Belum Ada Penambahan Kasus Positif Corona Kluster Gowes dan BPN di Sintang
Pada Jumat lalu, Bupati Sintang Jarot Winarno mengumum rekor baru kasus konfirmasi kumulatif mingguan di Kabupaten Sintang, mencatatkan rekor tertingg
Penulis: Agus Pujianto | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, Harysinto Linoh menyatakan hingga Minggu 28 Maret 2021, belum ada tambahan kasus konfirmasi dari kluster Gowes dan BPN.
Namun sebaliknya, ada 10 pasien sembuh pada Sabtu, 27 Maret 2021.
"Belum ada penambahan kasus konfirmasi. 18 penambahan kasus baru per 27 Maret, kasus konfirmasi sebelumnya," kata Sinto.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Dinkes Sintang, pada Sabtu 27 Maret 2021, ada 107 pasien yang menjalani perawatan di RSUD Ade M Djoen Sintang.
Total kasus konfirmasi 886 dan 771 pasien dinyatakan sembuh dan delapan kasus kematian.
Hingga saat ini, sudah 9839 spesimen yang diperiksa. 9055 dinyatakan negatif.
Baca juga: Kluster Sepeda dan BPN di Sintang, Kadiskes Kalbar Minta Pejabat Beri Contoh dalam Penerapan Prokes
Pada Jumat lalu, Bupati Sintang Jarot Winarno mengumum rekor baru kasus konfirmasi kumulatif mingguan di Kabupaten Sintang, mencatatkan rekor tertinggi sepanjang pandemi Covid-19 masuk di Kabupaten Sintang.
Sepanjang minggu ke 4 bulan Maret 2021, tercatat 94 kasus konfirmasi. Angka ini menjadi rekor baru kasus konfirmasi mingguan tertinggi di Kabupaten Sintang, setelah sebelumnya pernah tercatat 63 kasus konfirmasi perminggu bulan Januari 2021 pasca libur Natal dan Tahun Baru.
"Ini kita pertama kali dalam satu minggu ditemukan 94 kasus konfirmasi. Luar biasa," kata Jarot.
94 kasus konfirmasi ini didominasi kluster Gowes sebanyak 35 orang, dan kluster kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Sintang, sebanyak 18 orang.
Baca juga: Kasus Konfirmasi Corona Melonjak, RSUD Sintang Tambah Ruang Perawatan
"Minggu lalu, 94 kasus, dominasi oleh cluster gowes, sepeda yang juga ditambah oleh cluster rumah ibadah. Karena grup gowes ini sembahyang di satu tempat yang sama. Lalu kluster kantor BPN ditambah perorangan," ungkap Jarot.
Berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi, baik kluster gowes maupun BPN, pelaku perjalanan diduga menjadi faktor utamanya.
"Gowes sederhana, tapi kan dia berkerumun dekat-dekat. Satu kena, udah menular. Jadi, kasus indeksnya yang pertama kali menular kluster gowes 35 orang itu, baru pulang dari pontianak. Jadi kurangi mobilitas, kalau ndak perlu ke pontianak, ndak usah. Kegiatan olahraga yang menyehatkan saja ternyata bisa jadi sumber penyebaran penyakit, karana tadi kumpul rame-rame," jelas Jarot.
Selain kluster BPN dan Gowes, ada pula kluster rumah ibadah. Jarot menyebut, banyak pemuka agama di Kabupaten Sintang, yang terpapar corona, bahkan ada yang sampai meninggal dunia.
Menurut Jarot, mutasi genetik virus sudah banyak terjadi. Bahkan kluster Gowes ini termasuk kategori ganas.
"Pernah sampai ganas langsung phenemoni. Yang sekarnag gowes ini termausk yang ganas karena ada yang langsung meninggal dunia. Ada yang lgsung sesak nafas. Kita harus hati hati," tegasnya. (*)