Infrastruktur Sebabkan Ongkos Kirim Sembako Mahal di Sintang
Distribusi sembako lewat jalur sungai juga beresiko. Selain biaya sewa transportasi sungai mahal, resiko tenggelam juga harus siap dihadapi.
Penulis: Agus Pujianto | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Kepala Perum Bulog Sub Drive Sintang, Fendi Kurniawan mengungkapkan infrastruktur menjadi kendala utama dalam pendistribusian sembako ke sejumlah kecamatan di Kabupaten Sintang.
Infrastruktur jalan yang belum laik, tidak hanya menyebabkan resiko pengiriman, tapi juga biaya ongkosnya.
“Kendalanya ongkos untuk mengantarkan barang mahal. Biaya paling mahal cuma ongkos pengiriman mengantar barang dengan harga murah agak susah. Harga di Sintang sudah lumayan standar, kalau sampai ke kecamatan lumayan besar,” kata Fendi, Selasa 30 Maret 2021.
Distribusi sembako lewat jalur sungai juga beresiko. Selain biaya sewa transportasi sungai mahal, resiko tenggelam juga harus siap dihadapi.
Baca juga: Nekat Masukan Susu Formula Kedalam Rok, Komplotan Pengutil Minimarket di Sintang Diamankan Polisi
“Resiko besar kalau lewat sungai. Pernah kejadian tenggelam, sudah lama. Barang kita antar basah, rusak, kembali lagi, biaya sewa perahu mahal juga,” ujarnya.
Transportasi darat juga sulit dijangkau, apalagi jika musim penghujan.
Seperti yang pernah terjadi di wilayah perbatasan ketungau hulu, stok sembako menipis. Sementara akses jalan rusak berat menyebabkan pengiriman sembako terhambat.
“Barang nginap di jalan, truk kami seminggu di sana. Selain itu, tidak ada kendala. Kita selau koordinasi dengan disperindag, ketika ada kebutuhan untuk melakukan pengiriman sembako,” katanya.
Fendi mengatakan, stok cadangan beras di Kabupaten Sintang, sangat aman, termasuk komoditas lain.
Stok beras di gudang saat ini, masih ada 540 ton.
“Kita harus punya stok beras cadangan 3 bulan kedepan harus ada, ditambah dengan cadangan beras pemerintah untuk kabupaten 100 ton. Komoditas lain misalnya gula, daging, minyak tergantung penugasan, kalau memang ada penugasan kami datangkan dari pusat. Selama ini belum pernah alhamdulllah belum ada krisis pangan kecuali di ketungau, terjadi kelangkaan karena akses jalan putus, bukan karena kelangkaan barang. Bisa dibilang ketahanan pangan cukup,” ujarnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/kepala-perum-bulog-sub-drive-sintang-fendi-kurniawan-303.jpg)