Kenapa Malam Gelap dan Siang Hari Terang?
Saat melakukan rotasi, maka beberapa daerah atau tempat di Bumi akan menghadap matahari, ada yang menbelakangi matahari, dan beberapa diantara keduany
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Terjadinya siang dan malam adalah dampak dari perputaran bumi pada porosnya yang disebut rotasi bumi.
Bentuk Bumi sama dengan planet yang lain, yaitu bulat.
Saat melakukan rotasi, maka beberapa daerah atau tempat di Bumi akan menghadap matahari, ada yang menbelakangi matahari, dan beberapa diantara keduanya.
Daerah di Bumi yang menghadap Matahari tentu akan terang, karena terkena sinarnya sehingga mengalami fenomena siang.
Baca juga: Bagaimana Proses Terjadinya Hujan di Permukaan Bumi?
Sedangkan daerah di Bumi yang membelakangi Matahari akan gelap karena tidak terkena sinar, sehingga terjadi fenomena malam.
Dengan mengelilingi matahari dan Bumi melakukan rotasi, maka terjadilah siang dan malam di Bumi.
Perlu diketahui, Matahari masuk dalam kategori bintang.
Matahari memiliki energi yang lebih besar dibandingkan benda langit lainnya di tata surya.
Baca juga: Cara Memanfaatkan Air Hujan - Kunci Jawaban Tema 6 Kelas 3 Halaman 189 sampai 195 Buku Tematik SD/MI
Seperti bintang, matahari memproses energi yang sangat besar dengan mengubah hidrogen menjadi helium.
Di dalam bintang terjadi reaksi fusi atau bergabungnya hidrogen menjadi helium dan bergabungnya helium menjadi materi-materi lain.
Energi yang dihasilkan akibat penggabungan inilah yang menjadi sumber energi bintang sehingga mereka bisa bersinar.
Rotasi bumi ke timur mengakibatkan perubahan siang dan malam.
Saat sinar matahari mengenai sebagian bumi, saat itulah dinamakan siang.
Proses bulan bersinar di malam hari Bulan bukan termasuk bintang, sehingga tidak dapat bersinar dengan sendiri.
Bulan tersusun dari material yang mirip seperti Bumi, yaitu lapisan batuan luar yang disebut mantel dan inti yang sebagian besar terbuat dari besi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/suasana-matahari-terbenam-di-pantai-kura-kura-kabupaten-bengkayang.jpg)