Di Rakornas Perpusnas, Gubernur Ganjar Pranowo Paparkan Strategi Pembangunan Perpustakaan di Jateng

Budaya baca orang Indonesia dalam ukuran internasional, dikatakan masih relatif rendah. Namun Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando membantah hal itu

Penulis: Stefanus Akim | Editor: Stefanus Akim
IST/Perpusnas RI
GUBERNUR Jateng, Ganjar Pranowo, memaparkan strategi Provinsi Jateng dalam pembangunan perpustakaan saat hadir sebagai pembicara di Rakornas Perpusnas RI di Jakarta, Senin 22 Maret 2021. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Budaya baca orang Indonesia dalam ukuran internasional, dikatakan masih relatif rendah. Namun Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando sudah berkali-kalin membantah temuan itu.

Menurut Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando, orang Indonesia tak malas membaca. “Hanya, ketersediaan buku yang masih kurang. Juga ditambah dengan keterlibatan para kepala daerah yang belum menjadikan literasi sebagai prioritas utama dalam belanja daerah,” kata Muhammad Syarif Bando, dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Perpustakaan tahun 2021, pada hari ke-1, Senin 22 Maret 2021, seperti dalam rilis yang dikirim ke redaksi Tribun Pontianak.

Sementara itu Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dalam pemaparan materinya pada hari pertama Rakornas Perpusnas ini menekankan bahwa pemerintah daerah terus mendorong lahirnya kesadaran membaca dan budaya literasi, melalui Undang-undang No 43 Tahun 2007 pasal 8, yang sudah mengatur mengenai kewajiban Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota.

Menurut Ganjar Pranowo, kewajiban itu diantaranya menjamin penyelenggaraan dan pengembangan perpustakaan di daerah, menjamin ketersediaan layanan perpustakaan secara merata, menjamin kelangsungan penyelenggaraan dan pengelolaan perpustakaan, memfasilitasi penyelenggaraan perpustakaan di daerah dan mengembangkan perpustakaan umum daerah berdasar kekhasan daerah sebagai pusat penelitian dan rujukan tentang kekayaan budaya daerah.

“Maka, Provinsi Jawa Tengah menaruh beberapa prioritas yakni pembangunan manusia melalui pengurangan kemiskinan dan peningkatan pelayanan dasar, pemerataan layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial, pemerataan layanan pendidikan berkualitas, penguatan literasi untuk kesejahteraan, Jateng literasi informasi terapan dan inklusif, juga pendampingan masyarakat untuk literasi informasi,” kata Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

KEPALA Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Muhammad Syarif Bando, memberikan keterangan pers terkait Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Perpustakaan 2021, Senin 22 Maret 2021. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Staf Ahli Bidang Pemerintahan Kementerian Dalam Negeri, Suhajar Diantoro yang mewakili Mendagri Tito Karnavian.
KEPALA Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Muhammad Syarif Bando, memberikan keterangan pers terkait Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Perpustakaan 2021, Senin 22 Maret 2021. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Staf Ahli Bidang Pemerintahan Kementerian Dalam Negeri, Suhajar Diantoro yang mewakili Mendagri Tito Karnavian. (IST/Perpusnas RI)

Ganjar Pranowo, menjelaskan, Jawa Tengah juga giat dalam gerakan revolusi mental, untuk membangun jiwa merdeka menuju bangsa Indonesia yang besar, sesuai Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 12 tahun 2016, tentang gerakan nasional revolusi mental. Didalamnya terdapat beberapa pikiran pokok untuk membangun jiwa yang merdeka, mengubah cara pandang, pikiran, sikap dan perilaku agar berorientasi pada kemajuan dan hal-hal yang modern.

Ia melihat bahwa perpustakaan hari ini memang sudah wajib tampil secara modern, karena kemajuan perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi dengan pengembangan perpustakaan merupakan tuntutan masyarakat sekaligus kebutuhan zaman.

Menurutnya, secara umum, potret perpustakaan digital terkini ada pada titik belum adanya konsep rancang bangunan perpustakaan digital. Termasuk tingkat kemudahan dalam konsep aksesbilitas, juga manajemen dan kebijakan perpustakaan digital.

“Mau tidak mau, kita pindah. Kita bergeser. Rasanya anak-anak sekarang lebih mudah dan lebih cepat, apalagi kita sedang pandemi. Mereka bisa belajar, main game dan belajar apapun dengan cepat. Anak-anak sekarang bisa menerobos kemana saja. Tugas kita adalah infrastruktur dan rancang bagunan harus kita siapkan,” tegas Ganjar Pranowo.

Jawa Tengah menjalankan strategi pembangunan perpustakaan melalui beberapa gerakan, antara lain dukungan kebijakan, mulai dari anggaran hingga tim sinergi. Selanjutnya, Ganjar membuat i-Jateng, juga optimalisasi media sosial sebagai media kampanye.

“Dinas-dinas di Jateng saya dorong untuk punya medsos, dan diusahan verivite, centang biru. Soal buku, kita sudah harus siapkan e-book, termasuk banyak aplikasi yang mengembangkan membaca buku tidak hanya di-scrol, tapi juga bisa membukanya per halaman, seperti membaca buku fisik,” kata Ganjar Pranowo.

Sang Gubernur juga memastikan bahwa ia adalah salah satu pribadi yang sangat suka membaca, dan ia sudah sangat lama berteman dengan buku. Maka tak heran jika ia selalu suka jika secara pribadi maupun Pemerintah Jawa Tengah harus mencari buku untuk maksud pembudayaan budaya baca ini.

“Saya itu paling suka dimintain buku. Pasti saya cariin. Kadang saya kontak penerbit untuk minta buku. Mereka punya banyak stok yang bisa dibeli dengan diskon dan bahkan banyak yang menghibahkannya. Kita bisa bantu teman-teman supaya bisa mendapatkan buku baru,” sambung Ganjar Pranowo.

Secara khusus pada masa pandemi ini, kata Ganjar Pranowo, Jawa Tengah tak berhenti menyuarakan gerakan literasi dan budaya baca, tentu melalui saluran daring, melalui beberapa gerakan seperti Ruang Belajar Modern, kursus daring gratis yang diadakan oleh perpustakaan provinsi Jawa Tengah, juga membaca melalui i-jateng.

“Bosan berkegiatan di rumah, ayo ikut kursus online di Perpustakaan Provinsi Jateng. Meski selama pandemi ini kita mengaturnya lebih ketat,” ajak Ganjar Pranowo.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved