Dampak Relaksasi PPnBM, Anzon Toyota Akui Peningkatan Penjualan Namun Terkendala Suplai
Hanya saja yang jadi masalah pemesanan tinggi tidak diimbangi dengan suplai. Artinya untuk produksi itu bisa memerlukan waktu 3 bulan.
Penulis: Nina Soraya | Editor: Nina Soraya
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Relaksasi Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) nol persen yang berlaku sejak awal Maret 2021 kemarin, memberikan dampak begitu signifikan terhadap penjualan unit Toyota di Anzon Toyota.
Dirut Anzon Toyota Drs LT Susanto membenarkan dampak relaksasi PPnBM memang meningkatkan penjualan yang mulai terasa pada Maret 2021 lalu.
• Berkah Pelanggan Anzon Toyota Peroleh Undian Sepeda Motor
“Kenaikan di atas 100 persen. Misalnya begini, biasanya kita jual 100 unit maka bisa menjual lebih dari 100 malah 200,” ungkapnya saat ditemui tribunpontianak.co.id, Kamis 22 April 2021.
Hanya saja yang jadi masalah pemesanan tinggi tidak diimbangi dengan suplai. Artinya untuk produksi itu bisa memerlukan waktu 3 bulan.
“Jadi konsumen pesan sekarang, barangnya baru ready 3 bulan mendatang,” ujarnya.

Skema PPnBM nol persen yang digunakan adalah skema ditanggung pemerintah (DTP). Dengan ditetapkannya PPnBM nol persen untuk mobil, artinya pajak ditanggung pemerintah.
• Daftar Mobil Bebas PPnBM 2021 ! Harga Mobil Baru Bisa Murah , Cek Daftar Mobil Penerima Insentif
Apabila pajak ini dihilangkan atau menjadi nol persen, artinya harga mobil yang ada di pasaran akan turun.
Berdasarkan laporan ada beberapa model mobil Toyota yang yang mendapatkan relaksasi PPnBM Nol Persen, yaitu Yaris, Vios, Avanza, Rush, Sienta.
“Yang paling laku itu Rush, Avanza, termasuk juga Yaris. Bahkan Sienta yang kurang diminati saja sekarang malah laku,” katanya.
Susanto menjelaskan kebijakan ini sangat baik, hanya saja pabrik dalam memenuhi permintaan juga punya kapasitas.
• TOYOTA New Yaris Resmi Meluncur di Indonesia, Langsung Diskon! | Radius Putaran Dibuat Lebih Pendek
“Misalkan pabrik yang biasanya produksi 100 unit, sekarang karena permintaan besar jadi mesti produksi 150-200 unit, tapi main power tidak ada ya gak bisa. Pabrik juga mesti rekrut orang untuk bekerja, padahal tidak mungkin merekrut orang bekerja hanya 1-2 bulan saja hanya karena permintaan lagi tinggi sekarang. Rekrut itu harus 6-12 bulan,” jelasnya.
Masalah lainnya, kata Susanto, adalah saat ini sejumlah proses produksi otomotif atau kendaraan global tengah mengalami hambatan. Hambatan itu datang dari adanya kelangkaan chip atau semikonduktor.
• JUARA Toyota Thailand Open 2021 - 5 Negara Berbagi Gelar, Eropa Kuasai Tunggal dan Asia di Ganda
Susanto berharap durasi kebijakan ini lebih panjang atau tidak hanya tiga bulan atau paling tidak berlangsung selama 6 bulan untuk kebijakan tanggungan 100 persen PPnBM oleh pemerintah.
Pada periode Maret-Mei, pemerintah akan menanggung 100 persen PPnBM sebesar.
Selanjutnya, pada Juni-Agustus, konsumen hanya perlu membayar 50 persen PPnBM, dan September-November konsumen membayar 75 PPnBM dari nilai jual kendaraan bermotor (NJKB).
• Polsek Sungai Tebelian Bersama Anzon Sintang Bagikan Takjil dan Masker