Ramadan 2021
Mengapa Taqwa Sebagai Tujuan Dari Ibadah Puasa?
Berdasarkan ilustrasi dan janji Allah untuk orang yang bertakwa-melalui firman-Nya di atas, tentunya terlihat bahwa Allah menginginkan orang yang berp
Penulis: Muhammad Luthfi | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Puasa pada umumnya didefinisikan dengan menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa, baik berupa memperturutkan syahwat, perut dan farji (kemaluan) dari sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat khusus.
Dengan defenisi tersebut, seolah-olah puasa hanya berusaha menahan diri, ‘berdiam diri’ untuk memaksimalkan, menjaga dan memelihara puasa dari hal-hal yang dapat membatalkan ibadah puasa tersebut.
Padahal jika kita lihat esensi dan output dari perintah puasa (Qs. Al-Baqarah [2] : 183) adalah untuk menjadikan atau mencetak insan yang bertakwa.
Pertanyaannya, mengapa Allah Swt. Me-label-kan derajat takwa bagi orang yang berpuasa, kenapa tidak sebagai orang yang beruntung, orang-orang yang shaleh dan yang senanda lainnya? Karena sesungguhnya takwa merupakan derajat tertinggi di sisi Allah Swt.
Di dalam al-Qur`an banyak sekali keistimewaan-keistimewaan yang Allah janjikan bagi orang-orang yang bertakwa, di antaranya : Dipandang sebagai orang yang mulia di hadapan Allah Swt (Qs.Al-Hujurat [49] : 13) ; Diberikan kemudahan dan jalan keluar dari permasalahan hidup (Qs. Ath-Thalaq [65] : 2-3) ; Dihapus segala kesalahannya dan dilipatgandakan pahalanya (Qs. Ath-Thalaq [65] : 5) ; Dijauhkan dari api neraka (Qs. Al-Lail [92) : 17) ; dan dimasukkan ke dalam surga yang penuh kenikmatan (Qs. Az-Zumar [39] : 73) .
Baca juga: Jadikan Ikhlas Sebagai Permadani untuk Menggapai Taqwa
Berdasarkan ilustrasi dan janji Allah untuk orang yang bertakwa-melalui firman-Nya di atas, tentunya terlihat bahwa Allah menginginkan orang yang berpuasa menjadi pribadi yang ‘takwa’ adalah sesuatu yang sangat tepat mengingat begitu benyak keutamaan yang Allah janjikan bagi mereka yang bertakwa tersebut.
Namun, apakah cukup untuk menjadi pribadi yang takwa tersebut hanya dengan “berdiam diri” dan menahan dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa sebagaimana definisi sederhana di atas? Coba perhatikan Qs. Ali Imran [3] : 133-134 bahwa Allah menyiapkan surga seluas langit dan bumi bagi mereka yang bertakwa, yakni mereka yang senantiasa ingat dan empati terhadap sesamanya, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, membantu baik dengan materi maupun energi, selalu berbuak baik dan saling-maaf memaafkan.
Dengan demkian, jelas bahwa untuk menghantarkan kepada derajat takwa yang terbaik khususnya bagi orang-orang yang berpuasa, tentunya tidak cukup hanya dengan berusaha menahan diri dari segala yang dapat membatalkan puasa yang dijalani, tetapi juga harus diikuti dengan upaya membagun keshalehan pribadi dan keshalehan sosial-islami, yakni saling berbagi dan memberi sesuai dengan keadaan yang ada pada diri pribadi masing-masing.
Baca juga: Rudi: Sholat Tarawih di Masjid At-Taqwa Mempawah Tetap Menerapkan Prokes
Jadi, realisasi ibadah puasa yang dapat menghantarkan ke derajat takwa yang tertinggi dan terbaik tidak terlepas dari tiga hal berikut:
Pertama: Puasa sebagai intensi-realisasi antara manusia dengan Allah Swt. dalam berpuasa, kita juga dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah lainnya, termasuk seperti berdzikir, memperbanyak doa, membaca al-Qur`an, dan ibadah sunnah lainnya, karena momentum Ramadhan dan saat berpuasa termasuk waktu terbaik untuk meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah Swt.
Hal ini telah terekam dalam banyak riwayat bahwa Allah memberikan perhatian khusus bagi mereka yang berpuasa,termasuk dalam amalan-amalannya. Di antara Allah akan “Menghapus dosa-dosa (kecil) bagi yang berpuasa, mengambulkan doa-doa mereka, bau mulut orang yang berpuasa akan seharum bau minyak kasturi di akhirat, dan bakan Allah Swt.
Melegitimasi-berdasarkan ilustrasi dari sabda Rasulullah Saw. bahwa Allah sendiri yang langsung memberikan pahala bagi mereka yang berpuasa (Hr. Bukhari-Muslim).
Kedua: Puasa sebagai upaya membagun relasi baik antara diri pribadi dan hati nurani. Artinya bahwa dalam berpuasa tentunya kita dituntut untuk senantiasa lebih berhati-hati dalam menata hati dan pikiran kita, baik dalam setiap ucapan-perkataan serta tindakan yang kita lakukan.
Jadi jangan sampai-misal dalam keadaan berpuasa kita malah mengotori lisan dan perbuatan kita dengan perkataan dan tindakan yang kurang baik, seperti: mengumpat, mencela, berbohong, merampas hak orang lain serta tindakan lainnya yang dapat menyakiti hati dan perasaan mereka.
Baca juga: Amalan amalan Utama Pada Bulan Ramadhan, Amalan Diampuni Dosa Hingga Banyak Pahala
Karena untuk memaksiamalkan pahala dari ibadah puasa yang kita lakukan, tidak cukup hanya menjaga diri dari hal yang dapat membatalkannya saja, namun juga harus diikuti dengan menjaga diri dari hal-hal yang dapat mengurangi pahala dari ibadah puasa yang kita lakukan tersebut, sehingga dalam satu Riwayat dikatakan bahwa “Puasa adalah separuh kesabaran” (Hr. Ibnu Majah).