SWT akan dicatat sebagai ibadah kepadaNya yang dijanjikan pahala yang berlipat ganda. 

Allah SWT mewajibkan kepada orang yang beriman untuk melaksanakan puasa agar menjadi orang yang bertakwa.

Guru Senior Ponpes Darul Ulum, Ust Isaidur Rofiq menerangkan, memaknai takwa yang biasa disampaikan para da'i adalah "Imtistalu awamirillah wajtinabu nawahihi" menjalankan segala perintah Allah dan berusaha meninggalkan semua laranganNya. 

Akan tetapi jika disederhanakan makna takwa mengandung dua indikator ketercapaian yaitu bagaimana berbuat baik kepada Allah dan selanjutnya adalah bagaimana berbuat baik kepada sesama manusia.

Baca juga: Beriktikaf Untuk Mendapat Pahala dan Mengikuti Sunah Nabi Muhammad

"Memaknai takwa dalam arti berbuat baik kepada Allah SWT di bulan Ramadhan ini bisa di implementasikan dengan cara berpuasa dengan menahan lapar dan dahaga mulai dari terbitnya fajar sampai dengan terbenamnya matahari," ujarnya, Rabu 28 April 2021.

"Selain itu, untuk menambah nilai-nilai pahala yang berlipat ganda Rasulullah Saw mengajarkan untuk banyak melakukan pekerjaan Sunnah mulai dari Iktikaf, salat tarawih, salat witir, qiyamullail, tadarus dan memperbanyak berzikir kepada Allah dan bersalawat kepada Nabi Muhammad Saw," tambahnya.

Lanjut diungkapkannya, mewujudkan takwa kepada Allah ini selama masa pandemi Covid-19 mudah diimplementasikan oleh umat muslim karena bisa dikerjakan dirumah bagi daerah yang zona merah dan bisa berjamaah di masjid atau musala bagi daerah yang diperbolehkan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Kemudian memaknai takwa dalam arti berbuat baik kepada sesama manusia di bulan Ramadan ini bisa diimplementasikan dengan menjaga saudara kita, kerabat kita, tetangga kita dan orang-orang yang ada disekitar kita dari kejahatan lisan dan tangan kita. 

Maka Rasulullah Saw telah mengingatkan kita dalam haditsnya ”Kam Min Sho-Imin Laisa Lahu - Min Shiyaamihi  Illal Ju-’u Wal  ’Athsyu”

(Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga), artinya selama Meraka berpuasa tetapi mulutnya masih suka ghibah, memfitnah, berbicara yang kotor, begitu juga tangannya masih suka menyakiti saudaranya, maka nilai-nilai yang terkandung didalam puasa sirna dan tidak berbekas sehingga tidak mendapatkan apa-apa. 

Jika perbuatan di atas kita lakukan, maka tidak ada jalan selain meminta maaf kepada orang yang kita dzolimi, bahkan Allah tidak akan mengampuni dosa yang berkaitan dengan anak Adam sebelum orang tersebut meminta maaf terlebih dahulu kepada orang yang di dzolimi.

"Makna takwa berbuat baik kepada sesama manusia ini jika kita langgar, maka orang yang berpuasa harus meminta maaf secara langsung kepada orang yang di dzolimi," tuturnya. (*)

Penulis: Ridho Panji Pradana
Editor: Hamdan Darsani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved