Breaking News:

Ramadan 2021

Jadikan Ikhlas Sebagai Permadani untuk Menggapai Taqwa

Mereka tak sungkan-sungkan untuk berbagi rezeki kepada siapa saja yang membutuhkan. Semua itu mereka lakukan demi meraih keridhoan Sang Pencipta yang

Penulis: M Wawan Gunawan | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Septian Utut Sugiatno, M.Pd, staf pengajar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Alhamdulillah Bulan Ramadan sudah tiba. Pesonanya membuat semesta bergemuruh menyambutnya. Seolah ingin mengiatkan kepada seluruh umat Islam bahwa Tamu Agung memberikan begitu banyak keberkahan dan kemuliaan.

Oleh karenanya sebagian besar umat Islam sadar akan kesempatan langka ini, bahkan banyak di antara mereka rela bekerja keras menggapai ridho Allah dengan bersujud di hadapan-Nya di sepertiga malam dan melantunkan ayat-ayat-Nya setiap pagi hingga petang.

Mereka tak sungkan-sungkan untuk berbagi rezeki kepada siapa saja yang membutuhkan. Semua itu mereka lakukan demi meraih keridhoan Sang Pencipta yang endingnya mendapat predikat takwa.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183). Ayat ini mengandung banyak pelajaran berharga berkaitan dengan puasa yang dijalani selama Bulan Ramadan.

Intisari yang cukup populer dari ayat ini yaitu tujuan dari puasa itu sendiri agar kamu bertakwa. Jelas di sini Allah memberi pandangan masif, apabila kita bersungguh-sungguh dalam beribadah dan hanya mengharap ridha Allah SWT, maka kita akan menjadi insan bertakwa.

Baca juga: Seorang Wanita Posting Foto Selfie Dimedia Sosial Apakah Berdosa? Begini Penjelasannya

Dalam Al-Quran tidak kurang dari 208 ayat terkait dengan takwa. Seperti di surat Al Baqarah: 3, 177, 183. Surat Ali Imran: 17, 134. Surat Az-Zariyat: 17-19. Namun secara umum pengertian takwa seperti yang diterangkan dalam QS. Al Baqarah: 2-3: Mereka yang bertakwa yaitu beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki.

Selanjutnya orang yang bertakwa yaitu orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu sebelum fajar (QS. Ali Imran: 17). Berikutnya orang yang bertakwa yaitu orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.

Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan (QS. Ali Imran: 134). Dari beberapa ayat di atas dapat disimpulkan bahwa orang bertakwa yaitu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat, nabi-nabi, kitab-kitab, dan kehidupan akhirat, mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa, dan haji, serta sabar, menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain, menepati janji, senantiasa berbuat kebaikan.

Memang untuk meraih derajat takwa tidaklah mudah. Butuh perjuangan, pengorbanan, dan kerja keras. Namun Allah tidak tidur. Ia mengetahui usaha yang dilakukan oleh hamba-Nya. Dia akan menilai, menentukan, dan memustuskan apa yang terbaik dan layak bagi hamba-Nya.

Usaha erat kaitannya dengan keikhlasan. Sebab dengan keikhlasan segala hal yang kita lakukan dapat bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Justru dari keikhlasan pula Allah akan jauh lebih mudah dalam menilai, menentukan maupun memutuskan yang terbaik bagi hambanya.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Nabi SAW bersabda: “Barang siapa yang melaksanakan puasa Ramadan dengan keimanan dan keikhlasan, maka diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu”. (Hadis Shahih, Riwayat Bukhari: 37 dan Muslim: 1266).

Setiap muslim yang melaksanakan puasa, membaca Al-Qur’an, qiyamul lail, dan sedekah di Bulan Ramadan hanya mengharap ridho Allah, maka seluruh amal tersebut didasari dengan keikhlasan. Dalam momen ini seluruh hal telah didesain sedemikian rupa oleh-Nya.

Buktinya pintu surga dibuka selebar-lebarnya, neraka ditutup rapat-rapat, dan setan-setan dibelenggu. Inilah saatnya keikhlasan menjadi permadani yang membantu kita menelusuri bulan pendidikan, pelatihan, pelajaran yang disediakan oleh Sang Khalik.

Kini, semua ada di tangan kita. Memilih untuk ikhlas atau justru ‘pura-pura ikhlas’? Yakinlah, hatimu sendiri yang layak menjawab. Karena hati akan memihak kepada pemilik yang hakiki. (One)

Penulis adalah Septian Utut Sugiatno, M.Pd, staf pengajar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved